
Kunjungan pertama Jefri ke rumah Indri pas menyuruh Mira pulang bersama Awan.
Pertemuan kedua dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Malam hari di mana semua orang rumah tertidur Jefri pergi ke rumah Indri menggunakan taksi online.
Hari itu Jefri menjelaskan kemungkinan yang terjadi sekarang dan nantinya pada Indri.
Bahwa apa yang telah dilakukan orang tuanya merupakan perjanjian dengan jin untuk pesugihan.
Dalam hal itu tentu bangsa mereka membutuhkan makanan sebagai imbalan. Dupa, sudah. Sajen, sudah. Kurang? Nyawa manusia.
Sekali waktu Indri menyaksikan ritual mereka di belakang rumah. Jin yang datang langsung memberi semacam stempel. Indri adalah tumbal.
Indri belum merasakan efek dari stempel itu karena rupanya orang tua Indri tidak memberi sajen lagi setelah uang dilipat gandakan.
Mereka murka dan mulai mengikuti Indri supaya tetap murni hingga diambil jiwanya.
Awal mula orang tua Indri jatuh sakit. Tubuhnya tidak bisa gerak macam kena stroke.
Besoknya mereka melakukan hal aneh. Menggedor pintu, mencakar tembok, memberantaki benda, sampai membakar uang hasil ritual.
Keadaan bertambah parah saat ibu dan ayahnya saling serang. Indri yang paham mereka tidak sadar langsung mengunci rumah dan pergi ke apotik untuk beli obat bius.
Dari situlah Indri menyuntik mereka sampai terkulai lemas dan terpaksa mengikat kencang di kursi agar tidak keluar membahayakan tetangga.
Jefri terpaksa membuka gerbang yang tidak seharusnya menjadi komunikasi antara Indri dengan jin yang bersemayam di tubuh orang tuanya.
Indri mengerjap ketika bayangan muka ayah dan ibunya samar-samar berganti merah terbakar amat mengerikan.
Ibu Indri mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu bisa melihatku sekarang! Hahaha!"
Jin dalam raga Ayah Indri berkata, "Dia anak yang sudah kami jadikan tumbal!"
"Salahkan ayah dan ibumu yang berpaling dari keyakinannya! Hahaha!"
Mereka beradu mulut di hadapan Jefri dan Indri.
Indri tidak takut dengan wujud mereka. Dia lebih bingung ternyata sungguh ada rupa jin dari alam sebelah.
"Jef, mereka jelek."
"Apa?"
Dua jin itu langsung terdiam mendengar bisikan Indri.
"Ciptaan Tuhan juga, jangan diledek."
"Huahaha! Kau diciptakan dari tanah tidak lebih kuat dari kami!"
Jefri terus bertasbih dalam hati.
"Allah yang Maha Kuat," ucap Jefri.
"Kemampuanmu tidak lain membinasakan saudaramu! Apa yang kau lihat sesungguhnya adalah kebenaran dan bukan dusta!"
"Bukan. Itu tipu daya kalian," jawab Jefri.
"Hahaha! Kami akan merasuki tubuhnya dan menyebar fitnah!"
Indri terkesiap ibunya hampir lompat ke arahnya.
Jefri menutup komunikasi mereka sebelum diprovokasi.
Indri tercengang melihat cahaya putih tertutup bak gerbang lebar.
Setelah pertemuan kedua Jefri meminta perkembangan orang tua Indri dari dia.
__ADS_1
Jefri sudah ceritakan semua ke Awan. Awan menyampaikan cerita ke Om Pras. Mereka bertiga sepakat bekerja sama memutus rantai.
Beberapa hari kemudian Indri memberi info bahwa ibunya agak membaik. Tidak kesurupan seharian dan bisa beraktivitas.
Jefri tidak menyangka sembuh cepat. Dia belum sempat ke rumah Indri lagi setelah Mirza kerap muncul di dekat Mira.
**
Mira, Dewi, dan Irlan memainkan permainan ular tangga di aplikasi game.
Sesekali Dewi melirik Mira membalas pesan dari Mirza.
"Katanya udah selesai, tapi masih saling care."
Mira menyimpan ponselnya di laci meja. "Mirza gak punya temen di sini. Siapa lagi kalau bukan gue yang mau temenan sama dia."
"Gue mau aja," sahut Dewi.
"Gue juga," ucap Irlan.
Mira mengedip dua kali sambil memandang mereka.
"Huftt. Zafran gak masuk berasa sepi banget."
"Lo bosen karena gak ada yang ngajak ribut," cibir Irlan.
"Orang tuanya terakhir pulang besok. Dia mau nemenin seharian kali," ujar Mira.
Seisi kelas teralihkan pandangannya ke Indri yang masuk kelas 11B.
Indri menuju bangku Mira. Tatapan datar dan tanpa ragu mendekatinya tampak mengherankan semua orang.
"Ngapain ke sini?" cetus Dewi sebagai garda terdepan Mira.
