Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Tiga Kunci Pembuka Dimensi


__ADS_3

Jefri berdiri di tepi atap sekolah menghadap pemandangan gelap sebagai korban yang merasakan bagaimana bertarung dengan ketidakinginan melompat.


Awan sibuk menyorot senter handphone ke segala arah. "Gak ada apa-apa keknya."


"Mira sama Dewi belum balik. Gue susul kali ya, Jef." Juan cemas mereka berdua tidak ada tanda-tanda kemunculan.


"Justru lebih baik mereka gak ke sini," ungkap Jefri.


Tumpukan bangku dan meja berdebu sangat banyak menutupi gudang bekas instalasi listrik. Awan sempat berkeinginan menerobos, tetapi kelihatannya sulit.


Jefri turun dan ikut menyorot pintu seng yang dijaga sosok kakek tua bertanduk panjang.


"Selain kehalang meja sama bangku, gue baru liat ada sosok begitu di sini. Bablas nih?" Awan sih tidak masalah sama sekali ya. Ada dua pawang yang pasti menjaganya.


Juan menarik napas setelah itu menjawab, "Singkirin semuanya."


Awan mengangguk paham. Ia mengantongi ponselnya dengan senter menyala lalu mulai membopong tiap dua kursi supaya cepat selesai.


Juan mengangkat meja. "Jef, bantuin!"


Jefri bengong mencari Sanjaya. Kenapa dia belum menampakkan diri lagi, padahal lumayan banyak yang terpanggil.


"O-oke."


Jalan sudah terbuka menuju ruangan yang Juan anggap mencurigakan. Mereka bertiga hendak mengecek saja. Apabila benar ditemukan, maka mereka beruntung. Jika tidak, ya sudah pulang.


Awan berkata, "Lo yang minta ijin, Juan."


Juan meminta izin dengan sosok kakek yang mempunyai energi negatif untuk membiarkan mereka sekadar masuk.


Jefri tidak lagi mencari Sanjaya, dia menunggu Mira dan Dewi. Mungkinkah mereka bertemu Surya dan Irlan di bawah? Pasti begitu. Optimis saja, Jefri.


Juan yang semula menunduk khusuk langsung menatap lurus ke arah kakek tua yang terlihat marah. "Langsung masuk aja."


"Diizinin?" Awan maju dua langkah.


"Gak diizinin, tapi terobos aja."


"Yang bener lo." Awan ngeri bagian ini nih. Biasanya sikap sok berani mendatangkan malapetaka.


Jefri memimpin jalan. "Biar cepet, Wan. Mau sampe subuh di sini?"


"Ogah." Awan diapit Jefri dan Juan. Ambil langkah aman demi panjang umur. "Misi, kakek. Saya mau liat-liat doang. Kalau mau marah sama sodara-sodara saya. Bukan niat hati mau melenceng dari peraturan, ini demi mencari kebenaran. Eak."


"Berisik!" kesal Juan.


Jefri, Juan, dan Awan berhenti di depan pintu dan terlibat saling pandang sebelum membuka knop.

__ADS_1


"Bismillah gak nih?" Awan memegang tangannya tidak ikut membuka pintu.


"Lindungi kami dari godaan setan yang terkutuk," ucap Juan.


Awan melotot kaget, setan apa yang dia maksud?


Cklek'


Belum sempat melihat isi gudang, mereka refleks menutup mata dan hidung karena banyak asap putih dan bau dupa kental.


***


Dewi merapatkan tubuhnya ke Mira setelah melihat perubahan dinding sekolah yang sebelumnya bersih berwarna putih tiba-tiba dirambati tanaman usang dan banyak sarang laba-laba.


"Eh tolol kok berubah gini sekolah kita?" Surya terjengat berdiri di belakang Mira dan Irlan. "Horor ini, fiks horor!"


Kelelawar-kelelawar kecil berterbangan di atas lapangan dan bunyi burung hantu yang khas. Lantai bersih tergantikan oleh daun-daun berserakan bercampur tanah kering. Sangat berantakan.


"Kenapa bangunannya mendadak berubah?" Mira heran, takut, gelisah jadi satu melihat langsung perbedaannya.


"Gimana dong? Gue merinding sekujur badan nih!" Dewi enggan lepas dari Mira. Dia sangat takut, mau pulang.


