
Awan sudah survei ke sekolah bersama Pras setelah mengurus berkas pindahan dan dijadwalkan masuk pekan depan mulai hari senin.
Rumah di Bogor tambah sepi mereka pindah ke Jakarta. Sejujurnya, baik Mira, Jefri, Awan, Hana, dan Ratih lebih suka tinggal di sana.
Apa boleh buat, rumah kakek harus ditempati supaya terurus dengan baik.
Di hari pertama Awan bersekolah, dia mandiri alias berangkat sendiri naik motor sementara Jefri dan Mira tetap boncengan.
Awan tipe siswa badboy kesayangan kaum perempuan. Seragam sebelah dimasukin, dasi asal-asalan, rambut sengaja tanpa model yang justru memikat pesonanya.
Makanya Mira sering debat karena itu.
Awan bukan keren, tapi bandel.
Dari puluhan lembar kertas yang ditulis anak-anak normal di sekolah buat mencatat pelajaran bisa-bisanya Awan cuma lima lembar yang terisi, selebihnya gambar hantu yang kadang bikin orang terkejut-kejut.
Aura petakilannya bukan main.
Mira dan Jefri sampai terseret ke dalam masalah yang diperbuat Awan.
Memang dasar adik kelas sialan.
Ada satu hal yang pasti buat kalian langsung menganggap Awan aneh sampai pusing tujuh keliling.
Dia suka berburu hantu.
Gimana tidak stres Jefri satu sekolah sama orang yang suka mencari hantu di sisi lain Mira jauh-jauh dari hantu.
Inilah sebab tarik ulur perkara hantu di keluarga mereka tak kunjung usai.
Hari pertama Awan sekolah, dia lari-lari di koridor lantai dua sambil bawa sapu kelas.
Dari lantai dua gedung A, tempat kelas Mira ada di tengah yang berhadapan langsung ke gedung C, Jefri dan Mira menonton pertunjukan secara langsung.
"Lo pikir bawa Awan ke Jakarta itu hal baik, kan? Liat sendiri kelakuannya makin gak beres."
"Gue gak nyangka dia bakal sebebas itu di sekolah baru."
"Karena banyak hantu di sini ... Dia pasti betah."
"Sejak kapan dia belajar silat?"
Mira terkagum-kagum dengan jurus yang ditunjukkan Awan selama mengejar hantu pegang sapu.
Awan mirip anak kecil yang sedang syuting film kungfu tapi lawannya hantu semua.
Kebetulan Awan melihat mereka di sana dia melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Irlan minum es teh dalam plastik lewat di belakang mereka. "Siapa tuh? Kalian kenal?"
__ADS_1
Jefri menggeleng tenang. "Nggak. Lo kenal, Mir?"
Mira melihat Awan sekali lagi. "Gue gak kenal." Diajak lah Jefri dan Irlan masuk kelas.
Mereka tidak mengakui Awan.
Awan seolah paham mereka membicarakannya. Tangan yang tengah memegang sapu dilempar ke samping tong sampah.
"Air susu dibalas air tuba," gumam Awan akan balas dendam pada waktunya.
"Oy!" seru Surya dari kejauhan memanggil Mira, Jefri, dan Irlan.
Tidak datang sendirian, di sisi Surya terdapat Dewi yang tak bisa melepas pandangannya dari Awan.
Sewaktu di Bogor dialah yang terlihat kalem dan manis. Sekarang kenapa bertingkah mirip cengcorang.
"Itu anak ngapain muter-muterin sapu kayak mau tawuran?" tanya Dewi usai berlari kecil mendekati Mira.
Surya noleh ke tempat telunjuk Dewi ngacung. "Siapa? Cowok begajulan yang dihukum BK tadi pagi?"
Irlan berkata, "Lo pasti kenal karena kena hukum juga."
Irlan apal betul Surya langganan di lapangan pas upacara, ruang BK, berdiri satu kaki depan kelas sambil tarik telinga, bersihkan toilet, jalan jongkok naik turun tangga.
