Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Satu Kekurangan


__ADS_3

Mira membuka mata atas respon kaget dari alam bawah sadar.


Kepalanya menoleh ke kiri tempat Jefri duduk tertidur dengan wajah tertutup komik.


"Mimpi macam apa serem gitu."


"Makanya berdoa!" celetuk seorang pria yang duduk di belakangnya, Zafran.


Mira sedikit bangun supaya bisa lihat Zafran langsung. Tangannya menjambak rambut Zafran saking menyesal sudah khawatir.


Zafran meringis.


Mimpi barusan tidak salah. Sebagian besar benar. Teman-teman seperti mereka yang tidak bisa diandalkan pasti cuma teriak-teriak sampai tenggorokan kering dikejar setan.


"Liat muka lo sekarang gue berharap mimpi itu nyata," sinis Mira kembali duduk meregangkan otot lehernya.


"Mimpi apa?" Irlan ikut nimbrung.


"Cerita ke kalian juga gak nguntungin sama sekali ..."


Tangan Zafran memegang kursi Mira. "Gue tau lo mimpi apaan."


Irlan mendengarkan seksama. "Asli?"


"Kita punya mata batin. Bisa jadi samaan," kata Zafran.


Mira baru tahu efek mata batin bisa menyalurkan mimpi satu sama lain.


"Gue mimpi ..." Zafran sengaja menggantung agar mereka penasaran.

__ADS_1


Mata Irlan kedip dua kali. "Boong dia. Dah pasti boong. Cengar-cengir gitu."


"Huh!" Mira mengambil botol kosong bekas minum, dia pukul kepala Zafran. "Rasain tuh!"


"Pantat lo bisulan gak bisa duduk anteng?" sahut Zafran.


"Lo ngajak ribut."


"Gue iri sama orang yang bisa tidur pules walaupun sekitarnya berisik. Kenapa gue gak bisa ya? Denger pintu kebuka dikit, bangun. Ada suara 'ckit' dari luar kebangun."


Mereka berdua menjadi pendengar isi hati ketua kelas.


"Kebanyakan nonton film setan kali lo makanya kagetan!"


Irlan memandang teman sebelahnya. "Lo bahkan lebih horor dari setan, Zafran."


"Iya apaan? Gue nyeremin? Ganteng, kece gini."


"Semenjak kenal lo, gue lebih sering kena juga. Padahal sebelumnya biasa aja karena ada Abang Jefri." Mira menepuk lembut puncak kepala Jefri yang masih terlelap.


"Lo ini sebenernya emang satu bangsa sama mereka atau ada kaitan di masa lalu?"


Mira seketika ingat pria bangsawan berparas menawan yang beberapa kali muncul lewat mimpi.


"Iya kali, Zaf! Lo reinkarnasi dari iblis mungkin!" duga Mira penuh semangat.


"Kurang ajar."


"Anggap betul. Kira-kira di kehidupan sebelumnya gue jadi apa, Mir?" Giliran Irlan mau tahu pendapatnya.

__ADS_1


Zafran menggeleng pelan. "Lo tanya dia, disebut Raja Iblis yang ada." Kalau sudah me-roasting mulutnya tidak bisa disaring, wanita.


"Karena lo kalem, baik, terus juga pinter. Gue pilih yang bagus. Hm, kucing? Kurang cocok. Lo terlalu pinter tapi sayang sering begadang. Atau sebelumnya lo jadi vampir? Vampir kan temennya kelelawar tuh."


"Bhahaha! Kelelawar anjir ngabrut! Haha! Dah bagus kucing, jomplang banget kepikiran kelelawar!" Zafran ngakak sampai perutnya sakit.


"Gak ada salahnya asal masih mamalia."


Zafran makin kencang tertawa hingga teman-teman menyuruhnya berhenti berisik.


"Duduk aja lo mendingan. Haduh ... Air mata gue yang berharga ini jadi keluar secara sengaja," ucap Zafran.


"Ya setidaknya lebih baik dari iblis dan teman-teman."


"Gue? Menurut kalian gue jadi apa sebelum jadi manusia?" Mira mau tahu pikiran mereka.


"Bidadari dari kahyangan kali," ujar Irlan.


"Heh? Mana ada. Lo pasti punya banyak anak dulu, makanya penyabar."


Perasaan Mira tersentuh. "Gue penyabar?" Sesungguhnya Jefri, Awan, dan para saudara di Bogor menyebutnya Ibu Tiri. Meski begitu Mira senang ada orang yang melihat sisi kebaikannya.


"Kekurangan lo cuma satu," ujar Zafran.


"Apa?"


"Kekurangan kita semua lebih tepatnya," ujar Irlan.


"Penakut."

__ADS_1


__ADS_2