Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Ketakutan Setengah Mati


__ADS_3

Mereka sungguh piknik langka. Menginap di vila tengah hutan. Satu kilometer dari luar adalah jalan raya penghubung desa.


Satu kamar berisi empat orang. Tentu diacak, mereka pilih sendiri.


"Jefri gak kasih jimat gitu biar gaada gangguan?" tanya Dewi sembari membuka koper mau bergilir mandi.


"Gak main begituan," jawab Mira membaca agenda mulai nanti malam.


"Nuri sama Astuti mandi lama banget!" Dewi bergerak menggedor pintu kamar mandi. "Woi buruan! Ngantri tau gak!"


"Sabar! Masih lama!" sahut Nuri dari dalam.


"Sepuluh menit lagi gak keluar juga gue dobrak!" ancam Dewi.


Mira memeriksa lagi. Malam nanti jadwal mereka berkeliling ke pasar malam yang diadakan warga desa.


"Gue benci banget berdiri di keramaian." Mira meletakkan kertas agenda sembarang tempat dan keluar mencari Awan. Biasanya dia mau diajak ngumpet.


Tapi sepi sekali di tiap lorong vila. Cuma suara-suara random dari dalam kamar.


Tepukan di bahunya sedikit mengejutkan. Mira membalikkan badan dan tersenyum kikuk ternyata Iptu Ridwan, orang yang malah tidak ingin dia temui.


"Perlu sesuatu?"


"Ng-nggak."


"Bilang aja mumpung saya keliling."


"Kayak ngepet," batin Mira. Dia menambahkan, "Cuma di sini aja. Gak ke mana-mana."


Mira kan mau ke vila cowok. Apa boleh minta tolong temani ke sana? Ya kali saja bisa sedikit mengalihkan perhatian dari penghuni tak kasat mata yang ada di sini.


"Oke. Saya lanjut jalan."


"Bentar!" tahan Mira refleks memegang lengan Iptu Ridwan. "Sebetulnya saya mau ke vila cowok. Ada urusan sama sepupu saya ... Pak."


Aneh panggil pria di hadapannya "Pak". Masih muda soalnya.


Iptu Ridwan menganggukkan kepala. "Ikut saya."


Mira mengikuti Iptu Ridwan dari belakang. Banyak yang lalu lalang di sudut matanya. Mira tak ingin lihat sebab bisa teriak kapan saja.


Di depan polisi mana bisa dia meminta perlindungan hantu. "Bisa dikatain gila gue," batinnya frustasi diikuti arwah wanita penasaran.


Jalannya lempeng mengambang di belakang Mira. Gadis itu merasa dikuntit sejak keluar vila dan tak sengaja tatapan.


Iptu Ridwan sama sekali tidak mengajak bicara. Mungkin karena dia sedang bertugas dan profesional.


Tepat ketika Awan baru keluar dari vila setelah di-sms Mira beberapa menit lalu, pria itu melihat mereka diikuti satu sosok.


Mira kaget arwah wanita yang memiliki energi sedih mencoba menyatu dengan raganya. Dia  terjengat menjerit dan kedua kalinya refleks memegang tangan Ridwan.


"Kamu kenapa?" Bagi Ridwan kondisi Mira mengkhawatirkan.


Sebelum sampai di depan vila cowok, dia dengar jelas Mira merapalkan ayat kursi secara berulang di belakangnya. Menahan teriak seperti kaget bertemu hantu padahal tidak ada apa pun. Sebenarnya kenapa anak ini? Itu yang ada di kepala Ridwan.


"Ga-gapapa." Mira menggeleng. "Awan!" Dia langsung melepas tangannya. "Maaf, eh makasih. Aduh gimana ya." Mira bingung sendiri harus meminta maaf sudah menyentuhnya atau berterima kasih sudah mengantar.


Awan mengecek sekeliling Mira. "Gapapa. Udah pergi."


Ridwan merasa dirinya harus pergi. "Saya?" lirihnya lantaran tak ada orang lagi.


Zafran dari luar habis cari sinyal berpapasan dengan mereka. "Oy!"


Awan menghujami omelan. "Lo dibilangin jangan ke mana-mana. Udah sore!"


"Sinyal susah banget."


"Minta temenin Irlan atau siapa kek." Pandangan Awan berhenti ke Iptu Ridwan. "Ajak Pak Polisi nih."


