
Awan bersenandung riang mengikuti suasana hati turun dari motor melepas helm. Usaha mengagumi dalam diam akhirnya bisa kesampaian setelah dua tahun. Perantaranya yang kurang bagus. Masa iya mereka jadi dekat karena setan.
"Gak apa-apa. Dulu gue hebat bet bisa jagain Mira. Sekarang Putri. Ihh, gilaa makin cakep gue selama dua tahun ngendep di rumah."
Melihat ketampanan sendiri di spion motor adalah sebuah kebanggaan tersembunyi.
*
Bersamaan dengan kepulangan Mira dia dengar barusan Awan sebut nama perempuan.
"Siapa Putri?"
Awan kaget. "Woah! Bukan siapa-siapa!"
Mira tahu gelagatnya merahasiakan sesuatu. Padahal jelas-jelas Awan menyebut nama Putri.
"Reaksi lo mencurigakan."
"Lo salah denger kali. Putri siapa? Putri kadal?" Awan tergelak sendiri.
"Kenapa tanya gue?" Mira mana tahu Putri bagaimana bentukannya. "Buruan masuk, mau maghrib. Oh iya, nanti anterin gue ke kontrakan Juan."
"Juan gak tinggal di rumah ini?" Awan merentangkan tangan, di belakangnya tepat rumah kakek. Dia bahagia prediksinya salah. "Ngontrak di mana?"
Mira baru tahu Awan sebahagia itu Juan tidak satu rumah. Namun sepertinya peluang bertemu masih besar.
"Di mana lagi? Sebelah kita ada rumah kosong."
Awan spontan nengok ke rumah yang dua tahun kelihatan sepi, cuma lampunya saja yang kadang dinyalakan tiap sore.
"Di rumah gede itu?"
Mira menganggukkan kepala. "Iya. Jangan lama-lama di luar." Ia masuk buat mandi sekaligus bikin lauk buat makan malam.
"Goblok, gue kira seenggaknya ngontrak beda RT." Awan menonjok angin kayak cacing kepanasan sambil lihat rumah sebelah.
"Ngapain lo joget di sini?" Jefri datang menyusul menyaksikan keanehan Awan menjelang maghrib.
"Jef, gimana dong? Gue gak ikhlas tetanggaan sama Juan." Awan memegangi tangan Jefri, merengek tidak suka Juan.
"Kita bahkan serumah di Bogor," pungkas Jefri.
Awan bersikap kekanakan, mengadu ke Jefri. "Ngapain dateng ke sini gak bilang jadi guru di sekolah gue. Mau di taruh di mana muka gue, Jefri!"
"Lo taruh di ****** gue bodo amat." Jefri menjauhkan diri dari Awan. "Ini sebabnya lo kudu masuk sebelum maghrib. Sekarang tingkah lo setara kayak setan, gangguin orang lagi capek."
Awan memandang sendu kepergian Jefri setelah belum lama ditinggal Mira.
Juan sialan. Kedatangan pria itu sejak dulu bagaikan malapetaka untuknya. Sudah betul dia ngajar anak kecil di tempat les. Bisa-bisanya transformasi jadi guru SMA.
"Orang yang banyak ketawa bakal banyak nangis. Tapi banyak nangis belum tentu bisa ketawa banyak. Kenapa dunia kejam sama gue doang, hah?!" teriaknya seperti peran istri tersakiti di sinetron.
Glarrr!
Suara petir lewat tepat di atas kepala Awan. "Ya Allah, maaf hamba gak ngeluh lagi!" Dia buru-buru ke dalam sebelum kena sambaran berikutnya.
***
"Dia bisa ke sini sendiri, ngapain kita yang masukin lauk ke kotak makanan?" seru Awan tidak suka waktunya terbuang demi Juan.
"Masukin aja," jawab Mira.
"Gue perhatiin dari pulang sampe sekarang, kayaknya lo punya dendam kesumat sama Juan. Juan gak bermaksud diem-diem masuk sekolah lo." Jefri tidak memihak salah satu.
"Gue malah mikir Juan sengaja ngajar buat mata-matain gue," celetuk Awan.
"Dugaan lo di luar prediksi BMKG tau gak. Mana ada Juan mata-matain lo yang kerjaannya di sekolah matahin sapu," cetus Mira sekalian bahas kelakuan minusnya.
