Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Awan Ikut Tinggal di Jakarta


__ADS_3

Mira mengangkat kopernya turun tangga sekuat tenaga.


"Ayo, Mira! Kamu pasti bisa! Sedikit lagi sampai bawah!"


Fani menyemangati temannya dari belakang.


"Berisik! Mending diem deh kalau gak bisa bantu!"


"Mira, kamu menjadi sangat galak. Apa efek hantu kemarin?"


"Efek kamu selalu ganggu aku!"


"Biasa saja dong!" Fani tak mau kalah.


Alis Mira menyatu jengkel dan Fani berkacak pinggang buang muka.


"Berantemmm terus."


Dari belakang mereka datang Awan merebut koper Mira dan membawa turun dengan sangat mudah.


Makin jadi si Fani nge-roasting Mira. "Ternyata tenaga kamu lemah. Pantas kesusahan bawa satu koper." Dia turun tangga sembari bersenandung mengintili Awan.


"Belum ngerasain lo bawa gas elpiji tiga kilo! Di jaman lo gak ada gas, kan!" teriak Mira langsung menyusul mereka.


Fani menoleh sudah ada Mira di sebelahnya pura-pura cuek. "Awan, dia sangat pemarah mirip Jefri."


Awan membuka bagasi mobil dan memasukkan koper Mira.


"Banyak sekali. Semua orang akan pindah? Aku bagaimana?"


Mira pun tidak bawa barang sebanyak ini saat datang, kok pulang harus bawa banyak kardus.


"Itu semua punya orang, Wan?"


Awan masuk bagasi menata kardus-kardus.


"Kalian mau meninggalkan aku di rumah ini?" Fani mau menangis.


Mira gagal fokus sama anak kecil di belakangnya. "Gue juga bingung ini, gak usah nangis segala, gak ada abang-abang jualan balon."


"Udah dibawa semua, Wan?" Om Pras keluar menggendong Kayla.


"Beres, Pah."


"Kayla, kamu ikut pergi bersama mereka?" Fani bertanya lagi supaya dapat jawaban jelas.

__ADS_1


Awan turun pamit ke ayah dan adiknya.


"Kamu jaga diri di sana. Nanti kalau Papa ada waktu hari libur pasti ke Jakarta."


"Abang ikut Mira ya, La."


"Abang jaga Mira ya... "


"Iya."


Mira kaget. "Ikut? Maksudnya?"


"Om kasih izin Awan tinggal di rumah kakek. Kamu belum tau?"


Bola mata Mira berbinar bahagia. "Wan, seriusan?"


"Ya lo yang minta semalem."


"Awan gak kasih tau Mira, Om. Ini baru tau dia mau ikut."


"Kalian segera berangkat gih, mendung."


Bahkan sewaktu baru berangkat Mira terus mengoceh.


"Kalau gue bilang lo bakal heboh kek sekarang ini."


"Ish."


**


"Mamaaa! Awan serumah sama kitaa!"


Awan belum keluar, tapi Mira sudah berlari masuk ke rumah kakek seperti anak kecil.


Hana, Ratih, serta Jefri keluar menyambut Awan.


"Akhirnya ... Jefri ada temen di rumah." Ratih bahagia sekali.


Jefri menawari bantuan. "Gue bantu pindahin barang. Di bagasi semua?"


"Iya."


Datang-datang Mira membawa masuk Awan.


Jefri melihat mereka langsung keluar dari bagasi dapat koper Mira.

__ADS_1


"Eh, itu Awan dibawa ke mana? Si Mira sompral banget ngebiarin gue mindahin barang sendirian."


Ratih turut membantu anaknya. "Sini Bunda bantuin. Mana yang mau dibawa masuk?"


"Semuanya, Bun. Sanggup?"


"Kita udah berumur tapi angkat kardus doang mah kecil," ujar Hana mengangkut dua kardus ukuran sedang di kanan dan kiri pinggang.


Awan menggaruk kepala. "Ini kamar gue?"


"Iya."


"Kok kamar gue di seberang sendiri?"


"Karena yang empat kamar di bawah ditempatin gue, Bunda, Mama, Jefri. Penuh."


"Kamar di sini kan gede, Mir. Bisa kali gue sekamar sama Jefri."


"Gak ada kamar barengan!" titah Jefri di ruang tamu tengah meregangkan sendi pinggangnya.


"Ya elah, Jef. Sesama cowok ini."


"Ogah."


Awan harus menerima kamar yang disediakan.


"Ya udah, gue mau istirahat. Lo juga, kan?"


"Gue kira lo mau keliling rumah sebentar."


"Capek, Mir. Lo enak tidur gue yang nyetir."


Ada-ada saja Mira.


"Yaudah lo istirahat duluan."


"Lo mau ngapain lagi?" Awan curiga.


"Makan."


"Bukannya sepanjang jalan jajanan ludes dimakan lo doang?"


"Makan nasi, Wan. Jajan mah cuma selingan."


"Serah lo deh. Capek banget gue."

__ADS_1


__ADS_2