
"Gila... " Tidak dapat dipercaya. "Mereka balikan dong? Iya?" kata Dewi melirik sesama mantan saling tatap.
"Sementara," jawab Jefri terus mengawasi mereka berdua.
Demi apa pun Mirza lebih baik musuhan sama Mira daripada dianggap pacar lagi.
"Gak bosen liat gue, Mir?" tanya Mirza seraya menundukkan kepala.
Mirza tentu tidak nyaman jadi bahan tontonan mereka di belakang sana.
Irlan berkata, "Kita tunggu kelanjutannya gimana. Dokter bilang apa tadi, Mira agak lupa-lupa dikit karena lama gak sadar."
"Gue gak ikhlas liat mereka balikan walaupun sementara," ujar Zafran.
"Emang lo siapa gak ikhlas segala?" sahut Surya.
Mirza sama sekali tak pernah terlintas bahwa Mira menganggapnya pacar setelah sadar. Ini sangat aneh.
Surya membuka plastik berisi minuman dan makanan yang dibeli di kantin. Dia ambil air mineral.
Mira menatap Mirza begitu lama. Dia merasa Mirza adalah pasangannya, tapi ada penolakan dari lubuk hatinya. Itulah mengapa dia tak berekspresi.
"Lo beneran pacar gue?" tanya gadis itu.
Byurr!
Semburan maut Surya mengagetkan orang di sebelah-sebelahnya.
"Gue kaget dia nanya gitu."
Mirza mana tahu kudu jawab gimana. Apa dia jujur saja? Biar cepat selesai dan tidak ada beban.
Ting!
Mirza teralihkan notifikasi pesan ponselnya.
Dari Jefri mengatakan jawab saja mereka berpacaran. Toh, Mirza belum sepenuhnya move on dari Mira.
"Gue pengen makan nasi, Sur. Keluar yuk," ajak Dewi tiba-tiba.
Surya kurang betah dalam suasana asing ini. Dia nurut saja diajak ke luar.
"Gue balik duluan, Mir. Ada ulangan biologi," kata Irlan berdiri mengajak Zafran.
"Lah? Kan minggu depan ulangannya."
"Belajar dari sekarang. Ayo."
"Lo mah terlalu rajin, anjir.. "
Zafran terpaksa pulang. Hatinya tidak rela membiarkan mereka berduaan.
Mira melihat anak kecil di belakang Mirza melompat kecil memanggil namanya.
"Kamu lihat aku? Wah!"
Fani tepuk tangan riang gembira.
"Aku mengira kamu tidak bisa lihat aku lagi setelah sadar."
Kemudian Fani bicara pada Mirza. "Kamu tahu, aku tidak membencimu lagi, Mirza. Kita berperan besar menyelamatkan Mira sampai dia bangun."
"Kata siapa?" sambar Mira.
__ADS_1
"Dia sungguh melihatku," gumam Fani.
Mira risih diperhatikan Awan tanpa kedip.
"Dia merasa bersalah atau kerasukan hantu rumah sakit?"
Awan tersadar atas pertanyaan Mira. "Yang pertama." Lalu pergi.
Semangat membara dan kenakalan Awan tak terlihat semenjak Mira dirawat.
Mereka semua tahu betul suasana hati anak itu sedang tidak baik-baik saja.
Selain Mira dan Mirza, banyak lagi yang butuh pemulihan.
"Kemampuan lo sama sekali gak berkurang."
Mira tidak peduli dan lebih memilih tidur lagi.
Benar, kemampuannya tidak berpengaruh.
Gadis itu ingat suara Mirza. "Lo selalu nyuruh gue pulang. Mau disuruh apa emang?"
"Hm?"
Jefri berhenti menata barang-barang berantakan di meja.
"Gue jelas denger lo bilang harus cepet pulang supaya gak kesasar."
"Oh- itu ... Lo kritis agak lama. Yang lain khawatir."
"Gue istirahat sebentar di sana. Gak dibolehin juga?"
Jefri lantas menghampiri Mira langsung dan memberi pengertian.
Jefri menarik selimut Mira dan menutupi tubuh sampai leher.
Mira membalas, "Lo keliatan tenang dari luar."