Zafran berdecak. "Ck, perkara dunia lain bukan servernya. Lain cerita."


"Maksudnya?" Ridwan tahu tapi minta diperjelas.


"Gak penting," pungkas Zafran. "Gue tadi liat harimau di luar. Punya- "


"Harimau? Di mana?" Iptu Ridwan mau ke tempat yang dimaksud.


Zafran segera mencegahnya pergi. "Bukan harimau beneran. Lagian cuma bisa diliat sama orang tertentu. Bapak anteng aja di vila jagain yang lain."

__ADS_1


Awan menyunggingkan senyuman ke Iptu Ridwan. "Nanti liat kok."


Mira menoleh bingung, sama dengan Zafran.


"Emang bisa kebuka mendadak?" Zafran jadi kepo.


Tanpa menjawab Awan menarik Mira pergi dari situ ke teras vila sebelum Jefri keluar.


"Gimana tadi? Pak Ridwan bisa liat harimau yang diliat Zafran? Emang iya?"


"Dia nyerap energi lo yang hampir kerasukan tadi," jelas Awan kemudian duduk tenang.


"Berarti semuanya bakal diliat sama dia? Bahaya dong."


"Gak semua," ralat Awan. Seperti yang diketahui, menyentuh mereka saat koneksi tersambung bisa melihat energi bahkan sosok yang sama.


Surya, Dewi, dan Irlan sudah merasakan sebelumnya. Mereka diteror suara-suara aneh sampai insomnia beberapa hari.


"Jarang banget polisi liat hantu," kekehnya.


Mira mendelik. Awan terlihat menantikan momen itu. Padahal melihat hal baru pasti mengejutkan mentalnya. Kasihan, tapi Mira tidak bisa apa-apa. Dia yang menyebabkan ini.


**


Setelah maghrib Dewi merinding tiap dekat Mira. Pasalnya gadis itu kerap mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan keinginannya.


"Gue mau tinggal di sini selamanya." Begitu katanya. Kemudian berubah pikiran. "Gak bisa. Gue punya rumah di Jakarta."


Seperti sekarang. Dewi makan mie instan sambil mencerna tiap kalimat yang dikatakan Mira.


"Mira? Lo baik-baik aja?" tanya Dewi.


Bukan cuma itu. Ekspresinya pun berubah dengan cepat dari senang ke sedih.


"Mira punya bipolar kali," kata Nuri dari tempat tidurnya berdandan mau kegiatan jam delapan nanti.


"Sembarangan lo, Nuri." Astuti rasa bukan bipolar. "Gue sekelas sama Jefri lumayan lama. Jadi gue agak kena hotspot. Gue gak enak badan tiba-tiba, anjir."


"Gue juga merinding." Nuri mengkonfirmasi.


Astuti menghampiri Mira dengan tatapan kosongnya dan mendorong pelan punggungnya.


Cara Mira menoleh sangat pelan dan tatapannya mematikan sampai Astuti menelan air liur sendiri.


"Kenapa?" Mira bertanya.


Terlepas dari fakta Mira spesial. Tak ada yang tahu orang itu kenapa. Mereka berasumsi banyak hal.


Mira menghela napas mereka kaget.


"Dewi." Dia yakin kali ini sadar.


Dewi jawab, "Kenapa? Lo aneh banget tau gak. Dikit-dikit ngeluh. Terus senyum sendiri. Lo kenapa sih?"


Mira mengecek dahi dan lehernya. "Gak panas." Dia lantas menepuk pipinya bersamaan. "Gue aneh gak sih." Dia yang takut dengan perasaannya sendiri.


Astuti dan Nuri langsung duduk di belakang Dewi.


"Apaan sih, gak lucu ah! Ada apa?" Nuri deg-deg an setengah mati.


"Gue denger bisikan aneh, Dewi." Mira mengaku.


Dewi takut tapi pura-pura berani sekarang. Mereka bisa kalang kabut keluar kamar dan membuat gempar satu vila jika Dewi takut juga.


"Mira aneh, Dew." Nuri memukuli ringan punggung Dewi.


"Sakit tau!"


"Telpon Jepri, Dew!" suruh Astuti.


"Gue gak ngerti apa-apa lagi," gumam Nuri.


Dewi mencari kontak Jefri dan menghubunginya. Mira benar-benar meresahkan.


