
Mereka tiba di sekolah dengan selamat tanpa kendala menjelang fajar.
"Wan, tolong bawain tas gue." Mira mengulurkan tasnya setelah turun dari bus.
"Bawa sendiri," ucapnya judes. Segala meninju tas Mira yang beratnya tak seberapa. "Enteng gini."
"Sini gue bantu." Irlan menenteng tas Mira padahal sudah menggendong ransel besar.
"Makasih."
Zafran menunggu semua orang keluar daripada berdesakan mencium berbagai aroma. Ya mending wangi parfum.
Dia diam-diam memperhatikan gelagat teman sekelasnya dari yang jarang atau bahkan tak pernah mandi selama menginap lantaran suhu air begitu dingin. Sialan.
"Keluar dah lo semuaa!"
Jefri naik satu langkah ke dalam bus. "Udah sepi. Siapa lagi yang lo suruh keluar?"
"Oh, orangnya udah semua." Berarti yang dilihat bukan orang.
Zafran bergegas menyeret tas, berat kalau dijinjing sambil turun berkumpul bersama yang lain.
"Udah, kan? Pulang yok!"
Irlan menjitak kepala Zafran. "Tunggu Pak Adit."
Awan masih mengantuk akhirnya menduduki koper.
"Lo tidur pules banget," kata Mira.
"Lo mimpi buruk?"
Awan menyindir, "Masalah hidup dibawa tidur gimana gak mimpi buruk."
"Lo harus baca doa sebelum tidur." Zafran turut menceramahinya.
Mira mengepalkan tangannya yang menggenggam gagang koper. "Harusnya gue terusin mimpi tadi biar tau ending hidup mereka berdua."
"Mimpi apa sih?" Jefri turut penasaran.
"Anak-anak! Ya, alhamdulillah kita selamat sampai sekolah. Setelah sampai rumah langsung istirahat, tetap jaga kesehatan, besok kita ketemu lagi di kelas. Oke?!"
"Ahhh, bosen kali ketemu mulu!"
"Kena mental harusnya cuti tiga hari gak sih?"
"Au dah, balik aja balik!"
__ADS_1
Pak Adit dengan segenap pemahaman seluruh muridnya menahan senyuman. Beliau tetap berdiri di tempat menunggu mereka bubar mengambil kendaraan masing-masing di lapangan.
Jefri, Mira, Irlan, Zafran, dan Awan yang berdiri paling belakang masih belum bergerak padahal paling pertama minta pulang.
"Kalian mau nginep di sekolah?"
Pertanyaan gurunya itu sama sekali tidak lucu.
"Mending saya gak tidur semaleman," cetus Zafran langsung berbalik menghubungi Iptu Ridwan sedang berada di mana.
Pak Adit mengangguk satu kali. "Saya paham. Kalian bagaimana?"
"Dewi udah pulang sama Surya?" Mira bergumam mencari keberadaan dua makhluk itu.
"Udah lah!" ketus Awan.
"Gue ambil motor dulu. Tunggu di sini," ujar Jefri.
"Hm." Kepala Mira menoleh ke Awan. "Lo gak ambil motor?" Tumben banget dia buka hape di jalan biasanya ngeluh tidak ada yang chat.
"Sabar."
"Kan nanya." Kenapa sih dia sensi sekali habis pulang? Apa ketempelan jin? Bisa jadi.
Awan memasukkan ponsel sedikit gugup gara-gara Mira mendekat.
"Belaga lo kayak sembunyiin pacar dari gue."
"Lo gak mimpi aneh selama di sana?"
"Maksudnya?"
Mobil Iptu Ridwan berhenti dihadang Zafran.
"Stop, stop! Kok saya mau ditinggal? Berangkat bareng, pulang bareng dong!"
Kaca mobil samping terbuka setengah. Iptu Ridwan membalas, "Saya ada perlu di Polsek."
"Terus saya balik sendiri?"
"Kamu punya banyak sopir, tinggal telepon masih gak bisa pulang?"
Tangan Zafran mencengkeram kaca sambil berlinang air mata. Jelas dia akting.
"Mental saya terguncang lho, Pak. Apa bapak tega meninggalkan saya di antara mereka?" Zafran menunjuk mereka yang tidak bersalah dalam hal apa pun.
"Kumat lagi tuh anak," desis Irlan.
__ADS_1
"Ketimbang lo nanya gak bermanfaat, mending seret Zafran ke sini. Malu-maluin."
Mira menghentakkan kaki kesal menghampiri pria itu dan langsung menarik tudung jaketnya. "Maaf ganggu perjalanan bapak. Silakan, Pak. Hati-hati di jalan, gak perlu ngebut asal selamat sampai tujuan."
"Untung ada kamu."
Melihat mereka saling pandang mencurigakan, Zafran melepas tangan Mira dari pakaiannya.
"Lo kira gue kucing!"
Mira mendelik tajam seperdetik kemudian tersenyum memberi jalan Iptu Ridwan. "Makasih udah jaga saya di vila, Pak!"
"Dia bukan jaga lo doang, tapi semua orang!"
Lama-lama Zafran dan Awan satu frekuensi ya. Mereka kerap suka membesar-besarkan masalah.
"Gak usah akting, akting lo jelek. Pak Ridwan mana mempan sama air mata lo!"
"Belain tuh om-om!" Zafran frustasi dan kesal. "Irlan! Pulang bareng!" Dia melihat mobil berhenti tepat di depan Irlan, pasti sopirnya.
Irlan tak masalah temannya nebeng. "Masuk."
Mira berkacak pinggang mengamati tengilnya lelaki yang jarang merasa berdosa sudah merepotkan banyak orang.
Jefri yang baru sampai melihat bibir Mira dan Zafran menye-menye saling ledek bertanya pada Awan, "Kenapa mereka?"
Awan nyelonong pergi disertai tatapan malas jawab.
"Jef, kita duluan!" Irlan berpamitan.
"Ya, tiati."
"Kenapa lo gak bawa mobil sih!" Mira capek harus nahan bobot koper di atas pahanya.
"Belum boleh dibawa ke sekolah."
"Temen gue yang bener cuma Irlan sama Dewi," lirih Mira sembari mengangkat koper dulu ke jok belakang.
"Kok gitu?"
Buset. "Denger?"
Kebiasaan perempuan ditanya justru nanya lagi. "Buruan naik."
Kaki Mira naik ke motor. "Kuping lo terbuat dari apa sampe denger bisikan gue. Eh gak deng, bisikan setan juga lo bisa denger ya, Jef?"
"Udah?" Jefri tidak mau posisi duduk Mira tidak membuatnya nyaman karena koper.
__ADS_1
"Kalau ada mahasiswa skripsi jadiin lo tesis mau gak? Judulnya, Pendengaran Manusia Menembus Dimensi Lain. Gimana?"
"Jangan gila ya lo."