"Lo lebih cocok jadi emak kita." Awan menutup kotak makanan agak mukul. "Udah gila Juan buka jasa konsultasi segala padahal ada guru BK."
"Konsultasi?" beo Jefri. "Juan bukan pendengar yang baik ..." terusnya berpikir.
"Nah itu! Dia bilang, "Gak terlihat bukan berarti gak ada" . Heleh, kalimatnya jadi trending di kelas gue."
Mira pun tidak mengetahui maksud kedatangan Juan ke sekolah. Apa mungkin Juan mengerjakan sesuatu di sana? Ah tapi mana mungkin. Mereka semua sadar butuh waktu dua tahun memaafkan diri sendiri dan orang lain.
__ADS_1
"Gue curiga Juan lagi cari informasi." Awan mengusap dagu sambil berpikir.
Awan sependapat dengan Mira. Bagaimana tanggapan Jefri? Aih, lelaki itu enggan berurusan selain menyangkut Mira dan nyawa.
"Mau ngapain di sana terserah dia."
Mira melirik Jefri sesaat. Betul juga. Terserah Juan dong mau berbuat apa di balik profesinya.
Tok! Tok!
"Juan!" teriak Mira.
"Ngingetin gue jaman SD," gumam Awan bak terulang lagi mengajak Juan main.
"SD?" Jefri sama sekali tidak ingat.
Awan komentar, "Sebelum korona ada di dunia lo dulu udah karantina mandiri."
Maksudnya, Jefri ke luar rumah cuma buat makan, minum, sekolah, dan tidur. Dulu Jefri sangat pemalu dan berkeinginan bisa adaptasi tanpa rasa takut bertahun-tahun.
Juan tersenyum lebar kala membukakan pintu. "Banyak banget!"
Kebiasaan tiap bertemu high-five dengan mereka. Juan menyambut Mira dan Jefri masuk. Perbedaan terasa kala Awan menghela napas malas harus tos dengan guru barunya.
"Hh, liat gue bawa beginian." Tangan Awan dua-duanya tenteng rantang.
"Ya udah masuk aja."
"Hhh!" Awan mendesah berat lagi.
Baru masuk ruang tamu Awan dibuat kaget ada sosok kuntilanak duduk di sofa. Cuma kaget, tanpa teriak.
"Hidup gue kalau gak isinya beban, gue yang jadi beban. Penunggu di sini?"
Juan cuma lewat. "Jangan diajak ngobrol. Dia demen semua cowok."
Awan menatap kunti sambil berjalan ke meja makan. "Ternyata setan ada buaya betina juga."
Saking biasanya lihat model hantu mereka lewat saja. Apalagi bertiga gini, anggap tamu sendiri hantunya.
"Mau jadi paranormal dadakan lo?" tukas Jefri.
"Gue ambil minum bentar," ucap Juan permisi ke dapur.
"Ikut." Mira mengekori Juan.
"Gak ada paranormal yang abnormal," jawab Awan. "Jujur ada keuntungan Juan di sekolah. Gak ada tuh yang cari ribut sama gue. Tentram banget bisa belajar tanpa diganggu."
"Gangguan belajar lo cuma satu, hape. Gak usah nyalahin setan."
"Ya elah. Belum tau aja kelakuan setan di sekolah makin gila pas lo lulus. Bagaikan ayam dilepas dari kandang."
Hantu wanita berambut panjang langsung menoleh sembilan puluh derajat ke tempat Awan duduk tanpa menggerakkan badan.
Awan mengatupkan mulutnya. "Gak bermaksud, mbak. Jangan tersinggung."
Jefri tertawa. "Merasa diremehkan disamain sama ayam."
"Mereka udah mati tapi masih punya perasaan. Aneh gak sih?"
Sekali lagi Awan ditatap tanpa ekspresi oleh hantu itu.
"Jangan liatin gue! Awas lo ngikut ke rumah!" Dia bentak setannya.
"Dosa kita nambah setelah gibahin setan di depan setannya," ucap Jefri tergelak lagi.
"Ah serius lo?"
"Gak deng."
"Tolol."
**
Juan mengaduk teh manis panas di cangkir buat mereka bertiga.
__ADS_1
Mira memasukkan stok buah-buahan ke kulkas juga buat Juan supaya tetap sehat dan bugar.
"Gue denger lo jadi guru di sekolah Awan. Selamat." Pintu kulkas tertutup. Mira berbalik mengajaknya bicara.
