
"Jangan keseringan panggil Sanjaya."
Juan merapihkan kemeja hitam di depan kaca lemari. Om Haryo duduk di kursi dekat jendela menasehatinya.
"Hm."
"Papa serius, lho. Sanjaya itu- " Om Haryo melamun lihat kebun dari jendela. Membahas Sanjaya dengan Juan agak sulit.
"Awas dia denger," kekeh Juan.
"Kamu pikir Sanjaya baik?" tanya Om Haryo.
Juan melirik ayahnya. "Sementara bisa kasih energi ke Mirza. Kita gak tau efeknya sebelum dicoba. Terbukti no problem."
"Jangan sombong kamu. Jangan mentang-mentang Sanjaya cover-nya baik, asal kamu tau dia itu banyak jahatnya."
"Emang Sanjaya pernah ngapain?"
"Dia sengaja deketin Mira awal-awal. Mencurigakan banget."
"Itu dia. Papa gak seharusnya biarin dia tetap ada di rumah ini. Juan usir dia tapi siapa yang larang?"
Haryo sendiri yang membiarkan Sanjaya. Salah Sanjaya menantang mereka. Menurut Juan mereka salah.
"Energinya bagus buat melindungi rumah dan- "
"Dia datang." Juan menoleh setelah melihat Sanjaya dari cermin.
Sanjaya tepat di belakang Juan. Dia makhluk tanpa perasaan. Dia bisa mendengar sebagian atau seluruh percakapan dari tempat tersembunyi. Bisa juga pura-pura tidak dengar. Sesungguhnya sifat Sanjaya yang itu harus dimiliki orang-orang.
Om Haryo menyilangkan kaki. "Ehem. Tumben ndadak."
"Kondisi Mirza memburuk. Tidak bisakah kalian membawa lelaki lemah itu ke rumah sakit saja?"
Om Haryo beranjak. "Seberapa buruk?"
"Tidak bisa bangun. Itu sangat buruk."
Juan memicing kurang percaya. "Buktinya? Dari awal lo sering bohongin gue."
"Saya tidak berbohong," ucap Sanjaya.
__ADS_1
"Mana dulu buktinya?" Juan acuh memakai jaket berniat ke Jakarta menemui sepupunya setelah lama tak berjumpa.
"Kalian punya benda panjang ajaib. Yang bisa melihat orang lain bicara. Coba panggil Mirza pakai itu."
Juan mengambil ponselnya di atas meja.
"Itu dia!" Sanjaya menunjuk semangat.
"Enak aja. Punya lo mana?"
"Kamu mengejek saya?" Sanjaya muak diolok-olok tinggal di zaman purba padahal tempatnya lebih asri dan bersih ketimbang tempat mereka tinggal. Banyak polusi dan ramai penduduk.
"Coba telepon Mirza," suruh Om Haryo.
"Cepat." Sanjaya ikut mendesak.
Juan tersambung dengan Mirza. "Mirza, kata Sanjaya kondisi lo memburuk."
^^^"Gue batuk darah dari pagi. Minum obat udah gak mempan."^^^
"Yang bener lo. Gue ke sana sekarang. Tunggu ya."
^^^"Ya."^^^
Sanjaya melirik tajam Om Haryo. "Saya dengar pembicaraan kalian." Dia tahu dimanfaatkan tapi sudah nyaman di sekitar mereka.
"Ya sudah silakan pulang."
"Kalau bukan orang tua, kamu sudah saya- " Sanjaya mengangkat kedua tangannya seperti mau mencekik Om Haryo.
"Saya gak takut. Pulang sendiri atau saya pulangin?" Om Haryo mengancam.
***
Mira menunggu kereta jurusan bogor. Dibuatnya grup obrolan keluarga sama sekali tidak berguna. Sangat sepi.
Pekan lalu Mirza sudah main ke rumahnya. Sekarang Mira mau main ke rumah Mirza.
"Sengaja gak bales chat gue apa gimana sih?"
Bodo amat reaksi Mirza nanti pas dia datang. Paling plonga-plongo bingung. Ingat ya, Mira sudah kabari Mirza.
__ADS_1
Juan bilang mau ke Jakarta. Dia bisa hangout bareng Jefri dan Awan.
Tok tok tok!
"Mirza! Ini gue, Mira!"
Cklek cklek!
Pintu dikunci. Sedang apa Mirza di dalam?
"Mirza?" Mira mengetuk pintu sebanyak tiga kali lagi. Telinganya menempel ke pintu tetapi hampir tidak ada suara.
Mira menelepon nomor Mirza. Terdengar bunyi nada ringtone dari dalam.
Tanpa mematikan panggilan yang terus berlangsung, Mira mengintip lewat jendela yang sedikit terbuka samping pintu.
Alangkah kagetnya Mira melihat Mirza terkapar di lantai ruang tamu dengan mulut mengeluarkan darah.
"Mirza!" Nangis lah Mira di situ bingung masuk lewat mana.
Suara motor Juan yang baru tiba bahkan tidak kedengaran.
Juan melepas helm dan membalikkan badan perempuan yang sangat ia kenali. Benar Mira.
"Mi-mirza pingsan kayaknya. Pintu dikunci. Gue- "
Juan bisa lihat tanpa mendekatkan wajahnya ke jendela. Juan meraba pintu dan dalam sekali dobrak pintu itu ambruk.
Mira berhamburan ke tubuh Mirza. "Woi, lo kenapa berdarah gini, Mirza! Bangun dong!"
Juan menggaruk kepala, melepas sarung tangan menyuruh salah satu orang di rumah ke alamat rumah Mirza bawa mobil.
"Kita bawa ke rumah sakit dulu."
Mira setuju.
"Tunggu." Mengapa Juan baru sadar mereka berdua aneh. "Mirza belum bilang?"
Mira mendongak. "Hah?"
Harusnya Mirza ceritakan ke Mira pas bertemu di Jakarta.
__ADS_1
"Mirza udah lama sakit parah."'
"Hah?"