
"Gue ngomong terlalu gamblang sampe bisa dibaca Pak Mus apa Pak Mus terlalu peka sama kelakuan gue?"
Zafran mengacak rambut yang ditata lima belas menit jadi berantakan.
Satpam yang jaga gerbang turut prihatin. Kebanyakan murid datang sekolah dengan semangat. Zafran datang justru sangat frustasi.
Merasa diperhatikan Zafran menoleh tajam ke satpam itu. Satpam langsung mengarahkan tangannya menyuruh anak-anak cepat masuk sebelum gerbang ditutup.
Pria itu meniup poni rambutnya dan berlalu cepat.
"Hati gue milih dia? Dia siapa? Gue gak suka siapa-siapa. Gue juga gak punya mantan. Gue suka Mira?"
Mendadak dia berhenti sebelum naik tangga.
"Gak mungkin!" teriaknya muak bicara berlawanan antara hati dan pikiran.
"Anjrit, kaget gue."
"Masih pagi, Zaf."
Dewi dan Mira mau mengagetkan Zafran dari belakang, malah mereka yang kaget Zafran teriak tidak mungkin.
Zafran berbalik perlahan...
"Hahaha!"
Dewi adalah orang pertama yang berani tergelak melihat Zafran begadang hingga lingkar bawah matanya hitam, didukung rambut semrawut juga muka tanpa ekspresi.
"Lo kenapa?" Mira kaget betul lihat penampilan anehnya. "Diganggu setan sampe gak tidur?"
Mira sedikit khawatir, jadi dia mau lihat apakah Zafran terluka.
"Lepas," tangkisnya.
Mira menarik tangannya kembali. Dewi berhenti tertawa. Mereka kebingungan atas reaksi berlebihan Zafran.
"Gue cuma mau benahin rambut lo. Udah kayak pekarangan ayam."
Tangan Mira terulur kedua kali, namun ditangkis anggun oleh tangan Zafran lagi.
Sekarang dia meminta dengan lembut. "Jangan ... Sentuh gue."
"Lo kenapa sih? Begadang jadi sensitif?" sahut Dewi.
__ADS_1
"Kalian ...Khususnya lo, Mira. Seharian ini jangan ikutin gue dulu."
Mira menahan kepergiannya. "Jefri matiin telfon semalem karena mau tidur. Lo diganggu parah atau- "
Zafran tersenyum di kala matanya berat ingin tidur. "Gak masalah."
Dia mau naik. Ditahan lagi sama Dewi.
"Kita berdua harus muter nih?"
Mira tidak benarkan ucapannya. "Gak segitunya kali."
"Senyaman kalian. Mau lewat tangga lain alhamdulillah. Kalau nggak jaga jarak minimal dua meter."
"Pas korona cuma semeter masa lo kasih jarak dua meter. Kita bukan virus tau!" Mira merajuk.
Zafran memberi senyum manis sebelum berbalik dan menggerutu tanpa diketahui dua gadis yang terdiam keheranan di bawah tangga.
"Lo berdua emang virus. Virus ngeselin yang kadang pengen gue musnahkan."
Dewi curiga Zafran membicarakan dia dari gerakan tangannya yang mengepal ke udara.
"Dia gak lagi nyumpahin gue, kan?"
Mira menghendikkan pundak. "Udah dua meter. Ayo naik."
"Namanya orang ngantuk pasti bawaannya marah mulu. Maklumin aja."
"Lo abis begadang begitu juga?"
"Bukan gue. Jefri yang biasa begadang. Lo denger kan tadi gue jelasin Jefri tutup telepon Zafran. Mereka berdua sering diganggu."
Dewi memasang raut sedih, sedetik kemudian tersenyum lebar.
"Kasian, tapi menghibur."
"Gue gak bisa ngapa-ngapain."
"Lo bantu mereka dalam segala hal. Gak usah minder. Lo lebih suka jadi manusia biasa kayak gue atau nyaman sama Mira yang sekarang?"
Mira akui dua pilihan itu agak sulit.
"Gue pengen mata batin ditutup. Tapi nanti Jefri ada apa-apa, siapa yang bantu? Cuma gue yang tau dia ngalamin semuanya."
__ADS_1
"Heleh. Lo sendiri lupa waktu- " Ups. Dewi langsung tutup mulut.
Hampir saja Dewi mengungkapkan kedramatisan mencekam di atap sekolah yang merenggut nyawa Indri dan kronologi Mira kritis.
"Waktu apa?"
Mira menahan Dewi sehingga berhenti tepat di depan pintu kelas.
Adakah waktu yang ia lupakan selama bersama mereka?
"Waktu gue ini... " Dewi garuk kepala cari alibi. "Itu, loh. Tuh kan lo gak inget." Dia cengengesan terus berpikir. "Anu- "
"Hari ini ada kerja kelompok di rumah gue," sambar Irlan entah kapan muncul di tengah mereka.
Tampaknya Irlan berhasil menyelesaikan kecemasan Dewi dan mengalihkan perhatian Mira.
"Oh iya. Gue lupa. Sorry." Mira terkekeh atas kelalaiannya lupa hal penting sepulang sekolah.
Dewi memberi jalan masuk untuk Mira. Dia sangat lega Irlan datang di waktu yang tepat dan cepat.
"Untung ada lo!"
Tak tahu sampai kapan mereka terus membungkam kebenaran.
"Gue kasian."
"Sama?"
"Diri gue sendiri."
"Kenapa?"
"Baru kali ini gue bisa jaga rahasia yang harusnya gak ditutup terlalu lama."
Dewi rada mengerti alasan Irlan berkata demikian. Dia menepuk bahu pria itu untuk menyalurkan semangat.
"Gue juga gak tega. Tapi bukannya lebih baik dia lupa?"
"Kita pasti gak dianggap sahabat lagi kalau dia tau semua."
"Ya gimana dong. Gue bingung."
Dewi menganga ditinggal pergi begitu saja.
__ADS_1
Lelaki plin-plan ya itu contohnya. Dia bingung, membuat orang lain bingung, tetapi tidak punya solusi bagus.
"Belagu bingung. Sahabat harus rela berkorban!"