Sebelum upacara ada guru piket yang berjaga di depan lobi. Setiap murid yang hendak masuk akan diperiksa kelengkapan atribut pakaian seperti dasi, sabuk, sepatu 80% hitam, bawa topi upacara atau tidak karena sekarang hari senin.
"Betul."
"Seumur-umur gue dihukum, pelanggaran yang gue buat paling banyak tiga. Dia keren sih, dapet lima poin."
"Lima poin?" Terkejut si Dewi.
"Lo liat tampilannya. Dia murid pindahan, hampir dilolosin. Tapi pas disuruh masuk dia malah jawab, saya lebih suka dihukum buat kenang-kenangan hari pertama masuk sekolah baru."
Siku lengan Mira menyenggol badan Jefri.
Jefri mana tahu bocah tengil itu malah minta hukuman. Mereka sampai ke sekolah di waktu berbeda.
"Gue pikir dia cowok kalem pas ketemu di Bogor, Mir."
Astaga si Dewi mulutnya tidak bisa menyimpan fakta sehari saja.
"Kapan lo ketemu nak begajulan itu di Bogor?" sambar Surya.
Mereka tak kalah kaget.
Ting!
Mira mengeluarkan ponsel dari saku rok. Ada pesan dari Awan padahal dia masih berdiri menatap mereka berkumpul.
__ADS_1
...'Mending ngomong langsung daripada ngegosip tapi ketahuan'. - Awan -...
Mira memukul-mukul ringan tangan Jefri dan menunjukkan pesan Awan.
Dewi membeberkan bahwa, "Dia sepupu mereka, si Awan, kan? Ternyata dia pindah ke sini juga.. "
Jefri menyipitkan matanya hingga bisa melihat Fani di sana, tepat di depan Awan lagi lompat-lompat minta diperhatikan.
"Sebelum lo disuruh balik ke Bogor, mending balik ke rumah kakek dulu. Ngumpet di sana," saran Awan kepada Fani.
Hantu anak kecil yang ada di rumah Bogor dibawa Awan ke Jakarta.
"Lah, si Fani kapan ngikut?" Mira ketar-ketir.
"Hantu anak kecil itu?" Dewi takjub hantu bisa pindah tempat.
"Hantu?" Irlan mengisi jaraknya dengan Mira.
"Gak ikut-ikutan dah... " Surya menghindari mereka saat sudah ada kata hantu.
Sementara Fani sudah lenyap dari pandangan mereka, Jefri meminjam ponsel Mira untuk balas pesan Awan pakai huruf kapital semua.
...'MASUK KELAS SEKARANG SEBELUM GUE SAMPERIN'...
Awan anggap sepele perintah Jefri.
Memang tengil dia. Tiada tandingan.
...'10 menit lage bosskuh..' - Awan -...
"Di luar cupu dalamnya suhu." Dewi paham sekarang. "Lan, masuk yok!"
"Iya." Irlan ngikut Dewi masuk kelas.
Jefri kembalikan ponsel Mira ancang-ancang menyusul Awan namun baru tiga langkah berlari anak itu melesat masuk kelas.
Awan bandel, tapi tidak berani berhadapan sama Jefri.
Jurus-jurus beladiri yang Awan pelajari sampai dipraktikkan melawan hantu tak mempan mengalahkan Jefri.
Sudah pernah dicoba.
Mira mengirim pesan ke Awan.
...'Jaga etika di tempat baru. Lo mau dijauhin sama yang lain? Bertingkah selayaknya manusia. Kalau mau perang sama hantu pas sekolah sepi. Wan, lo gak mau masuk rumah sakit karena babak belur dihajar Jefri, kan?'...
"Dia udah masuk kelas. Kita masuk juga, Jef."
Jefri berbalik masuk kelas.
__ADS_1
...'Gue perang lawan seratus hantu bisa. Kalau lawannya Jefri, gue nyerah sebelum tanding. Stroberi mangga lemon, Sorry Jefri.' - Awan -...
"Pantun macam apa ini?"