Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Sulit Percaya Ini Nyata


__ADS_3

Awan menepuk bahu Jefri dari belakang. "Kok berhenti?"


Hana mendekati putrinya tanpa mengatakan sesuatu, hanya pelukan yang bisa ia berikan.


Hana ragu bisa menghibur Mira di hari berkabung. Beberapa terlibat dan canggung menyapa.


Ratih bicara dengan Pras, juga mempertanyakan di mana Haryo dan Juan.


Pras menjelaskan semua yang terjadi. Hana tercengang anaknya lah yang menemukan Mirza di rumah. Hana memeluk erat Mira. Mira pasti sangat ketakutan dan belum percaya.


"Jefri mau masuk dulu."


"Gue juga."


Baru dua langkah maju, baik Jefri maupun Awan berhenti atas larangan yang diberi Mira


"Gue gak izinin kalian masuk."


"Mira, jangan begitu. Mereka temannya Mirza juga," ucap Hana.


"Kita mau doain-" Awan hendak maju bicara langsung pada Mira tetapi tangan Jefri menghadang badannya.


"Tunggu di sini." Jefri menghela napas sabar.


Mereka menepi ke tembok, berdiri diam menunggu sampai Mira mengizinkan. Jefri yakin dia tidak bermaksud melarang mereka. Itu hanya emosi kala melihat pembohong dan pengkhianat.


Jika Jefri adalah Mira pasti merasakan hal sama.


"Juan," sebut Awan ketika melihat Juan beriringan bersama Om Haryo.


Seperti biasa apabila Juan dipertemukan dengan Jefri dan Awan, mereka ibarat minyak dan api.

__ADS_1


"Dari dulu gue gak pernah seneng sama tatapannya," bisik Awan pas Juan lewat melihat mereka.


Jefri suruh dia diam. "Ssutt!"


Haryo berkata, "Sebentar lagi mobil jenazah datang. Mirza dibawa dulu ke rumah. Saya dan Pras yang urus semuanya."


Pras berkata, "Juan, Mira, sama Hana ikut mobil saya."


"Aku ama siapa, Pah?" Anaknya tidak diajak satu mobil? Lantas?


"Kamu temenin Jefri sama ibunya," jawab Pras.


"Papa ngikutin Mirza?" Juan bertanya.


Haryo mengangguk pelan. "Hm. Saya ke luar sebentar." Dia mengusap kepala Mira sesaat. "Sabar."


Mudah mengucapkan sabar, menerapkannya sulit.


"Lo sms Dewi dulu. Dia kan otewe ke sini juga," ingat Awan.


Tentu Awan bawa handphone. Dia yang mengabari Dewi akan pindah tempat ke rumah Mirza.


"Mira mau ikut Om Haryo." Dia mendadak berubah pikiran.


Hana menginstruksikan Pras turuti kemauannya.


"Samperin mumpung belum jauh," ujar Pras.


Mira berlari mengejar Om Haryo. Juan berdiri mau ikut mereka. "Saya pamit ikut Papa."


"Lah, gue mau- " Awan mau ikut mereka.

__ADS_1


"Heh!" Jefri melirik Om Pras sudah berkacak pinggang.


Bisa-bisanya mau pergi semua. "Bapak kamu di sini. Jangan ke mana-mana," ujar Pras tegas.


Bahu Awan merosot. "Gue mau ketemu Mirza susah banget," eluhnya cuma bisa didengar Jefri.


"Nanti pasti bisa."


"Kapan?"


"Pas masuk liang lahat, lo masuk juga."


"Anjrit jokes lo gak masuk, Jef. Kita lagi berduka goblok."


"Makanya tunggu."


Keluarga mereka lah yang mengurus jenazah Mirza dari pemandian hingga pemakaman. Juan kepikiran perasaan Mira. Di mobil jenazah menuju rumah, dia sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya.


Setelah pemakaman selesai mereka kembali ke rumah besar, masih di Bogor. Pras dan Haryo sedikit memberi wejangan untuk anak-anaknya, terutama mereka yang dekat dengan Mirza.


Mira dengar, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Buat menghirup oksigen pun berat sekali hidup dalam bayang-bayang kematian para temannya.


Awan kira pindah hidup di Jakarta bakal menyenangkan. Bisa bertemu gadis anggun dan berpacaran. Ternyata hidupnya tak jauh dari kata horor. Kepalanya mau meledak.


Jefri tidak mau memutuskan semua hal sendirian lagi. Dia kapok. Intinya perasaan orang lain lebih penting.


Surya dan Dewi hadir sejak pengajian. Mereka berdua duduk di belakang Juan. Memandang satu per satu wajah berduka, yang paling jelas adalah Mira.


"Mira gak bakal depresi, kan?" lirih Surya.


"Malaikat baru aja catet dosa lo," kata Dewi. "Dengerin orang tua lagi ngomong."

__ADS_1


Mira sempat berpikir semua yang terjadi hari ini adalah penglihatan yang diberikan Sanjaya. Semuanya tidak nyata dan Mira bisa mengubah setelah sadar dari mimpi.


Apakah ... Mirza sungguh meninggalkannya secepat ini?


__ADS_2