Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Perkara Piknik Sekolah


__ADS_3

"Jep, jangan curiga ama Pak Adit. Yakin deh. Muka-muka kek dia mah ... " Surya sempat melihat sekeliling. "nginjek semut langsung minta maaf," imbuhnya memberi sangkalan.


Jefri bukan yakin gurunya merupakan tersangka. Dia khilaf.


"Siapa yang curiga?"


"Lo. Tadi gue liat, gak usah pura-pura."


"Itu ..."


"Apa? Apa?" Surya meledeknya.


"Gue gibeng, mau?" tukas Jefri menganggap Surya sama sekali tak lucu.


Tak perlu. Tiap kata yang terlontar dari mulut biadab Jefri sudah menampar hidupnya.


Akibat berteman dengan Jefri, pria itu sering dapat teror misterius di rumah dan melihat gangguan kala berkendara sendirian.


Untungnya, Jefri bilang Surya tak mudah dicelakai lantaran energi positifnya lebih dominan.


**


Saat Pak Adit menuruni tangga beliau papasan dengan Pak Roni yang hendak naik.


Pak Roni melihat Pak Adit mengusap lehernya menimbulkan pertanyaan.


"Pak," sapa Pak Roni.


"Ya." Pak Adit membalas singkat.


Mereka pun cuma menyapa, tidak mengobrol agak lama. Selain membuang waktu, Pak Roni rasa bukan waktu yang tepat.


Pak Adit menyembunyikan raut kesal dan kepalan tangan kanan yang sedang menenteng buku paket.


"Pak Adit!"


Di lantai bawah ada lagi yang memanggil Pak Adit, yaitu sahabat dekatnya, Pak Ilman.


Mengetahui ada Pak Ilman, guru muda tampan itu tersenyum cerah kembali.


"Gapapa?"


"Oh itu. Aman." Masih terasa sakit, tetapi bisa ditahan.


Laki-laki harus kuat.


Kuat melawan jati diri.


"Mereka bahaya banget kalau nanti ada event sekolah."


"Mereka murid kita, bukan sesuatu yang harus ditakutin."


Pak Ilman memberi bonus dua jempol. "Bagus!"


Pak Adit sekalian mau bahas piknik angkatan kelas sebelas beserta wali kelas bulan depan.


"Apa gak bisa di lahan belakang? Saya rasa ke Cipanas lumayan jauh."


Pak Ilman merasakan hal yang sama. "Mereka masih diskusi. Proposal belum sampai ke tangan


kepala sekolah."


"Coba deh negosiasi barangkali bisa. Ngeliat kondisi dan situasi sekarang kurang memungkinkan. Target kita semua anak ikut, kan? Kalau ke Cipanas kayaknya anak-anak istimewa gak ikut."


Anak-anak istimewa yang disebut Pak Adit berisi enam anggota. Yakni, Mira, Jefri, Awan, Dewi, Surya, dan Irlan.

__ADS_1


Paket orang istimewa sudah tidak bisa diganggu gugat. Satu tak ikut, yang lain ikutan.


Pak Ilman menepuk bahu rekan sekaligus sahabatnya. "Nanti kita obrolin lagi sama guru-guru. Habis ngajar."


Tutur kata Pak Ilman sedikit menenangkan Pak Adit.


Mengapa mereka harus jauh-jauh ke luar kota sementara lahan belakang sekolah kosong dan luas? Apa mereka senang memakan biaya?


Pokoknya Pak Adit mau semuanya ikut tanpa terkecuali.


**


Tiga hari kemudian pengumuman piknik disebarluaskan. Telah diputuskan berdasarkan masukan para guru, kelas sepuluh akan pergi ke Yogyakarta, kelas sebelas ke Cipanas, kelas dua belas tidak pergi ke mana-mana menyiapkan ujian praktik.


Mira tidak bersorak gembira seperti teman lain. Dia justru tanpa ekspresi.


Reaksinya lebih ke malas ada piknik segala di semester dua.


"Yeayy!" Dewi menyenggol Mira, menyuruhnya tersenyum. "Pak Adit ngeliatin lo. Senyum gak."


Mira mau izin duluan tidak ikut piknik.


Dewi cepat-cepat menurunkan tangan Mira.


"Apa sih ..."


"Ntar. Jangan merusak suasana bahagia kita semua."


"Gue mau ke toilet," ujar Mira bingung dikira mau ngapain sama Dewi.


