
Zafran menginjakkan kakinya di tanah yang becek. Sorot matanya mengelilingi hutan bambu sekitar yang mencekam di malam gelap berbalut kilat.
Tidak ada suara bising hewan jangkrik atau apa pun. Hanya kesunyian membuat Zafran mengusap kedua lengan tangannya merinding.
Ini sudah pasti mimpi buruk. Setiap matanya terpejam selalu masuk ke hutan belantara, kalau tidak di lorong sekolah. Latar suasananya terus malam, tak pernah pagi atau siang hari yang cahayanya terang benderang.
Ayolah. Mereka hantu bukan vampir yang takut sinar matahari.
Maksud Zafran, matahari di pagi hari tepat untuk berjemur. Seandainya dia dikejar gerombolan hantu, biarkan berlari sambil kena sinar matahari pagi.
Kalau malam begini kan susah cari jalan. Hantu yang datang lebih banyak dan parahnya Zafran belum bisa mengatur sukmanya.
Butuh orang lain siapa pun itu untuk membangunkan dia dari alam mimpi agar cepat sadar ke alam nyata.
Bertingkah sok berani bekalnya meredam ketakutan.
Zafran berkacak pinggang sembari mengatakan, "Kalian yang lebih suka mimpi ketinggian liat gue baik-baik. Bentar lagi bakal ada jumpscare di depan mat- Anjim!"
Dari pohon di depan sana ada bayangkan hitam melesat ke atas pohon seberang.
"Jantungku, kamu harus kuat! Jangan takut!"
Crek!
"Whoaa! Anjrit! Kaget, bangsat!"
Suara genangan air becek terinjak kaki tak kasat mata mengejutkan pria itu.
"Dosa ya kalian bikin gue ngeluarin kata-kata mutiara!"
"Kalau mau deket gue secara baik-baik. Insya Allah gue terima, tenang aja. Asal jangan ngagetin."
Kaki Zafran mundur pelan-pelan membaca situasi senyap berkedok ancaman.
Ia siap berbalik lari namun sebuah cahaya bak pintu terbuka dari dua pohon yang dilintasi bayangan hitam tadi.
Keinginan untuk tidak tertarik tidak lebih dari rasa ingin tahunya.
Entah mengapa ia merasa cahaya itu mendekat maju. Penglihatannya menjangkau sosok pria berdiri membelakangi cahaya.
Tiba-tiba tulang pria itu mendadak kaku tak bisa digerakkan. Bak dipaku supaya tak pergi sejengkal pun dari sana. Zafran ingin langsung berlari dan pulang.
"Allahumma- "
Doa yang hendak dipanjatkan terputus lantaran Zafran melihat banyak makhluk jin mengitari pria misterius di balik cahaya itu.
Sekuat apa pun Zafran bergerak sambil menajamkan sosok siapa yang dia lihat barangkali kenal pas sadar, doa yang dibaca dalam hati tak pernah selesai hingga akhir. Selalu terputus di tengah jalan.
__ADS_1
***
"Zafran!"
Tok! Tok!
Pak Adit mengetuk meja membangunkan anak didiknya dari tidur panjang.
Mereka sama-sama menahan gelak tawa Zafran bangun dengan garis melintang dari sudut bibir sampai telinga.
"Cuci muka sono! Ngiler tumpah-tumpah." Dewi mengomel seperti biasa.
"Pergunakan istirahat dengan baik. Jangan dibalik, pagi tidur malam begadang. Besok lagi jangan diulangi."
Bahu Zafran merosot lemah. Dia ngantuk sekali sampai ketiduran pulas selama dua jam pelajaran Pak Adit.
"Iya, Pak."
Irlan merasa kasihan dengan temannya. Dia mengajak Zafran ke kamar mandi untuk basuh muka.
"Bangun. Gue temenin ke kamar mandi, buruan."
Zafran berdiri, berjalan sempoyongan di belakang Irlan. Tidur sesaat berasa sangat lama.
"Kapan gue mimpi baik?"
Irlan menatapnya sedang mengaca di wastafel. "Doa makanya."