"Mira. Bisa ikut gue sebentar?"
Mira mengetahui sesuatu buruk telah masuk ke Indri. Dari matanya saja berkata seolah akan memporak-porandakan satu kelas seandainya tidak ikut dia.
"Gak usah! Kenapa juga lo nyuruh Mira ikut lo? Lo berdua bukan temen ya!"
Mira menghentikan omelan Dewi. "Cuma sebentar, kan?" tanyanya pada Indri.
Indri mengangguk satu kali tanpa menatap mereka sedikit pun.
Irlan was-was dengan raut wajah Indri yang terkesan misterius. Ditambah siang hari diselimuti awan mendung serta perasaan takut kerap menangkup hatinya jika Mira pergi sendirian.
Mira baru berdiri ditahan Irlan.
"Tapi Jefri sama Awan larang lo pergi sendirian."
"Ini kita berdua." Mira meyakinkan dia.
Tangan Irlan terlepas begitu saja sebab Indri menarik Mira ke luar kelas.
"Apa-apaan sih Indri, asal tarik Mira gitu!"
"Lo gak ngerasa aneh barusan?" pungkas Irlan.
"Indri kan emang dari awal aneh! Ujug-ujug masuk ke kehidupan Jefri, mereka main rahasia dari kita."
Mira menunggu ke mana Indri membawanya.
Hingga mereka di depan toilet perempuan Mira berhenti sehingga Indri berbalik.
"Di sini aja. Gue gak suka di toilet. Lo tau di dalem banyak han- "
__ADS_1
"Mira?"
Mira menoleh ke belakang. "Mirza?"
Ada Mirza membawa tas yang biasa dia bawa tiap latihan maupun lomba menemui mereka di ujung dengan gerak-gerik tergesa.
Mirza menarik Mira ke sampingnya begitu melihat Indri dikuasai oleh energi negatif.
"Lo ikutin dia tau dirasuki gini?"
"Daripada sekelas jadi korban," balas Mira.
"Jefri?"
"Di kelasnya lah."
Entah dapat senjata dari mana dan kapan sampai Mira tak sadar Indri menyembunyikan sebilah pisau dapur di belakang jasnya, Mirza menghalangi tindakan Indri yang menikam ke arah Mira.
Jleb!
"Mirza!"
Pisau itu menancap di perut Mirza.
"Indri!" teriak Mira naik pitam.
Suara Indri berubah menjadi suara pria. "Semua yang terjadi salah saudaramu. Dia yang mengusik ketenangan kami. Dialah yang bersalah."
"Stopp!" jerit Mira. "Mirza! Gimana nih? Ya Allah."
Mirza masih berdiri. Kakinya mulai lemas. Mulutnya mengeluarkan darah menatap sosok jin dalam raga Indri penuh kebencian.
"Jang .. an.. " Mirza terbata-bata mengucapkan kalimat terakhir. "Sak- kitin Mira. Di- dia g- gak bersalah.. "
"Hahaha!"
Dewi baru sampai dua meter di belakang mereka sangat syok menyaksikan Indri tertawa mengerikan, Mirza terbaring di pangkuan Mira dengan pisau menancap di perutnya.
"A- apa yang.. "
Mira mendongak tajam. "Gak ada habisnya keluarga gue diteror! Mau lo apa, hah! Mau nyawa gue ambil sekarang! Jangan gini caranya ... Mirza gak ada hubungannya... Hiks."
Dewi memutar tubuh berniat meminta pertolongan. Namun tiba-tiba kakinya tidak bisa bergerak. Berat sekali.
"JEFRIII!" Pilihan akhir adalah meneriaki namanya.
Usai teriak Dewi terhuyung ke depan. Kakinya bisa digerakkan.
"Gila! Mira!" Dewi maju dua langkah. Entah apa yang menyebabkan Mira mengikuti Indri naik tangga ke lantai atas sampai hati meninggalkan Mirza yang terluka. "Mir, jangan ikutin dia!"
Bukan cuma Jefri yang terbirit-birit ke luar. Surya bahkan Awan dari seberang gedung mendengar suara Dewi.
"Kenapa?" Jefri ngos-ngosan.
"Woi! Mirja itu- Astagfirullahalazhim! Kenapa bisa ketusuk gini woi!" Surya teriak heboh menghampiri Mirza.
"Mira sama Indri pergi naik tangga itu tuh! Buruan samperin mereka!" Dewi mendorong Jefri supaya cepat menghentikan mereka.
Surya menelepon nomor klinik agar membawa ambulans kemari dan bisa ke rumah sakit terdekat.
Awan sampai di lokasi. Wajahnya sangat pucat berlari di atas kecepatan rata-rata biasa.
"Jefri kenapa, Dew?"
"Jefri ngejar Mira sama Indri ke lantai atas!"
__ADS_1
Selagi Awan melihat kondisi Mirza mengenaskan di bawah. Mirza berusaha memberitahunya.
"Me .. reka .. di- dir .. ras- suki."