
Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi makam Mirza. Kilas balik bagaimana Mira menemukan pria itu tidak bernapas dan terbujur kaku di rumahnya. Kembali ke masa-masa kepribadian Mira disebut berubah seratus delapan puluh derajat. Lalu di sekolah, tempat yang sama sekali tak pernah terpikir bertemu Mirza. Sekolah itu ... Sangat tidak normal.
Mira memegang buket bunga mawar merah berjalan menyusuri blok pemakaman.
"Keknya makin banyak orang mati. Pas ke sini gak sebanyak ini. Dewi?"
Dewi melirik sinis Surya. Dasar lelaki aneh yang tidak pernah menggunakan otaknya untuk berpikir. Tentu saja setiap hari banyak orang meninggal.
Di depan ada Awan dan Juan di mana salah satunya menahan tawa.
"Surya dilendotin pocong pincang," bisik Awan.
"Jangan sompral di sini," ingat Juan.
"Gue denger nama gue disebut." Surya memang budek, tapi tidak budek amat.
Jefri bisa lihat dari samping air mata Mira menggenang. Mira bahkan tidak menghadap lurus ke depan berusaha mencari makam Mirza. Ia hanya mengikuti Jefri sembari menundukkan kepala.
Awan bisa kena masalah kalau terus lihat komuk pocong yang mengikuti Surya. Ia mempercepat jalan menggandeng tangan Mira.
Mira refleks menoleh. "Kenapa?"
"Abis ketemu Mirza, ketemu Om Alfian, Om Yanto juga."
"Pasti," sahut Jefri.
"Iya." Mira mengatur detak jantungnya yang berdebar hendak bertemu mereka.
Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Untuk ayah Jefri selama ini sudah berperan sebagai ayah untuk Mira jika ayahnya bekerja dan Mirza adalah orang yang membuat perasaannya terombang-ambing dalam lima tahun.
Setahun kenal, setahun bersama, setahun putus, dan dua tahun berikutnya mengenang. Masa lalu yang menyakitkan harus dilupakan. Dulu Mira selalu mengingat kenangannya. Sekarang yang bisa dikenang adalah orangnya.
Dewi berempati saat mereka mengitari makam Mirza. Tatapannya terus tertuju pada Mira. Dia kasihan teruntuk kisah mereka yang berakhir tragis. Dari mereka Dewi yakin memiliki kemampuan atau mata batin tidak selalu menjadi anugerah. Keinginan yang dulu sempat dicurahkan langsung dipendam sedalam-dalamnya. Dewi tidak ingin kehilangan Surya di balik ketidakgunaannya. Tak bisa disangkal Surya menemaninya sejauh ini dan bersyukur mereka baik-baik saja.
__ADS_1
Surya lagi khusuk berdoa dari ekor matanya merasa diperhatikan Dewi. "Ngapain lo liat-liat? Berdoa buat Mirza," suruhnya ngegas.
Dewi segera menunduk dan berdoa untuk ketenangan sahabatnya.
Juan menyenggol tangan Awan. "Ayo."
"Ke mana, anjir?" Awan lupa tidak boleh berkata kasar. "Astagfirullah, gak sengaja."
Jefri sengaja meninggalkan Mira dan mengajak para pria pergi dahulu ke makam orang tuanya.
"Jaga Mira. Gue minta tolong," ucap Jefri memohon pada Dewi.
"Iya."
Rambut panjang Mira yang tersapu angin lembut menutup pandangan sisi kanan dan kiri. Ia merenung dan diam sangat lama berdiri memegang bunga. Arah pandangannya hanya ke nisan yang tertulis nama lengkap Mirza, tanggal lahir, dan tanggal wafatnya.
Dewi berpindah posisi ke samping Mira. Ketika tangannya menyentuh bahu gadis itu, sangat terasa tubuhnya gemetar. Mira pasti menahan tangis.
"Waktu yang kita habisin bersama gak bakal gue lupain. Mirza, semoga Tuhan melapangkan tempat lo di sana dan mengampuni kesalahan yang gak sengaja maupun sengaja. Gue harap lo lebih bahagia di sana dan ngawasin kita dari atas." Betapa ironisnya Dewi mewakili kalimat yang tidak bisa Mira ucapkan.
"Maaf gue gak bisa bilang apa-apa di sini."
Di sela-sela isakan Mira, Dewi menyeka air matanya yang mau turun. "Gapapa. Gapapa, Mira." Dewi mengusap punggungnya.
"Maaf selama lima tahun gue nyusahin lo, Mirza. Gue minta maaf. Lo selalu berusaha lindungi gue, tapi gue gak bisa lindungi lo. Gue minta maaf ..."
Dewi mengangguk paham. "Semua orang paham Mirza sayang banget sama lo. Udah jangan nangis, gue ikut sed- hiks, sedih ..."
Di saat terakhir Mira tidak peka Mirza kesakitan. Mira terus mendorong pria itu pergi karena sudah memutus hubungan meskipun Mirza selalu berusaha mendekatinya untuk pamit. Mira menyesali keegoisannya.
Makam Alfian dan Yanto tidak begitu jauh dari makam Mirza. Dari kejauhan Surya lihat mereka menangis bersama. Yang paling dia kasihani adalah Mira sebab punya penyesalan tersendiri.
"Ahh."
__ADS_1
******* berat Surya menuai kontroversi. Juan langsung membebaninya dengan sarkastik.
"Kepanasan? Pulang sono."
Awan menyuruh Juan lihat dua perempuan di sana terisak-isak. "Dia kasian liat mereka. Jangan bikin orang marah kek."
Juan menghela napas. "Terus hubungannya sama gue apa?"
Jefri selesai berdoa. "Gue langsung ke mobil."
Awan mengintili Jefri. "Awas jangan injek kuburan orang."
"Bawel lo."
Kala Juan dan Surya saling pandang, mereka sama-sama buang muka.
"Jangan pura-pura kuat. Gue tau lo begini buat nutupin rasa bersalah juga. Kita gak ada bedanya sama Mira. Fokus sembuhin diri sendiri aja dan hidup lebih baik."
Memang apa yang dia perbuat, batin Juan. "Gue gak salah denger?" tanyanya disertai senyum sekilas dan langsung berubah flat.
"Lagian Mira mau pergi. Perlakukan dia dengan baik. Waktunya gak lama lagi."
Surya meninggalkan Juan di sana menelan ludah sendirian di bawah terik matahari.
"Sialan," lirih Juan membalikkan badan menghadap pohon kamboja putih belum ingin pergi sekalian menunggu Mira dan Dewi.
Apa yang dikatakan Surya tidak salah. Berbagai cara mereka mengelabui satu sama lain, namun otak terus berpikir dan hati terus merasakan.
Saat berkumpul mereka banyak tertawa. Jika sudah masuk kamar langsung berbaring dan flashback semua hal.
Alih-alih bercerita padahal mereka punya masalah pribadi dan luka yang mungkin belum sembuh, diam menyendiri dan membiarkan air mata keluar satu-satunya cara semua orang bertahan.
Yakinlah sekarang untuk bernapas bebas saja sulit. Mereka percaya apa yang Tuhan persiapkan akan tiba. Bersandiwara menyemangati diri sendiri dan orang lain di awal hari dan menangis di waktu sebelum tidur sekali lagi untuk keseimbangan hidup.
__ADS_1
Tetaplah bersama. Hanya itu yang mereka inginkan.