"Ada sungai di sana mau ke sana ah."


Mira tiba-tiba berdiri. Mereka sontak menahan kakinya supaya tidak berjalan.


"Ngapain lo ke sungai, ******? Mau jadi bidadarinya Jaka Tarub?" ujar Astuti. "Berat banget!"

__ADS_1


"Hapenya Jefri gak aktif," ujar Dewi.


Nuri berdiri di depan Mira dan bisa melihat dengan jelas dia tak berkedip. "Lo berdua jangan kasih tau siapa-siapa ya!"


"Hah?"


Plak!


"Sori gue sengaja, Mira." Nuri menampar Mira supaya akal sehatnya kembali.


Dewi histeris Mira mendapat tamparan sampai wajahnya berpaling ke samping. "Woi! Gila lo, Nuri!"


Mira mengusap pipinya yang panas. "Kenapa nampar gue ..."


"Tuhkan!" Dewi menyalahkan Nuri.


Nuri malah bangga. "Sadar kan abis gue tabok!" Dia tertawa lega.


Astuti bertanya mengapa ekspresi Mira berubah lagi tapi bukan senang atau sedih, melainkan takut hingga berhenti napas dan terduduk mundur takut.


"Kenapa lagi, Mira? Lo jangan gini dong! Gue takut bego!" Astuti menangis tidak tahu harus apa di keadaan sekarang.


Dewi mengambil selimut dan menutupi Mira dengan itu. Dia memeluk Mira yang ketakutan.


"Tutup mata. Jangan liat."


"Lo ngapain nangis bego?" Nuri jadi nangis juga. "Udah! Bantuin Dewi sono!"


Mira melihat laki-laki menyerupai Surya tanpa mata. Bagaimana bisa jin itu menyerupai sahabatnya semata-mata menakutinya?


"Ma-mama ..." Mira akhirnya menangis dalam pelukan Dewi. "Mama ... hiks, Mama."


Seharusnya dia bisa menahan diri tidak ikut dalam liburan kali ini.


Dewi membentak Nuri dan Astuti. "Panggil Jefri suruh ke sini langsung!"


Mereka mengangguk dan segera pergi ke vila cowok.


Kaki mereka langsung mengerem tanpa dipinta tatkala menyaksikan suasana mencekam vila tempat anak cowok lebih ramai dari seharusnya.


Hampir keseluruhan berada di teras. Nuri dan Astuti mendengar teriakan dan tawa kencang dari dalam sana.


"A-ada apa nih?" Nuri memberanikan diri tanya salah satu teman angkatannya.


"Biasa. Si Zafran kesurupan."


"Je-Jefri ada di dalem dong?" Astuti panik. "Gimana nih ... Mira juga butuh dia."


"Awan juga?" imbuh Nuri.


"Jefri, Awan, Surya, Irlan, Pak Ilman, Pak Roni, sama satu lagi Pak Ridwan di dalem semua."


"Pak Adit?"


"Lagi bantu juga. Bukan Zafran doang yang kesurupan."


"Hah? Anjrit gue bingung di sini ngapain kalau bukan panggil salah satu dari mereka," kata Astuti.


"Kenapa emang?"


"Panggilin Pak Adit deh tolong!" pinta Nuri mendesak. "Pak Adit wali kelas temen gue. Temen gue butuh."


"Oke. Tunggu."


Tidak lama kemudian Pak Adit datang. Astuti sedikit mundur melihat penampilan guru itu kacau.


"Kalian di sini. Ada apa?" Pak Adit menyeka keringat menggunakan tangan.


"Mi-Mira ..."


"Mira kenapa?" Raut Pak Adit seribu kali lebih kaget.


Nuri dan Astuti saling tatap.


"Dia aneh. Bentar-bentar berubah. Omongannya ngelantur gak jelas. Dia bilang mau ke sungai untung berhasil ditahan," jelas Nuri.


"Kita takut makanya ke sini. Dewi suruh panggil Jefri tapi ternyata Zafran kesurupan." Astuti menggaruk kepala kesal. "Pak, ke sana bentar ya. Tenangin Mira. Kita berdua panik banget gak bisa apa-apa."


Ada apa malam ini? Kegiatan belum dimulai sudah ada bencana.

__ADS_1


"Ayo ke sana."


__ADS_2