
Apakah mereka akan mengulang kejadian yang sama seperti sebelumnya?
**
Mengetahui teman sekelasnya memiliki mata batin sedikit membebani Awan. Terlebih dia ada perasaan khusus pada Putri.
Tidak. Putri berbeda dari teman Mira. Dia mengontrol penglihatan dan kepekaannya dengan baik. Hampir tiga tahun Putri tidak terlibat kesurupan di sekolah. Putri berbeda dari Zafran.
"Lo bisa liat tapi pernah nyangkal pertanyaan gue dua tahun lalu."
"Lo udah liat sendiri sebagai bukti. Sekarang terlalu banyak, gue harus sharing."
"Sharing?" Memang kemampuan mereka semacam bluetooth? Batinnya mangkel.
"Sama kayak sepupu lo dulu. Kalau Mira butuh Jefri, gue butuh lo."
Awan tidak salah dengar? Siapa yang membutuhkan siapa, apa tidak kebalik?
"Putri, gue sama Jefri beda. Kita gak sebanding. Lagian, baru sekarang gue tau faktanya, mendadak lo butuh gue. Kenapa?"
"Ada sesuatu yang kalian gak tau dari sekolah kita."
Muka Awan cengo. Antara percaya tidak percaya alisnya menyatu. "Jelasin."
***
Mira pulang terlambat. Dia diantar Surya sampai halte pertama tadi.
Baru lepas sandal, Awan menghadang di depan pintu sambil membawakan tasnya.
"Duduk, duduk. Ada yang mau gue bahas sama kalian."
"Apaan coba?"
Ada Jefri duduk di meja makan sambil main ponsel. Mira duduk di kursi sebelahnya tanpa menyapa.
"Gue gak punya banyak waktu. To the point aja," kata Jefri mau langsung ke kamar buat belajar.
Awan akhirnya duduk dan memulai pembicaraan serius.
"Temen gue bilang sesuatu yang gak masuk akal, tapi setelah dipikir-pikir bisa masuk akal."
Yakin Jefri mau jedotin kepalanya ke meja. "Langsung ke intinya kan gue bilang."
"Gak penting pasti. Gue mau istirahat."
Brak!
"Dengerin. Di SMA kita ... Ada sekte rahasia."
Sudah betul Mira memilih tidak terlalu serius. Ucapannya sangat imajinatif.
"Kayak di film maksudnya?"
"Betul! Sekte yang memuja setan. Itu alasan banyak tumbal!" seru Awan. "Merinding gue. Temen seangkatan lo banyak yang mati setelah kerasukan, kan? Bayangin secara logika- "
Mira mendesah, "Kerasukan udah bukan pakai logika, Awan."
"Itu hal teraneh seumur hidup kita. Selama ini gak ada kasus orang kerasukan, orangnya jatoh dari atap sekolah. Kerasukan ya teriak ngamuk doang."
Jefri menundukkan wajah, dia garuk kepala sebelum jawab. "Denger dari siapa?" Harus tahu dulu Awan dapat info dari siapa.
Lirikan mata Awan mencurigakan. "Dari ... Siapa ya tadi? Temen gue deh. Iya temen sekelas."
Mira perhatikan ada yang salah dari Jefri. "Lo sakit, Jef?" Suhu ruangan sejuk, tapi lehernya mengalir keringat.
"Hah?" Kaget dia ditanya. "Nggak."
"Oke."
"Kalian harus percaya gue! Cari tau dulu ayo!" ajaknya semangat sendiri.
__ADS_1
"Udahlah. Gue gak mau berurusan lagi sama mereka." Mira tinggal pergi malas ambil pusing.
"Lo telusuri satu sekolah. Lebih cepet, itu kerjaan lo sehari-hari selain merusak properti sekolah." Jefri berdiri. "Urusan kita selesai hari itu. Bukan rahasia khusus gak bahas sekolah lagi, lo lupa?"
"Oh iya." Awan memukul mulut embernya. "Gue terlalu semangat jadi kelupaan. Gue cuma mau tau bener apa nggak yang dia bilang." Perkara ini harus ada pendapat dua orang. "Mira pasti gak nyaman."
"Lain kali kita bisa face to face tanpa ajak Mira. Ngertiin posisinya."
"Murung tiap hari emang bikin perasaan tenang?" cibir Awan.
"Tutup mulut lo."
Lupa lagi telinga Jefri se frekuensi serigala. Awan membungkam mulutnya tak berani adu mata dengan Jefri.
"Sampai kapan Mira begitu?" batin Awan khawatir.
Mira jarang bicara dan menyendiri. Diajak bercanda responnya tidak seheboh dulu. Apa dia sangat merasa kehilangan Mirza? Entahlah, mereka sudah putus saat itu, terlalu lama meratapi kematian juga kurang baik.
Awan sulit membaca pikiran mereka. Jefri sering menghela napas. Pokoknya dia menanggung seluruh beban Mira di pundaknya setiap kali bernapas.
"Gue denger ada guru baru besok."
"Lo pikir gue peduli?" balas Jefri.
"Pak Adit bilang kita semua kenal. Menurut lo siapa?"
"Hadapi sendirian. Gue sibuk banyak urusan."
Sia-sia upaya Awan membujuk mereka menelusuri kecurigaannya. "Gue yakin ada yang gak normal."
Jefri menyerah. "Kita gak normal ..." Dia mendesah berat masuk kamar.
***
Huru-hara kelas 11D sudah turun-temurun. Awan bersama gerombolannya malas ikut meramaikan kelas, mereka ngantuk setelah cosplay jadi burung hantu di malam hari.
"Pak Adit bakal nyerah jadi wali kelas gak sih, makanya ada guru baru?" tanya Udin.