"Oh. Toilet." Dewi nyengir tanpa dosa. "Maap."


"Lo ikut gue."


"Ayok, yok!"


"Silakan," singkat sang guru.


Mereka keluar kelas dengan Dewi yang masih heboh sebentar lagi mau piknik.


"Gila, gila, gila!"


"Lo gila," hardik Mira di hati.


Dari tangga Awan menunggu Mira ke luar dari kelas. Omong-omong sudah kebiasaan dari zaman baheula, jadi dia tahu jam kapan saja Mira ke toilet.


"Temen lo bahagia banget mukanya," kata Awan mengejutkan mereka.


Mira tengok kanan-kiri. "Bolos kelas lagi? Gue aduin ke Om Pras sekarang lo!" ancam dia merogoh ponsel tapi tidak dibawa, masih di laci meja.


"Jamkos." Awan langsung pada intinya. "Gue gak ikut piknik." Dia mengacungkan tangan.


Dewi sudah menduga. "Lo berdua gak asik banget. Satu gak ikut, gak ikut semua."


Awan memberi alibi, "Heh, Mira gak ikut karena Jefri pasti gak ikut. Gue gak ikut karena beda tujuan sama mereka."


"Lo bertiga bisa ikut. Jefri jagain Mira, gue, sama Surya. Lo ke Jogja, kan? Nah minta ke Cipanas bareng kita atau gak kabur pas bus berhenti di pom bensin."


Saran dari Dewi bisa Awan lakukan.


"Imajinasi lo udah mirip penulis novel," tepis Awan. Saking geregetnya sampai melotot. "Fix gue gak ikutan."


"Lo kalau mau ikut, ikut aja ..." Mira tahu perasaan pribadi Awan. "Gak perlu laporan ke gue. Gue bukan emak lo di sini. Masih muda gak ada salahnya piknik. Lagian, lo bisa ngendaliin diri sendiri gak kayak gue."


"Gue bilang, gak ikut."

__ADS_1


"Muka lo keliatan banget pengen ikut, Awan."


"Emang iya?" Dewi perhatikan dari dekat, entahlah. Respon Awan dilihat dia pun malah jijik.


"Temen lo kenapa nih?" Awan menghindar.


Mira menarik Dewi. "Jefri pasti setuju sama gue. Btw, gue kebelet pipis banget. Ayo, Dew."


Dewi menurut ditarik Mira menuju toilet meninggalkan Awan yang menghela napas dengan tindakan barusan.


Setelah dua gadis tadi masuk toilet, rupa-rupanya Surya dan Jefri keluar dari toilet pria membahas perkara piknik.


"Pikirin dua puluh kali deh. Sayang lho gak ikut."


"Gue lebih sayang diri sendiri."


"Gue percaya, tapi coba dulu."


"Jangan maksa."


*


"Kecoak, Dew! Kecoak! Aaakh! Mama!"


Mira panik langsung keluar dari wc. Dewi lagi ngaca kebingungan mengatasi kepanikan temannya yang bodoh.


Dua pria yang masih berada di luar saling adu mata.


"Kenapa mereka?" Surya bergumam kaget mau lari kalau bersangkutan dengan jurig.


"Cek, Sur!" perintah Jefri.


"Suara sodara lo, sono periksa!" tukas Surya.


"Anjir."


"Sono, sono! Jangan gue!"


"Toilet cewek, Sur! Masa gue masuk sana."


"Urgent! No what-what alias gak apa-apa."


"Emang setan lo, Surya."


Mereka hanya ribut di luar sampai Mira dan Dewi keluar.


"Woi!"


Teriakan Surya tambah mengagetkan mereka.


"Ada apaan sih lo berdua heboh sekampung?"


Mira yakin Jefri menoyor kepalanya kalau tahu gara-gara kecoak.


Bukan Dewi saja yang kesal Mira tidak kunjung menjawab pertanyaan Surya, tentu Jefri juga.


"Gak ada apa-apa, kan?" Jefri memijit sudut depan matanya. "Kita duluan."


"Yakin lo?" Meski begitu Surya melambaikan tangan pada mereka.


"Hem."


Dewi memukul badan Mira. "Ngagetin aja lo! Anjrit, gue kira ada setan! Sampe gak berkata-kata."


"Gue geli, refleks."

__ADS_1


"Tau ah!"


__ADS_2