
Dewi menyusul Jefri di tangga. Dari punggungnya sudah ketebak pasti dia.
"Jef!"
"Eh." Jefri menoleh sekilas.
"Mira mana?"
"Dia cuti dua hari."
"Kenapa?"
"Ada urusan di Bogor."
Dewi cuma tahu Bogor adalah tempat rumah lama keluarga mereka.
Mira pernah cerita bahwa di sana tempat anak dan cucu dari kakeknya tinggal.
Mereka beriringan hingga lantai dua dan berlawanan arah ke kelas masing-masing.
Jefri sempat berhenti sebelum masuk ke kelas memanggil Dewi.
"Dewi!"
Dewi balik badan tanya, "Apa?"
Jefri menghampiri Dewi untuk menawarkan dia ke Bogor. "Besok bisa ikut gue jemput Mira?"
"Gue doang?"
"Hm. Lo lebih deket sama Mira."
Dewi mengangguk tersenyum. "Bisa aja."
"Nanti gue kabarin lagi ketemuan di mana."
"Oh iya, Jef." Sekalian Dewi mau kasih tahu Jefri. "Temen lo gak waras... "
Jefri menoleh ke belakang ada Zafran mengomel sendiri. Maksudnya dia tidak benar-benar gila. Ada Johan di dekatnya sampai Zafran ngoceh dikira gila.
"Woi!"
Zafran hampir melewati bestai-nya. "Eh?"
Dewi menghela napas di pagi hari. "Cukup si Surya yang gila. Lo jangan ikut-ikutan."
"Gue gak gila," sangkal Zafran.
"Surya kenapa?" tanya Jefri.
__ADS_1
Dewi pun belum tanya langsung sebab berangkat sekolah sendiri. "Ibunya bilang Surya semalaman ngaji, tidur dikelilingin qur'an."
"Bagus dong," kata Jefri.
Dewi bercerita. "Gilanya bukan di situ. Tapi Surya minta tidur sekamar orang tuanya. Ya kena sabet sarung bapaknya lah!"
Zafran anggap aib Surya hiburan untuk dia. Dia lantas berbisik ke telinga Jefri. "Si Johan nempel ke gue, Jef. Gimana nih?"
Begitu wajah Zafran menjauh dapat Jefri pastikan rautnya cemas. "Ya gak gimana-gimana."
"Gue bacain ayat kursi?"
"Doa mau makan aja lo gak apal," cetus Dewi pergi duluan.
Jefri menepuk sebelah bahu sohibnya. "Banyak doa. Lo gak mau ngerepotin kita seumur hidup, kan?"
"Mira ke Bogor?"
Jefri yang ingin kembali ke kelas berbalik menghadap Zafran lagi.
Dia belum memberitahu bocah tengil itu. Apakah Mira yang mengatakan sendiri?
"Tau dari siapa?"
Zafran melirik malas hantu di belakangnya. "Itu."
Johan menyilangkan tangan panik ditatap seram Jefri. "Gue cuma liat dari kejauhan, gak ganggu dia."
"Iya dia di sana. Kapan lo selesaiin masalahnya?"
"Pulang sekolah."
"Lo sadar meskipun bantu hantu gak buat dia pergi dari lo, kan?" sarkas Jefri.
Zafran mendelik kaget. "Jangan ikutin gue lagi ya!"
Johan mengangguk patuh serta meminta maaf masih sering melihat Mira dari jauh.
"Dia pergi dari rumah selamanya?" Johan bertanya mengenai Mira.
Zafran memasukkan punggung tangannya ke saku celana kemudian menjawab santai, "Mira gak bisa jauh-jauh dari dia. Mira bakal balik. Betul, Jepri?"
"Balik atau nggak bukan urusan kalian... " pungkas Jefri.
"Sebagai gantinya gue bantu lo, lo bantu gue halau semua hantu-hantu yang mau masuk. Oke?"
Johan pikir sebaiknya tidak terlalu lama berada di sekitar Zafran. Rumor bahwa Zafran aneh ternyata fakta.
"Gue gak punya kekuatan kayak di film. Lagian aura lo emang narik perhatian mereka."
__ADS_1
"Aura apa sih?"
"Lo tuh bau menyan, Zafran."
"Anjir."
Sebelum kena sikut Zafran, Johan menghilang.
Jefri dibuat mendesah malas menghadapi kepolosan mereka. Bukan, memang mereka bodoh.
"Mira nyuruh gue ikut lo pas jemput dia besok."
"Ngapain?" beo Jefri.
"Mana gue tau.. "
"Yaudah ikut."
Zafran celingukan mencari Johan.
"Lo ngapain?" Jefri punya kesabaran tanpa batas setelah bertemu Zafran.
Zafran maju selangkah dan memelankan suara menginfokan pada Jefri tentang apa yang membuat Johan lari ke dia, tidak datang ke Mira lagi.
"Kata Johan, ada yang usir dia dari rumah kalian. Lo yang usir?"
"Hah?"
Johan sendiri yang menghilang usai kontak mata dengan Jefri.
"Uhh, gue merinding nih, Jep."
"Apa lagi? Lama tau gak lo tiap ngomong setengah-setengah."
"Emang ada hantu yang gak bisa diliat sama lo, Jep?"
"Pertanyaan lo gak berbobot bang- "
Tunggu.
Tunggu.
Jefri yang teringat memandang Zafran yang penasaran ingin tahu.
"Gak mungkin, kan? Dari kita bertiga lo yang paling peka. Masa ada hantu yang gak bisa lo liat. Ngada-ngada tuh anak."
Bel masuk berbunyi.
"Gue masuk duluan." Zafran menepuk bahu kiri Jefri.
__ADS_1
Jefri yang semula melamun langsung sadar dan bertanya-tanya siapakah yang terus berada di sekitar Mira tanpa sepenglihatannya.