Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Jefri ke Rumah Irlan


__ADS_3

Jefri melepas sepatunya begitu masuk rumah Irlan. Sama seperti kata pertama yang Mira sebut dalam hati, megah.


"Pake sendal, Jef."


Jefri tersenyum, memakai sandal selop hitam yang dipinjamkan Irlan untuknya.


Tentu punya rumah sebesar ini tidak akan dibiarkan debu menempel.


Jefri harus berhati-hati, segala ucapan dan tindakannya bisa meninggalkan kesan pada penghuni lain di rumah ini.


"Mau langsung ke belakang?"


"Tunjukkin aja di mana kolam renangnya. Barangkali lo mau mandi apa ngapain.. "


Mereka melewati ruang tamu dan masih harus lurus terus ke belakang ke kolam renang.


"Lo gak mau diliatin selama fighting?" Irlan terkekeh, tapi khawatir juga membiarkan Jefri melawan hantu air sendirian.


Jefri tidak mudah dikalahkan. "Cuma satu, kan?"


"Berharap rombongan?"


Maksud Jefri kalau hantu airnya ada lebih dari satu barangkali tidak kuat dia mau kabur saja.


Irlan menggeser pintu ke halaman belakang. Kemarin datang bersama Mira, kini dengan Jefri.


Beruntung sekali hantu air di rumah Irlan bisa bertemu mereka.


Jefri melihat-lihat sekitar dahulu sebelum mulai.


Irlan mengawasi dari tempatnya berdiri.


Pantulan tubuh Jefri di air kolam berarus cepat cukup menandakan ada energi lain.


"Gak lama kan, Jef?" Irlan bertanya dari belakang.


Mata Jefri terpejam beberapa detik. "Mau ikut gue?" Dia menoleh, menunggu jawaban Irlan.


"Gue mau bantu, tapi gak tau caranya."


"Jangan masuk ke air sebelum gue keluar," pesan Jefri.


"Berapa lama? Lo bisa ber- "


Jefri melepas sandal.


Byurr!

__ADS_1


Irlan berlari kecil ke pinggir kolam. Kepalanya sedikit melongok ke bawah melihat Jefri di dalam air.


"Pasti bisa berenang.. " Irlan yakin.


Sesungguhnya selama Irlan menunggu Jefri muncul, benaknya bertanya-tanya apakah yang dia lakukan dengan gaya batu.


Jefri seperti menahan napas dalam air dalam posisi berdiri.


**


Meski matanya terpejam dan tidak bernapas setelah masuk air, jiwa Jefri bertemu dengan hantu penunggu berwujud wanita berambut tipis panjang, bola matanya semerah api, dan berkulit ungu lembab sehingga urat-uratnya terlihat menonjol.


Di depan Jefri sekarang ada sebuah pusaran air bercahaya merah yang merupakan batas alam manusia dan alam ghaib.


Jiwa Jefri masuk ke pusaran mengakibatkan dia kelihatan diam dari pandangan Irlan.


"Aku suka perempuan itu... "


Jefri tak ingin banyak bicara. Dia keluarkan wadah tabung kecil menyebabkan hantu air terhisap masuk.


**


Darr!


Irlan mundur menjauh dari pinggir kolam begitu menyaksikan pusaran air meledak ke permukaan.


"Jefri lo baik-baik di sana, kan?"


Jefri menyelesaikan urusannya. Dia kembali ke raga dan segera muncul ke permukaan air mengambil udara sebanyak-banyaknya.


Irlan sangat lega Jefri masih hidup.


"Gue kira lo lupa napas, Jef."


Jefri berjalan ke tepi dan naik dibantu tangan Irlan.


Mereka duduk bersebelahan dekat kolam.


"Kuat lo tahan napas setengah jam? Anjay."


"Sebentar dong?"


"Harusnya lama berarti?"


"Nggak.. " Jefri hanya enggan negosiasi dengan hantu atau jin yang berniat mencelakai anggota keluarganya. "Nih, simpen boleh, buang lebih bagus."


Irlan tak menerima begitu saja Jefri menyodorkan wadah kecil. Irlan justru heran dan sedikit suuzon dikerjai.

__ADS_1


"Apaan?"


"Ada di dalam sini." Bola mata Jefri melirik sekilas ke air.


Irlan menolak halus. "Buat lo. Gue ikhlas dunia akhirat."


Mereka terdiam sesaat memandang langit senja.


Irlan tentu bersyukur Jefri mau membantunya.


Jefri lebih bersyukur hantunya telah lenyap.


"Kalau tutupnya dibuka bakal keluar lagi kayak di film "Aladdin" ?"


"Harusnya gak ada. Gak sekadar dimasukkin doang."


"Hilang? Lenyap kek ditelan bumi?"


Jefri menggaruk tengkuk leher bingung cara menjelaskan supaya mudah dimengerti.


"Sesuai niat. Hm, alih-alih cuma nyegel hantu, gue maunya dia pergi dari sekitar kalian. Paham?"


"Wih!" Irlan merangkul Jefri saking terlalu semangat dan bangga.


"Lan." Jefri memanggilnya.


"Apa?"


Entah harus mengatakan ini atau tidak, Jefri tetap ingin memberitahu Irlan.


"Lo inget perumpamaan Zafran, Mira, sama gue, kan?"


"Pintu, tangga, jembatan. Betul gak sih? Apa salah?" Irlan rada lupa.


"Pintu selalu terbuka. Butuh tangga buat nyeberang. Ada saatnya jembatan itu rusak atau roboh ... Lo bisa bantu mereka nyeberang?"


"Hah? Gak ada jembatan terus cara nyeberangnya gimana, oncom?"


Memikirkan itu Jefri rasa sangat rumit.


Irlan tidak salah, Jefri lah yang kurang tepat membuat kiasan.


"Emang di bawah jembatan ada apaan sampai gue harus bantu mereka nyeberang?" Tepat sekali pertanyaan Irlan.


Jefri tanpa ragu menjawab, "Sungai tempat roh gentayangan terus ada tanpa berhenti layaknya arus."


Ludah Irlan ditelan paksa. "Ter- terus gak ada jembatan pakai perahu? Kapal? Asal bukan getek aja."

__ADS_1


"Seberangin langsung. Jalan lawan arus."


"Inilah definisi punya otak tapi gak punya pikiran."


__ADS_2