Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Minta Tutup Mata Batin


__ADS_3

Kebiasaan menggosip sebelum guru datang sudah mengalir di darah semua murid.


Grup tiap kelas digegerkan dengan berita uji nyali yang dilakukan beberapa anak dari kelas 11B dan 11G. Meski benar, Pak Adit dan Pak Ilman menyebar jawaban bahwa rumor itu tidak benar dan mereka dilarang menyebarluaskan.


Dewi memasuki kelas dengan kaki pincang. Dia keseleo dan efeknya masih terasa walaupun sudah dipijat.


Irlan mempertanyakan kondisinya. "Dew, mendingan?"


"Kalem." Dewi justru mengkhawatirkan kondisi Mira. Dia memandang Irlan sebelum duduk. Mengapa Mira melamun?


Oh iya. Dewi mau tanya ke Zafran soal itu.


"Zafran."


Zafran melepas earphone-nya. "Kenapa?"


"Lo yang lapor ke Pak Adit, kan?"


Irlan menjelaskan singkat. "Dia takut kita ada apa-apa."


Muka Zafran maju lalu berbisik, "Gosip di grup ... Hoaks, kan?" Dia ragu mereka membuat keributan karena dua orang heboh minta liat setan. "Ada Jefri, secara langsung dia nge-handle kalian. Gue gak ikut karena langsung pulang, tapi khawatir gegara kalian susah dihubungi. Jadi gue telepon Pak Adit."


"Lo harus tanya gue," ujar Irlan.


"Dia ketua kelas kita, ngapain juga lo peduli."


Mira bergeming seperti bukan dia saat mendengar teman-temannya mengobrol.


"Cek Mira kesambet gak?" bisik Zafran. "Dia diem mulu dari pertama dateng."


"Sama siapa?" tanya Dewi.


"Jefri." Zafran sudah duga bakal terjadi sesuatu kemarin sore. Usai mendengar permintaan bodoh itu firasatnya buruk.


Tadi pas bertemu Mira dan Jefri di tangga, mereka diam saja. Jefri pamit ke kelas Mira tidak peduli langsung meninggalkannya.


Apa yang sebetulnya menimpa mereka? Sangat buruk kah? Zafran penasaran mereka tutup mulut.


Mira tiba-tiba bangun meninggalkan kursi. Dewi menyuruh Irlan mengejar gadis itu hendak ke mana. Dewi turut meny8uruh Zafran tetap diam sembari dia ceritakan kejadian kemarin.

__ADS_1


Mira tahu dibuntuti Irlan. Pria itu tanpa bertanya apa pun mengikuti sampai kelas Jefri.


Jefri baru mau merem sebentar langsung melek didatangi Mira. Sama halnya Surya.


Mereka berdua sama sekali tidak bicara bahkan menanyakan kondisi satu sama lain setelah Fani menyuruh Jefri menemui Mira di UKS.


"Muka lo gak enak banget. Kenapa, Mira?" Surya mewakili benak Jefri.


"Tutup mata batin gue."


Semua orang di sana langsung berpusat pada Mira. Mendadak pagi hari minta ditutup mata batin.


Surya menelan air liur termenung beberapa saat. "Apa? Gue gak salah denger?"


Sebetulnya bagi Surya itu bisa dikabulkan. Mengingat Jefri semudah memetik daun membuka tutup mata batin banyak orang, dia pasti bisa menutup mata batin Mira. Perbandingan yang signifikan.


Irlan mencekal pergelangan tangan Mira. "Lo masih syok. Jef, sorry ganggu." Berniat mengajaknya ke luar.


"Lo gak bisa? Kemarin lo buka tutup mata batin mereka. Gue mau tutup sekarang, gak, nanti jam istirahat!" Mira melepas tangan Irlan. "Gue udah lama mau minta ini, tapi dia selalu nolak. Sekarang gue punya alasan."


"Mira, please. Kita semua baik. Gue paham lo masih syok. Tenangin diri lo, jangan di sini. Gue mohon."


Bagi mereka hal itu tidak harus diketahui seisi sekolah. Mereka sadar salah menganggap remeh kemampuan Jefri dan Mira. Angkat bicara pun tidak mengubah apa-apa.


Jika Jefri punya hati dan peduli padanya pasti mengiyakan permintaan barusan. Mira meragukan Jefri. Itu sebabnya dia mengacaukan paginya.


Sambil cengengesan Surya menengahi mereka. "Irlan bener, Mir. Jangan bahas di kelas. Nanti kita kumpul di kantin." Dia berganti suara pelan. "Kalau mereka tau gimana woi?"


"Asal lo tau .. Bukan gue yang buka mata batin mereka."


Pian seketika bangun dengan kesadaran penuh. Lipstik Nuri kebablasan. Eyeliner Astuti mencong. Yang lain sama terkejut.


"Hah?" Surya menyuruh Jefri menatapnya. "Tatap mata gue. Kalau bukan lo yang buka mata batin kita, kenapa kita bisa liat setan?"


Jefri terpaksa menoleh ke Surya dan Mira bergantian. "Kalian yang membuka pintu mereka. Titik putih yang kalian liat, itu pintunya."


Jantung Surya rasanya jatuh ke bawah lambung. "Apa?" Dia menutup mulut tidak menyangka. Benarkah?


Pian mendorong kursi dengan bokongnya. "Apa maksud lo kita yang ngebuka pintu?"

__ADS_1


Nuri menyalak emosi. "Kita buka mata batin sendiri? Lo ngarang cerita?!"


Astuti bergumam, "Gak mungkin."


Leher Jefri menunduk melihat meja, namun matanya mendelik ke atas menatap Mira. "Jembatannya itu lo. Gue cuma perantara."


"Jef." Irlan butuh waktu untuk mencerna maksud Jefri. Dia akhirnya mengerti.


"Apa, Irlan?" Surya tidak bodoh. Kalimat Jefri memang sulit dipahami. Apa coba artinya? Sial.


"Makanya gue minta tutup sekarang ..."


"Minta persetujuan keluarga," datar Jefri.


Pak Ilman memasuki kelas. Heran ada murid dari kelas Pak Adit sudah jam masuk masih main ke kelasnya. "Mira, Irlan, ngapain masih di sini? Kelas kalian di ujung sana."


Pak Ilman menarik kursinya dan duduk menata absen siswa dan buku materi.


"Maaf, Pak." Irlan menarik paksa Mira pergi.


"Kasih tau maksud lo apa, Jep."


Surya bersikeras supaya Jefri beri jawaban.


"Tanpa Mira gue gak bisa bawa pintu buat kalian. Gimana rasanya ngebuka pintu itu?" Hitung-hitung meminta review yang terlambat diminta kemarin.


Mata Surya mengerjap tiga kali, ahh, dia paham selang sekian detik.


"Anjir."


"Lo ngebuka pintu sendiri, gak kuat, dan bisa tutup lagi. Bisa ditutup gampang karena belum lama."


"Ohh."


"Beda sama kita. Pintu itu terbuka sendiri, gak ada yang jaga, mereka keluar masuk sesuka hati, dan tutupnya terlanjur susah."


"Gitu ..." Kalau seperti itu, apa pendapat kali ini bisa dibilang sama.


"Lo beneran paham, kan?"

__ADS_1


"Jadi maksud lo, mata batin kalian susah ditutup karena banyak setan yang ganjel pintunya?"


__ADS_2