Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bahkan Anak Kecil Tahu Mira Tidak Aman


__ADS_3

Keberadaan Mira di rumah keluarga besar tentu menarik perhatian sepupu-sepupu yang masih kecil.


Faktanya, saat orang tua mereka belum pulang bekerja, Mira yang mengajak mereka main.


Tentu ada pengasuh. Mira menyukai anak kecil karena bisa disuruh-suruh, tidak gampang capek berlari, dan ramai.


Sesudah mengantar Mira ke sana Hana kembali pulang untuk bekerja. Dia dititipkan ke kakak dan adik iparnya.


"Kamu betah di rumah kakek, Mir?" tanya pria yang duduk di atas sofa mengawasi anak dan keponakannya bermain di lantai.


Ditanya oleh Om Pras pun Mira tak tunjukkan ekspresi dominan yang sebetulnya dirasakan sepanjang hari.


"Biasa aja, Om."


Mira sedang momong anak Om Pras bernama Kayla usia 4 tahun. Mereka membuat banyak kapal dan pesawat dari kertas warna sambil ketawa-ketiwi.


"Biasa aja gimana? Yang Om dengar kok beda sama cerita mama kamu dan mamanya Jefri?"


Mira menganggap Om Pras seperti ayahnya, berlaku sebaliknya.


"Emang udah takdir aku aja, Om."


Mira lebih ke pasrah ditanya mengenai kehidupan sehari-hari.


"Kamu bukan orang yang mudah kesurupan lho, Mir. Apalagi sampai mau nyakitin orang-orang," timpal Om Pras.


"Atau gak Mira tinggal lagi di sini, Pah. Dia kan belum bisa bedain manusia sama hantu, makanya gampang tembus."


Mira mendelik tajam tatkala Awan, anak sulung Om Pras ikut duduk di sebelah bapaknya bawa keripik singkong pedas.


"Apa liat-liat?" sahut Awan.


Anggap Mira kurang akur sama Awan. Masih mending Jefri dari segala sudut.


Awan menyunggingkan senyum selalu ingat Mira hampir tenggelam di empang gara-gara mengikuti hantu mirip ibunya.


"Bego banget," batin Awan.


"Jefri di sana pasti kewalahan, Pah. Ditambah ada temen mereka yang tiap hari kesurupan. Hih, ketauan gak pernah ibadah tuh anak."


Mata Mira terpejam sembari mengucap, "Om Pras menghilang dua detik aja. Gue mau lempar Awan ke empang belakang rumah. Lemes banget itu mulut kek arisan komplek."


"Bawa tuh anak kemari. Yakin gue, ada sekebon kali yang nemplok ke badannya."


Om Pras mencubit paha Awan.


"Aduh!"


"Kalau ngomong dijaga."


"Iya maaf."


Mira menghembuskan napas pertanda tak mampu berkata-kata lagi. Bermain dengan Kayla adalah pilihan tepat.

__ADS_1


"Besok Jefri jemput agak siangan. Kalau kamu mau ke mana sebelum balik Jakarta bilang aja ya."


Mira termenung.


Awan tahu tempat yang Mira pikirkan, yakni makam ayahnya.


"Gak ada. Di sini aja," kata Mira.


"Mending lo bawa si Fani ke Jakarta, Mir. Buat jaga-jaga," lirih Awan takut Mira ngamuk.


"Di mana ya sekarang?"


"Masih di kamar Mira, Pah. Ngambek gak boleh ikut pas mereka pindahan."


"Ngapain bawa hantu ke luar kota segala? Kurang healing?" tukas Mira.


Awan hampir nyablak. "Yee, biar lo gak sendirian terus kemasukan lagi."


Fani adalah hantu anak kecil yang tewas di usia 10 tahun. Dia penunggu kamar Mira dan mereka bertemu saat Mira kelas 3 SMP.


Di hari pertama mata batin Mira terbuka, usai pulang sekolah dia ingat sekali menjerit kencang lihat Fani keluar anggun dari dalam cermin.


Konyolnya Fani ikut teriak pula, kaget Mira bisa lihat dia.


Edan.


Jadi selain ribut bersama Awan, Mira selalu adu mulut dengan sosok Fani.


Mereka dua kutub berlawanan berhati sensitif.


"Masuk kamar duluan ah, mau tidur. Kayla mainannya benahin ya. Jangan ditinggal pergi gitu aja."


Dibanding anak seusianya, Kayla termasuk sangat pendiam. Tidak seperti abangnya yang berisik mirip petasan.


Diajak bicara ayahnya pun dia cuma mengangguk sebagai balasan.


"Awan, ntar temenin Kayla pipis dulu sebelum tidur."


Mira sengaja tuh pergi setelah Om Pras menjauh biar Awan yang beberes sampah kertas.


Awan mau mengamuk tapi takut diusir semua orang. Mira dibiarkan malah ngeledek.


"Nanti kalau udah gede jangan tiru si Mira ya, La. Jangan nyusahin abang."


Kayla berkedip mencerna maksud kakaknya.


Awan pungut satu per satu kertas made in Kayla dan Mira disertai gerutuan yang tidak bisa diterjemahkan oleh alien sekali pun.


"Adek abang harus pemberani! Kuat! Cerdas!" tambahnya tersenyum.


"Dia paham gue ngomong gak sih?" pikir Awan kemudian.


"Ada yang mengikuti Kakak Mira."

__ADS_1


Satu sudut bibir Awan tertarik tidak langsung percaya. "Siapa? Palingan Fani. Kamu kenal juga, kan." Tangannya masih sibuk memungut sampah jajanan bekas mereka.


"Lain."


Awan berhenti melanjutkan kegiatan lalu tatap muka adik kecilnya yang bisa melihat makhluk tak kasat mata.


Biasanya saat memberitahu sosok apa dan bagaimana mereka Kayla akan tersenyum, tertawa, atau menangis sebagaimana energi yang mereka berikan.


Kali ini Kayla tampak murung. Awan pikir ini kali pertama adiknya kelihatan bingung.


"Siapa, La? Yang ikutin Mira."


"Gak boleh dikasih tau," kata Kayla terbata-bata setelah diam lama.


"Kenapa gak boleh? Jahat?"


Awan serius bertanya. Kayla lebih peka dari mereka yang dewasa sebab tidak peduli lihat ini itu.


Anak kecil sepertinya masih memandang bebas semaunya.


"Hm, jahat."


Kayla menundukkan kepala, menarik kertas origami lagi dan membuat kapal yang diajarkan Mira.


Awan melihat sekitar. Ya kosong, tidak ada makhluk khusus yang membuatnya bereaksi lain lantaran mereka saling kenal cukup lama.


"Ada di mana?"


"Gak tau."


"Kok gak tau?"


"Gak boleh dikasih tau."


Kayla mengatakan hal sama.


"Dia bilang sesuatu ke kamu gak?"


Awan menunggu jawaban adiknya.


"Bawa... "


"Bawa apa?" potong Awan tak sabar.


"Mira... "


"Hah?"


Kayla bangun memeluk leher abangnya.


"Kenapa, La?" Awan bingung sama ucapan adiknya, terus tiba-tiba dipeluk.


"Takut."

__ADS_1


__ADS_2