"Setidaknya lo gak liat semua setan yang ada di sini kayak dia. Jangan heboh sendiri," ucap Irlan menutupi ketegangan dengan caranya sendiri.


Dewi mengerutkan dahi. "Sekarang kita harus gimana? Itu di ujung apaan, Mir?"


Mira ikut menyipitkan mata. "Di mana?"


Belum sempat balik badan Irlan menarik leher Surya. "Kita hadapi bersama-sama."


"Apa? Lo barusan ngomong sama pantat?" Surya pura-pura tuli. Hadapi bersama, apa dia sendiri sanggup jika makhluk berbalut kain kafan lusuh itu melom-


"Bego loncatnya tinggi banget." Dewi terperangah, bukan kagum tapi takut. "Mending lari, Mira!"


"Kaburrr!" Surya menepis tangan Irlan, gantian ajak Dewi lari dari sana. "Huaaa! Tolong!!!"


Ketidakwarasan mereka tidak sampai diam saja menyaksikan pocong lompat jauh. Sosok itu bukan manusia yang sedang olimpiade, sekali lagi dia pocong.


"Ikutin Surya!" Irlan menarik tangan Mira.


Mira mengikuti langkah Irlan yang berusaha kejar Dewi dan Surya. Sekali nengok ke belakang, pocong itu sudah hilang.


Mira memperlambat jalannya karena di tengah-tengah lorong kosong antara mereka muncul gelombang cahaya naik hingga ke atas bak pemisah sisi kanan dan kiri.


Akibat dari cahaya biru itu Mira dan Irlan tidak bisa melihat Dewi dan Surya. Begitu pula sebaliknya. Artinya mereka di satu tempat namun tak saling melihat


**

__ADS_1


"Lah, mana mereka?" Surya melongo.


Dewi maju mencari mereka yang hilang tepat di depan mata. Bagaimana ini bisa terjadi?


"Gara-gara lo kecepetan larinya! Mereka ketinggalan kan!" desis Dewi marah.


"Mereka jelas-jelas ada di belakang kita, gak jauh juga!" balas Surya ikut mencari ke kelas-kelas yang kosong.


Menakutkan juga melongok jendela kelas pas malam dan gelap. Surya hampir menjerit padahal baru membayangkan sekelibat setan yang ada di film horor.


"Kita gak bisa pergi ke mana-mana, Sur."


Surya duduk di depan kelas. "Yaudah tunggu di sini."


"Sampe kapan?"


Entah mana Surya tahu sampai kapan. "Mungkin sampe besok pagi."


Dewi keringat dingin menerka ke mana Mira dan Irlan, serta kabar Jefri, Juan, dan Awan. Mereka terpecah ke beberapa titik.


"Gak bisa. Kita harus cari mereka."


"Ke mana? Mereka ngilang gitu aja."


"Ke mana aja! Cari sampe ketemu!"


"Ya lo aja sana cari mereka gelap-gelapan. Ini bukan sekolah kita, Dew. Tapi bangunan tua aneh yang angker. Tunggu aja. Gue yakin ada alasan khusus kita terpisah gini."


Capek juga kalau Dewi mementingkan ego. Mau cari ke mana? Mira dan Irlan berdiri tepat di belakang mereka. Fenomena yang sangat di luar nalar.


**


Sinyal yang Jefri berikan sampai pada Mira. Mira segera memberitahu Irlan.


"Mereka ketemu tempatnya."


Irlan yang duduk pasrah di lantai langsung bangkit. "Serius?" Syukur kalau begitu.


"Kayaknya pembatas ini dibuat Juan. Selama gak ada apa-apa kita diam di sini dulu tunggu mereka bertiga."


"Dewi sama Surya gimana? Mereka bakal baik-baik aja, kan?"


"Semoga." Mira harap Dewi bisa tenang sekaligus menenangkan Surya.


"Gue harap mereka bertiga gak terluka."


"Lebih berharap mereka bisa balik. Kalau gak, kita ikut terkunci di sini. Ini bukan tempat kita, Irlan."

__ADS_1


"Hm?"


"Kita ..." Mira memasang ekspresi sangat yakin. "Ada di dimensi lain."


__ADS_2