Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Pemisah Dua Dimensi


__ADS_3

Jefri mencekal dan menarik Surya sehingga jarak mereka terlalu dekat.


"Kenapa lo, Jep?" Tentu Surya langsung menjauhkan diri sebelum dilihat orang lain.


Takut salah paham.


"Lo ..."


"Iya, gue kenapa?" tanya Surya.


"Lo- "


Terlalu dini menjadikan Surya tersangka dalam kasus mereka hanya karena nada siulan yang sama.


"Kebiasaan tiap ngomong setengah-setengah kek beli telor," imbuhnya turut penasaran.


"Lo bisa siul?"


Memang ada cowok yang tidak bisa siul? Surya membatin. "Gak boleh? Kata emak gue siulan bisa manggil setan," jawabnya menggaruk kepala. "Ada yang dateng, Jep?"


Jefri ragu bertanya kembali. Mana bisa dia menaruh curiga dengan manusia penakut seperti Surya.


Surya langsung sembunyi di balik punggung Jefri dan mendorongnya maju duluan memimpin jalan.


"Lo punya benteng sendiri. Benteng gue ya lo."


"Banteng-benteng apaan sih!"


Jefri tarik lehernya keluar dari persembunyian. "Sebelum lo siulan juga udah banyak yang dateng."


"Bener. Gara-gara si Japran."


Semangat menggebu-gebu dalam diri Surya muncul lagi.


"Mending pindah sekolah tuh anak ketimbang manggil setan. Panggil Japran, buat pemujaan kita korbanin dia!"


Helaan napas jengah dari orang yang bersama sejak tadi mewakili semua anak dari kelas samping yang menonton heran.


"Gue yang gila mau temenan sama kalian," kata Jefri.

__ADS_1


"Oi, Surya. Ngomong apa lo barusan? Pemujaan?"


Surya terlonjak kaget suara Zafran muncul dari belakang. "Astaga!" Dengan tampang menyebalkan tanpa rasa bersalah dia berbalik nanya ke Jefri, "Gak bilang ada orangnya."


"Dia dari kantor, papasan sama kita."


"Lo berniat memecah belah persaudaraan?"


"Persaudaraan, gue kira lo yang ngomong sendiri mau korbanin Zafran." Jefri menatap mereka bergantian.


Zafran mau mengejar mereka sehabis mengumpulkan makalah yang telat ke Pak Adit.


Eh tidak sengaja melihat kebusukan Surya. Tidak, pacar Dewi itu memang kurang disaring tiap bicara.


"Tega bener lo mau korbanin gue. Gue pewaris keluarga! Kok bisa kepikiran sampe sana," ucapnya tak menyangka.


"Demi kebaikan banyak orang korbanin satu pasti gak keberatan."


"Ngomong gampang banget. Emak bapak gue yang keberatan."


"Gobloknya kalian ..." Jefri tidak ikut-ikutan.


Zafran berkacak pinggang sambil terus memandang Surya yang sesekali berbalik menyuruh masuk kelas.


Sepertinya mereka lebih sering membicarakannya dari yang diperkirakan.


"Insting gue gak pernah salah."


Setelah berhasil masuk kelas, Surya masih bahas pertemuan tadi.


"Gila. Tiba-tiba nongol. Gue keciduk gibahin lagi."


Jefri memberitahu kawan-kawan ada tugas yang diberikan kemudian duduk disertai ocehan Surya.


"Gue bersyukur lo pindah ke sini, Jep. Berkat lo, itu anak jarang kesurupan dan anak-anak lain udah biasa aja."


"Tarik omongan lo tadi," suruhnya.


"Yang mana?"

__ADS_1


"Semua."


"Kebiasaan lo nyuruh kita tarik omongan. Heh, semua ucapan adalah doa."


"Berkat gue pindah, yang harusnya gak terjadi justru kejadian. Lo seneng?"


"Lho, kok marah. Kita semua sering bilang semua yang terjadi bukan karena lo doang. Mira bilang lo jembatan mereka. Anggap begitu, terus mau gimana? Lo mencegah banyak hal, Jep. Bukan buat satu orang, tapi satu sekolah."


Surya rasa Jefri belum paham dari diamnya.


"Andai jembatan itu bisa runtuh."


"Jembatan yang ini beda, Jep. Bukan sekadar jalan lalu lalang mereka dari satu dunia ke dunia lain, tapi jembatan ini berguna ngehalau mereka biar gak sembarang bisa dilewatin."


Jika jembatan runtuh, mereka pasti berbondong-bondong menyeberang alam manusia.


Jembatan ini bukan dibuat untuk jalan mereka. Namun bertujuan menghalangi setiap makhluk jahat yang hendak mengadu domba antar manusia dengan membisiki atau merasuk ke tubuh lemah.


Sesudah mencerna kalimat bijak Surya, sungguh Jefri penasaran dan akhirnya bertanya, "Lo dikasih tau Awan kan kata-kata barusan?"


"Hm?" Surya sempat berpikir bisa menasihati tanpa ketahuan dari mana asal kalimat motivasi didapat. "Gue akui ngerti dari Awan. Gue cuma menyampaikan lagi biar gak lupa."


"Awan bilang begitu. Ada yang bilang jembatan ini akan banyak memakan korban ... Lo yakin bisa mengatasinya?"


"Mohon jangan tanya gue, Jep. Pertanyaan lo terlalu berat diserap IQ rendah."


"Nanti pas udah tau jawabannya kasih tau gue."


"Berapa orang yang udah jawab?"


Jefri menunduk sebentar. "Sejauh ini baru tiga."


"Siapa aja selain Mira?" tanya Surya lesu.


"Awan. Juan."


"Apa tanggapan Juan?"


"Dia dindingnya, Sur."

__ADS_1


"What?"


__ADS_2