Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Tidak Selalu Lancar


__ADS_3

"Lah, itu si Putri ngapain di depan ruang guru?" Udin menyipitkan matanya sedang fokus.


"Hah? Mana?" Awan lihat pakai teropong dan membenarkan. "Wih, tajem juga mata lo bisa liat dari jauh."


"Emang lo gak bisa? Orang juga tau itu Putri," timpal Zio.


Benarkah? Awan baru tahu ternyata mata dia yang bermasalah. "Derita mines tinggi."


"Heh?" Udin tidak percaya alias baru dengar pengakuan mata Awan minus. "Mata mines bisa liat setan?"


"Goblok." Zio mengeplak leher Udin.


"Aduh!"


"Gak tau juga sih. Kayaknya bisa aja. Buktinya gue."


"Terus kalau lo liat setan dari jauh burem gak?" Udin penasaran.


"Gak deh, masih jauh ngapain diliat."


Udin melanjutkan, "Masih ada Pak Juan di dalem, kan? Dia belum ke luar."


"Gagal gak nih?" Zio mau pulang cepat andai gagal.


"Liat dulu." Awan belum lihat mereka ngapain di bawah. "Kasih tau gue kalau mereka pergi bareng ke arah mana. Coba gue telepon Ju ... Pak Juan." Hampir saja kecolongan sebut nama.


***


"Bantu saya?" Juan diam tak berkutik. Tidak lupa beri senyuman lebar supaya tidak dicurigai. Maksud dari mau membantu maksudnya bantu apa nih.


Nada dering berbunyi...


Juan segera mengangkat panggilan dari Awan. Syukur dia peka sepupunya sedang kesulitan.


"Ada apa?"


Awan menjauh sedikit dari pantauan Udin dan Zio.

__ADS_1


^^^"Matamu ada apa. Mau gimana sekarang ada Putri di situ? Lanjut?" ^^^


"Oh baik, Pak. Saya segera ke sana."


Batin Awan heran atas Jawaban macam apa yang didengar barusan.


^^^"Lo bilang mau bersihin kantor, kalau Putri mau bantu ya udah biarin, tapi lo tetep fokus tujuan kita." ^^^


"Baik, saya kabari nanti, Pak."


^^^"Fu*k you." ^^^


Juan mengakhiri pembicaraan dan mengatakan pada Putri bahwa ia mau bersih-bersih ruangan.


"Saya mau beberes kantor. Mau bantu?"


"Gak masalah. Saya gak ada kegiatan, tapi belum mau pulang."


Eh kok betulan? Juan kaget. "Serius?"


"Iya dong. Saya harus ngapain? Nyapu, ngepel, lap kaca, atau apa?"


Putri melepas ranselnya dan masuk kantor mengambil sapu di ujung dan mulai menyapu dari pojok kiri sesuai baris meja.


Juan berjalan santai hingga belokan koridor ia lari ke bagian belakang gedung B. Di situlah ia merasakan energi negatif terbanyak.


Juan berada di tengah-tengah lahan kosong berharap angin sepoi-sepoi menyapu tubuhnya yang kepanasan habis lari.


Mata biasa yang memandang ke langit yang kelihatan pasti awan bergerak dan warna senja.


Berbeda jika mata Juan yang mendongak ke atas. Energi hitam berputar cepat mirip gasing setelah ia menginjakkan kaki.


"Gue yang salah tempat atau tempatnya yang salah." Ia lirik sekitar, tidak ada apa-apa selain tanah gersang.


Sanjaya muncul dari atas Juan mengumpulkan semua energi hitam menggunakan kedua tangannya dan terjadi getaran dari tanah.


"Kamu sangat cepat dari dugaan saya."

__ADS_1


Juan tersenyum berterima kasih. Sanjaya datang lebih dari cukup mengurangi energi hitam mengambil energinya.


Energi jahat tidak sepenuhnya hilang. Ya, setidaknya berkurang cukup signifikan. Turunlah Sanjaya tanpa menyentuh tanah.


Dia berkata, "Tempat ini tidak cukup baik ditempati. Segera kembali untuk keselamatanmu."


"Gue gak yakin bisa angkat semuanya hari ini, ssh." Juan ragu dengan benda-benda tertentu yang sengaja dipendam dalam tanah.


"Mereka menolak pergi walaupun kamu mengambil paksa," tutur Sanjaya.


"Tapi lo bisa, kan?" Juan yakin dia mampu mengatasi hal sepele.


"Bisa apa maksudmu?"


"Bawa ke kerajaan lo," celetuk Juan.


"Apa itu lebih baik?" Sanjaya menyeringai.


Juan mencari kayu di dekat pohon-pohon yang bisa mengeruk tanah sedalam pergelangan tangan. Kemudian ia tuang air doa yang sudah dibawa diam-diam.


Sanjaya sedikit kepanasan. Bagaimanapun dia jin pendamping juga.


Air yang seharusnya merembes ke dalam tanah masih menggenang. Entah berhasil menghapus sisa energi jahat atau tidak, Juan mau tempat ini tidak dikuasai makhluk peminta tumbal dengan doa yang ia panjatkan.


"Juan." Sanjaya memanggilnya pelan.


"Maaf saya baru mengatakan sekarang."


Juan berdiri menatap ekspresi ganjil Sanjaya. "Ada apa?"


"Saya membantu kamu untuk menajga semuanya, tetapi ada kalanya upaya kita terhambat."


"Omongan lo berputar-putar, Sanjaya."


"Sejujurnya kondisi kalian tidak aman."


"Gak aman gimana?"

__ADS_1


"Energi hitam yang telah hancur bisa memecah sebagai bentuk penolakan sebelum bisa saya bawa."


Juan ingat Awan dan dua temannya, serta Putri masih di gedung sebelah. Jangan bilang mereka diincar oleh makhluk jahat?


__ADS_2