Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Keputusan Bersama Sanjaya


__ADS_3

Awan ikut bertanya, "Temen lama emak lo, Mir?"


Mira menggeleng pelan.


"Bunda pikir kamu gak tau apa-apa. Ternyata salah." Ratih menyatukan jari-jari tangan sambil berkata, "Gimana kabarnya Sanjaya?"


Tangan Mira menyentuh lengan ibunya. "Mah, siapa sih Sanjaya? Temen lama keluarga kita?"


Awan menggaruk kepala menggunakan ujung sendok. Dia tak tahu apa pun. Apa tinggalkan saja obrolan ini?


"Eh, mau ke mana?" Mira berseru.


Kaki yang seharusnya ingin pergi menjadi urung. Awan kembali duduk.


"Kayaknya gue gak seharusnya ada di sini. Jadi mau nge-game di kamar."


"Kamu harus tau juga. Duduk aja dengerin kita," ucap Hana.


Awan mengulum bibirnya. "Okay."


Baiklah. Awan menunggu mereka mengobrol. Raut wajah Mira antara penasaran dan tidak sabar, tetapi sedikit gelisah.


"Setelah apa yang terjadi ... menurut Jefri, Sanjaya gak seharusnya turun tangan ke hidup kita, Bun. Akibatnya dia terlalu mau tau dan sering bolak-balik mengintai kita semua." Akhir kata Jefri menatap Mira. "Terlebih Mira."


Mira menunjuk wajahnya sendiri. "G-gue? Orang yang namanya Sanjaya ngintai hidup gue? Kenapa?"


"Tenang dulu." Hana menyentuh pundak sang anak.


Pembicaraan macam apakah ini, batin Awan bergeming. Mereka membicarakan seseorang namun tidak diperkenalkan dahulu siapa Sanjaya dan apa maksud dari kata mengintai hidup keluarga mereka.


Jefri langsung bicara bagaimana dampak kehadiran Sanjaya.


"Sanjaya siapa sih?" Anjir banget si Jefri. Awan dibuat kesal.

__ADS_1


Tanpa diketahui Hana dan Ratih, sosok Sanjaya muncul tepat di belakang Jefri duduk.


"Mengintai? Bahasamu sedikit kasar." Begitu kata Sanjaya yang terusik.


Mira menunjuk Sanjaya. "Loh, kok? Ngapain lo di sini?"


Kaki Awan dua-duanya naik ke kursi. "Ngikutin kita pulang, Jef?"


Sanjaya tidak melihat mereka. Dia diam menatap tengah-tengah Hana dan Ratih dengan kedua tangan ke belakang.


Mira kehabisan kata-kata. "Tapi terakhir kali dia nolong gue. Bentar ... Dia yang namanya Sanjaya?"


"Iya."


"Ada di sini?" tanya Hana.


"Ada," lirih Awan tak melepas pandangan dari lelaki bernama Sanjaya. Bagaimana mereka bisa semirip itu? Wah, menarik dan menakutkan secara bersamaan.


"Woi kebiasaan nanya sembarangan lo," tegur Mira.


"Gue harus tau kebenarannya."


Jefri membiarkan salah satu dari ibu atau buleknya yang menjawab.


Ratih minum air putih setenggak. "Setiap yang lahir dari keluarga kakek ... punya yang namanya pendamping. Sanjaya ini pendampingnya Jefri."


Mereka berdua saling tatap lalu mencerna kalimat singkat Ratih.


Awan tertawa singkat. "Serius? Jadi, tiap yang lahir di keluarga kita ada pendamping. Tapi pendamping yang dimaksud bukan manusia tapi jin?"


Sanjaya lantas melihat teduh seorang Awan. "Kamu pun punya."


Awan membungkam Sanjaya. "Diem lo. Gue lagi ngomong sama manusia." Dia tersenyum paksa menutupi luapan emosi amarah yang harus diredam. "Kita punya mata batin aja udah aneh di mata mereka, Bun. Sekarang ada pendamping dari lahir pula?"

__ADS_1


"Kakek percaya mereka bisa menjaga kalian."


"Kita percaya Tuhan," balas Awan.


"Kami ciptaan-Nya juga," cetus Sanjaya.


Tatapan yang diberikan Awan disertai bara api menyala. Bisa jawab juga dia. "Kenapa lo pake baju begituan? Dari kerajaan mana?" sarkasnya.


"Tidak perlu tahu."


"Anjir," lirihnya ngenes.


Jefri angkat bicara lagi. "Sanjaya bisa berhenti mantau kita kalau kalian gak izinin dia. Gimana?"


Awan menjambak rambut sendiri. "Mana gue tau harus kek gimana, Jef."


"Selama Sanjaya gak membahayakan kalian, Bunda gak keberatan." Ratih memilih menentang Jefri.


Hana mengangguk atas jawaban iparnya.


Mira mengangkat tangan kanan. "Mira sama kayak Bunda. Jefri belakangan ini fokus ke Zafran. Sanjaya bisa bantu Mira, sementara."


"Heh, lo pikir Sanjaya bodyguard?" Awan berbisik berharap mengurangi kesalahpahaman.


"Gerbang komunikasi kita terlanjur kebuka. Gak ada salahnya Sanjaya di sekitar kita," usul Mira.


Awan membisikkan Mira lagi. "Woi udah. Sanjaya ntar tersinggung."


Awan jadi Sanjaya jelas langsung menghilang, secara tidak langsung dia dimanfaatkan.


"Hasilnya sesuai keputusan kalian," pungkas Jefri. "Jefri biarin Sanjaya di sekitar kita tapi kalau dia membahayakan satu orang aja ... Lo yang harus pergi, Sanjaya."


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2