"Perkara ujian lo semua nyerah, kan?" sahut Awan.
"Lebih pasrah sih," jawab Udin.
"Guru baru ngajar mapel apaan?" tanya Zio.
"Mana gue tau."
Udin bilang, "Lebih serem dari ketua kelas gak? Kalau gak, aman kita."
Awan mengerjap. "Ketua kelas kita baik! Putri gak nyeremin."
"Dulu lo selalu bilang dia bukan manusia gegara jarang ngomong. Sekalinya ngomong tanpa ekpresi. Sekarang berubah pendapat?" Samsul melihat Putri sekarang, dia bisa fokus belajar di tengah kebisingan. "Jangan giat belajar kek dia. Bisa terganggu mental kita. Mending banyak bercanda, belajar pas guru masuk."
"Putri selalu ranking satu. Gue iri," ucap Zio.
"Lo ranking dua," ucap Samsul datar.
"Bersyukur .." ucap Awan si peringkat sepuluh.
"Kata emak gue yang penting lulus. Gak dapet ranking gapapa," ucap Udin.
"Gue lebih iri sama pendapat nyokap lo," kata Zio.
"Hidup lo banyak irinya. Syukuri apa yang ada anjir." Awan kebetulan melihat Putri yang sedang menghadap ke belakang memasukkan buku ke tas.
Tap! Tap!
Wajah mereka semua terangkat mendengar suara langkah kaki masuk kelas. Yang lagi mainan segera duduk rapi.
Pancaran aura lelaki di depan mereka sangat mahal. Dari ujung kaki hingga rambut terlihat sempurna.
"Gue benci guru baru cowok," bisik Zio.
__ADS_1
"Alesannya?"
"Ini sih ngalahin Pak Adit sama Pak Ilman," gumam Udin merasa tersaingi.
"Kayaknya gue kenal dia ..." lirih Awan.
Awan yakin guru baru itu adalah dia. Mereka sering bertemu. Hanya saja, banyak perubahan. Cara berpakaian, model rambut, dan profesinya sekarang.
"Siapa?" Udin kepo.
Paduan warna kemeja biru dongker dan celana hitam sangat cocok di tubuhnya. Ia memindai keseluruhan kelas tanpa tertinggal satu derajat.
"Saya guru matematika yang baru menggantikan Pak Adit karena beliau mengajar fisika kelas 11E sampai 11G. Selama pelajaran saya, kalian dilarang bolos apalagi bercanda. Lebih baik tidur daripada mengganggu teman lagi belajar."
Mereka yang hobi turu di tengah pelajaran kegirangan. Sisanya diam menyimak.
"Nama ... Bapak siapa?" Riri mengangkat tangan sudah penasaran.
Penglihatan Awan sedikit buruk sebab bangkunya paling belakang.
"Ngapain dia jadi guru di sini?" Walau begitu akhirnya Awan bisa melihat jelas berkat kacamata Zio. "Muka gue taruh di mana anjrit!" Dia ambil buku buat menutupi sebagian wajah.
"Saya, Juan Fuadi."
"Anjir mimpi apaan pindah ke Jakarta jadi guru," desis Awan mati-matian sembunyi.
Awan sudah ketahuan Juan. Juan datang untuk memastikan sesuatu yang menurutnya belum tuntas sebelum Awan mengetahui dan bertindak sendiri.
Jika bisa diselesaikan lebih cepat, Juan langsung mengundurkan diri lalu kembali ke Bogor.
"Walaupun saya bukan wali kelas kalian. Kalau ada sesuatu bisa temui saya. Entah itu masalah kelas, pribadi, atau lainnya."
"Masalah hati bisa juga?" tanya Gia.
"Stres!" cerca Ningsih. "Jangan dengerin, Pak. Gia suka halu, suka ngelantur ngomongnya."
"Kan nanya doang."
Juan menatap mereka berdua kemudian membuka halaman buku paket. "Saya menerima konsultasi apa pun, silakan."
"Buat dia yang istimewa nerima jasa konsul hal yang gak kelihatan gak, Pak?" Udin iseng tanya ke Juan sambil nepuk kepala Awan.
"Jangan bawa-bawa gue, goblok!" Awan mendengus pasrah tetap buang muka ke tembok.
Malu sekali dia bertemu Juan di sini. Bisa kebongkar semua kelakuan buruknya.
"Allahu akbar ... Bakal ngadu ke Prasetyo gak nih?" Awan menebak-nebak nasibnya di tangan Juan.
"Datang aja." Juan terima semua jenis masalah mereka.
"Bapak paham? Dia, maksudnya Awan, agak aneh." Ningsih mengusap lengannya dipukul kencang oleh Gia. "Sakit tau!"
Juan menulis bab pertama yang mau dijelaskan di papan tulis.
"Yang gak terlihat bukan berarti gak ada," tambah Juan.
Zio menelan ludah. "Heh, dia paham. Punya mata batin kali."
Udin mengelak. "Gak mungkin. Orang seganteng dia gak mungkin."
"Apa hubungan orang ganteng sama mata batin, bego!" Samsul menggeleng harus terima kebodohan temannya.
Awan sering tahan napas harus sering lihat Juan di lingkungan sekolah.
"Lo bisa tau sesama spesies, kan? Liat dia. Punya mata batin gak?" tanya Samsul.
Tentu Juan bisa. Dia lebih berpengalaman dan kemampuannya jika disamakan dengan pencak silat, ada di level 10.
Oleh sebab itu Jefri menyebut Juan sebagai dinding atau benteng, sama seperti ayahnya.
"Hhh, dia paham begituan. Lebih pro dari gue. Puas?"
__ADS_1
Tunggu. Jika Juan datang, bukankah lebih bagus? Awan butuh pendukung.