"Kata lo itu bisa menambah pengalaman adventure, mirip pintu doraemon."
"Makin ke sini tambah gak jelas. Gue tadi mimpiin orang, tapi gak tau siapa. Gak liat mukanya. Dia dikelilingi banyak jin, sekilas mirip sekte sesat."
Entahlah. Zafran mengangkat bahu ragu atas teori melalui prasangkanya.
"Zaman sekarang masih ada sekte?"
"Jangan salah. Di negara sono, ada nyembah Tuhan tapi minta nyawa orang. Sesat itu."
"Ohh, ada." Irlan mantuk-mantuk baru tahu.
"Dari kapan lo tau gue ada perasaan sama Mira? Jefri, Awan, Juan, yang lain gak pada tau."
Terkuak lah satu fakta terpendam seorang Zafran.
Selagi hanya berdua di kamar mandi, Irlan secara singkat tersenyum penuh arti.
"Gak perlu tau gimana caranya. Sekarang urus perasaan lo. Lo gak bisa cemburu di situasi sekarang. Yakin bakal aman selamanya?"
__ADS_1
"Selagi mulut lo gak ember kayak Pak Adit pasti terkendali dan aman," jawab Zafran.
"Gue gak tau reaksi sepupu-sepupu Mira. Persiapan dari sekarang, Zaf."
"Gak perlu persiapan. Gue gak berniat ungkapin perasaan."
"Kenapa?"
Zafran lebih sadar diri ketimbang sadar situasi. "Mirza sekarang jadi pacar bohongan si Mira udah yang terbaik. Sama sekali ngerepotin andai gue sama dia yang pacaran."
Irlan paham sampai di sini. Tak ada orang yang mampu melindungi Mira sebaik para sepupunya dan Mirza.
Masa lalu Mirza dan Mira pun menunjukkan hingga sekarang masih ada sisa perasaan yang belum usai.
Mereka berpisah karena masalah keluarga. Dipertemukan kembali oleh alasan yang sama.
Tidakkah terlalu egois jika Zafran menyatakan perasaan dengan Mira yang merupakan sahabatnya selama empat bulan ini?
Bukankah tamak seandainya Zafran menyingkirkan kepedulian demi hatinya di kala Mira tidak ingat apa yang menimpa dia dan Indri di atap sekolah hingga merenggut nyawa salah satunya?
Mira adalah orang ketiga yang mengulurkan tangan membantunya setelah Irlan dan Dewi.
Memiliki ketua kelas seperti Irlan cukup membantu. Selain sering mengeluarkan pendapat, pria itu selalu terima saran orang lain, rendah hati, penyabar, juga menjadi tempat konseling teman-teman.
**
"Lo cuci muka pake sabun colek? Lama banget di kamar mandi."
Lagi-lagi Zafran heran mengapa orang yang menganggapnya sepele justru lebih peduli dibanding orang baik sekitarnya.
"Kepo lo kayak Dora."
Dewi menaikkan sudut sebelah bibirnya memberi kesan julid.
"Jangan ketiduran lagi. Gue siram air ntar biar gak usah cuci muka di kamar mandi."
"Bawain seember biar gak nanggung."
"Ada aja pembahasan bikin lo berdua berantem," imbuh Mira sebagai pendengar yang baik.
"Nih orang duluan. Dikasih peduli malah jawab kepo kayak Dora. Rambut gue panjang kali," ujar Dewi.
"Bukan rambutnya, tapi keponya sama. Di mana swiper? Kalian lihat? Di mana? Di belakang kami? Kepo sama swiper si Dora."
"Gak jelas kan? Nyambung gak ke otak lo?" tanya Dewi.
Mira tidak tahu.
__ADS_1
"Lo cuci muka setengah jam pake sabun berbusa juga gue gak tanya. Gue yang cuci muka pake air keran sepuluh menit disangka lama," jawab Zafran.
Mira tersenyum pahit. "Kapan lo berdua akur sehari?" batinnya tatkala terus mendengar perdebatan kecil mereka.