Mira hanya bisa menatap punggung Juan sambil bersandar di wastafel cuci piring.
"Langsung tanya aja jangan berbelit-belit."
Tidak mungkin Mira mengikutinya sampai dapur secara cuma-cuma.
Beberapa kali Juan memergoki dirinya menginginkan sesuatu, Mira masih kaget dari mana dia tahu ada yang mau dipertanyakan.
Suara dentingan sendok mendominasi dapur menunggu pertanyaan Mira. Sebetulnya tanpa pertanyaan Mira, Juan tahu ke mana arah obrolan ini.
Juan membalikkan badan mengamati tiap reaksi Mira agar memahami perasaannya.
"Kita kenal cukup lama. Apa pun tanggapan lo gak akan mengubah pendirian gue. Bahkan suatu saat lo memperlakukan gue kayak Jefri sekarang, gak akan mengubah apa pun."
Alis Mira menyatu kenapa Juan menyeret nama Jefri sekarang. Jadi benar tujuannya datang ada hal lain.
"Bisa tolong bawain ke meja? Gue mau ke kamar mandi."
Bisa-bisanya setelah mengucapkan itu menyuruh Mira bawa teh.
"Gue gak peduli lo ngurus apaan di sana!" geramnya cari nampan di rak.
Sama seperti lelaki pada umumnya. Mereka merasa paling benar memutuskan sesuatu sendirian dan keras kepala. Akhirnya tidak ada yang minta maaf walaupun keputusan yang diambil berakibat fatal.
Kembali duduk setelah menghidangkan teh, Mira jadi sorotan utama Jefri dan Awan.
"Muka lo ngapa dah?" tanya Awan.
Jefri diam.
"Gapapa."
"Lo selalu bilang gapapa tiap ditanya tapi muka lo cemberut. Jadi cewek jangan ribet kek. Ngomong biar kita ngerti."
Plak!
"Aduh!" Awan kena tampar, pelan tapi sakit.
"Mira." Jefri memanggilnya refleks namun buang muka pas ditatap balik.
Tepat Juan balik dari kamar mandi. Dia bertanya, "Kenapa lagi?"
"Kalian bertiga ..." Mira beri mereka peringatan terakhir. "Kalau ada yang bertindak tanpa sepengetahuan gue, apa pun itu gue bakal turun tangan."
Awan mengasihaninya. "Lo ngomong apaan sih? Siapa yang bertindak buat apa?"
"Jangan pikir gue gak tau apa-apa. Gue tau kelakuan kalian bertiga di belakang gue. Gue mohon ..." Tidak bisakah Mira hidup tenang sekarang tanpa masalah yang dipicu mereka.
Juan menundukkan kepala. "Terus gue harus diem liat keprihatinan lo, hah?"
"Juan." Jefri menggeleng pelan. Dia mendadak lelah hadapi mereka berdua. Selama ini Mira mengabaikannya, lebih baik begitu ketimbang ribut karena masalah itu lagi, itu lagi.
"Jangan dibahas," bisik Awan agak keras.
"Iya. Mending kalian duduk liat keprihatinan gue daripada liat kalian sekongkol dua kali."
Awan tidak tega Mira menahan tangis. "Pulang aja ayo." Dia gandeng tangan Mira.
"Kita semua sepakat gak bahas ini lagi," pungkas Jefri.
"Hidup gue gak tenang semenjak Mirza meninggal, Jef. Dibahas atau nggak, gue pantang mundur. Terlanjur jauh."
"Apa maksudnya?" Jefri menghampiri Juan lalu menarik kerah bajunya. "Sampai mana?! Gue mati-matian nunggu kapan kita bisa hidup lagi tanpa bahas Mirza. Lo sadar hubungan kita sekarang gimana!"
Juan mencekal tangan Jefri. Awan lari ke arah mereka berniat memisahkan.
"Lo juga sadar kematian Mirza gak wajar."
Kaki Awan lemas seketika dengar mereka adu argumen. Klimaksnya tepat Juan berucap lirih bersamaan dengan air matanya turun.
"Jef?" Awan kira dia tahu segalanya. Rupanya. sekarang dia yang butuh penjelasan.
__ADS_1
Isakan Mira berhenti. Apa maksud Juan barusan? Bagaimana bisa kematian Mirza dianggap tidak wajar?