Omongan pedas kerap terlontar tanpa filter. Sifat frontal dalam bicara tidak seperti Mira sebelumnya.
Tetap saja mereka memaklumi semua itu.
**
Dewi mau mendengar pendapat Surya yang otaknya rata-rata.
"Hmm, rasanya aneh mereka balikan. Gue kasian sama Mirza. Juga gak tega liat Mira."
Dua sejoli menuju parkiran motor di belakang rumah sakit.
"Mirza dapat imbalannya. Itu namanya give and take. Dia nyelametin Mira. Mira nganggap dia pacarnya."
"Jefri sama Awan yang turun tangan langsung cegah Mira loncat dari rooftop."
"Lo gila? Mereka bertiga satu kakek. Masa salah satu dipacarin. Gak ngotak."
Ada benarnya...
"Gue lebih kasian sama orang tuanya Indri," gumam Dewi. "Gue gak paham deh. Zaman sekarang masih ada pesugihan gitu-gituan."
"Jefri bilang hal kayak gitu gak akan musnah."
"Tumben ada yang masuk otak lo," cetus gadis itu menaikkan alis sebelah.
__ADS_1
Surya temukan motornya. "Halah!" Dia usap muka Dewi.
Dewi teriak kesal. "Make up gue! Syalan!"
*
Irlan dan Zafran biasa dijemput sopir ke mana pun mereka pergi.
Berbeda dengan arah yang diambil Surya dan Dewi. Parkir mobil letaknya di sebelah timur rumah sakit.
Dari kejauhan saja dua pria itu sangat modis dan kece. Siapa coba yang tidak tertarik dengan anak tunggal kaya raya pewaris bisnis keluarga.
Namun belum saja menemukan pasangan yang tepat disandingkan dengan keduanya.
Irlan belum berkeinginan punya pacar. Zafran pula mau membenahi diri sendiri dahulu sebelum pusing mengurus anak orang lain.
Melihat Surya sebagai contoh mereka menjadikan siapa saja enggan berpacaran.
Irlan tipe pria yang mudah mengingat apa pun. Ucapan, perilaku, pemberian dari orang tak mudah dilupakan. Dia takut jika terlanjur menyukai lawan jenis akan sulit move on, seperti Jefri.
Omong-omong Zafran tidak nampak mobil Irlan. "Lo belum dijemput. Mau nebeng?" tawarnya baik hati.
"Gak usah," tolak Irlan berkutat dengan hape.
"Bener nih?"
Irlan menurunkan gawainya kemudian menggeleng. "Bentar lagi sampe."
Betul rupanya mobil Irlan memasuki halaman parkir.
Kok bukan mobil biasanya, pikir Zafran. "Oh itu! Mobil baru neh?"
"Baru liat kali. Itu mobil udah kelamaan di garasi. Gue suruh bawa main."
Terheran-heran sesama sultan. "Hah? Panasin mesin doang?"
"Yoi."
Zafran menangkis rasa iri. Dia tanya tadi mobil Irlan ya yang ganti, bukan mobil orang tuanya.
Berarti Irlan punya mobil lebih dari satu? Zafran kalah dong?
"Gue harus beli satu lagi," batinnya.
Irlan baru maju beberapa langkah tapi dia balik badan lagi memanggil Zafran.
"Zafran."
"Apaan?"
"Om Hardi tau mata batin lo terbuka dan tau betul ada energi tumbal yang dirasain Jefri. Lo gak penasaran alasan Om Hardi sembunyiin semua itu?"
Bak ditancap seribu anak panah napas Zafran berhenti seketika.
"Jefri gak bisa mencegah, tapi Om Hardi bisa. Setidaknya gak makan korban lagi. Gue harap lo bisa obrolin sama beliau dan terbuka satu sama lain."
Saking bingungnya mau merespon apa. Zafran cuma tersenyum tipis dan bilang, "Hm. Gue coba ngobrol sama bokap."
"Kasian Mira, Zaf. Lo dan energi yang ada di dalam tubuh lo gak salah apa-apa. Gak ada juga yang harus disalahin. Kita gak bisa salahin siapa-siapa."
Perkataan Irlan yang terakhir cukup berputar menyebabkan denyutan di dahi pria itu.
"Gue paham."
__ADS_1