Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Dijaga Sementara


__ADS_3

Haloooo 👏


Aku mampir nyapa readers buat turut berduka cita atas kematian Indri di bab yang dipublikasi jam tiga sore tadi.


RIP Indri Fatmayanti. Semoga tenang karna gak diganggu jin lagi. Semoga orang tuanya sadar dan gak akan ulangi perbuatan musyrik dalam ritual apa pun.


Semua yang diperoleh dari cara yang salah, hasilnya pun akan salah.


Tapi kalau caranya benar dan halal pasti hidup banyak berkah.


Bukan satu, dua, atau tiga kasus tiap orang punya kenalan yang melakukan pesugihan atau ilmu" sihir yang dilarang dalam agama dan justru mengucilkan orang itu.


Sebetulnya kita bisa sama-sama merangkul orang itu untuk kembali ke jalan yang lurus dan benar dengan mengetuk pintu hatinya.


Namun banyak juga yang sepele. Memikirkan akibatnya nanti, belakangan. Sebelum merembet kena orang lain alangkah baiknya kita mendoakan mereka.


Atas izin dan kehendak Allah mereka akan temukan jalan yang benar dengan sendirinya.


.


Gak mau banyak cengcong karena besok kerja lagii 😨


Kalian harus makan dan istirahat teratur. Olahraga jangan lupa.


Main HP jangan kelamaan. Pas ada notif bab baru aja kalian mainnya ya 😘


Tinggalin jejak entah itu like or comment karena sangat berharga buat aku sebagai writer 💕


...***...


Hamparan rumput hijau tak terukur luasnya. Langit cerah saat siang hari, sejuk saat malam hari. Tidak panas, tidak dingin pula.


Berhari-hari dua jiwa yang mendiami tempat asri itu tidak merasakan hujan.


"Aku senang lama bersamamu, Mira." Fani berlari mengitari pohon-pohon yang berbaris.


Gadis yang disebut Mira terpantau sedang duduk menekuk kaki di bawah pohon rindang memegang gambar yang belum terselesaikan.


Mira memakai dress panjang putih. Rambut panjangnya dibiarkan terurai kena angin lembut. Pemandangan indah nan sepi di sekelilingnya tidak membuat dia betah.


Hantu anak kecil yang mendiami rumah keluarganya menemani Mira di dimensi itu.


Apa yang dilakukan terakhir kali. Sejak kapan dan alasan berada di sana. Siapa saja kerabatnya. Semua itu tidak diingat.


Mira sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan tidur pun dia di situ.


Fani seperti mengajak bicara dinding.


Mira sama sekali tak menggubrisnya. Dia banyak diam memandang lukisan tanpa wajah yang digambar sendiri.


Sesekali Mira tersenyum singkat saat Fani membuat lelucon sebagai tanggapan.


Dia berada di sini tak lain membawa kebingungan dan ribuan pertanyaan terpendam.


Mimpi buruk yang terasa sangat panjang terkadang membangunkan gadis itu.


Fani duduk sila di depan Mira sembari memajukan wajahnya. Memerhatikan tiap jengkal pahatan raut yang Mira miliki.


"Melelahkan ya?"


"Gak sama sekali."


Pensil di tangannya menggambar banyak orang yang entah bagaimana mata, hidung, dan bibir mereka.


"Coba aku lihat gambarmu."


Fani menerima banyak kertas gambar sampai tercengang.


"Aku menggambar semua mimpi buruk itu."


Fani melihat satu per satu. Dia menekankan lagi. "Itu bukan mimpi! Kamu mengalami langsung, Mira! Berapa kali aku katakan."


"Lihat ... Kamu menggambar semuanya. Ini Jefri galak, Awan nakal, Juan pemarah, Zafran jahil, Surya penakut, Dewi panutanku, dan Irlan ketua kelas. Kamu sudah ingat mereka. Tidak lama lagi kamu bisa pulang!"


Fani meletakkan semua kertas itu di tanah dan melompat gembira atas kemajuan Mira.


"Jangan bilang kamu enggan pulang. Aku di sini cuma mengawasimu sampai ingat semua. Walaupun aku senang sih, bisa bersamamu daripada mereka. Selamat, Mira!"

__ADS_1


**


Awan memanggil bocah itu supaya datang.


"Lama banget!"


"Ya maaf." Pandangan Fani mengarah ke lantai.


Awan berkacak pinggang. Dari yang sebelumnya melotot lebar berubah teduh bertanya, "Mira gimana?"


"Mau yang buruk atau baik dulu?"


Anak kecil ngelunjak bukan main.


"Dua-duanya sekaligus."


"Oke!" Fani mendongak semangat. "Mira baik-baik saja. Dia hampir ingat semua walaupun gestur dan tutur katanya masih aneh- "


"Persingkat!"


"Dia keberatan untuk pulang."


Jefri yang duduk di kursi lorong mendengarkan mereka langsung bangun. "Keberatan, kenapa?"


Fani mencari alasan yang Mira pikirkan. "Mungkin karena di sana pemandangannya lebih bagus dan cuma kami berdua."


"Jangan ngarang novel ya lo!" sahut Awan mengintimidasi.


"Paksa dia balik." Jefri berkata lain.


"Kalian bilang kesehatannya bisa memburuk kalau dia kembali sekarang. Aku harus bagaimana nih?"


"Mira kritis bukan berarti gentayangan kayak lo di sini," celetuk Jefri.


"Tapi jiwanya sudah keluar dari tubuhnya. Tidak sama dengan mati?"


"Percuma lo ngomong sama dia. Percaya." Awan menepuk punggung Jefri sebelum menendang pergi Fani. "Polos sama goblok gak ada bedanya."


"Kalian manusia tidak tahu terima kasih! Kalau bukan aku yang menemani Mira siapa lagi?" Fani jadi dongkol. "Kamu?" Fani tunjuk Awan. "Kamu?" Dia tunjuk Jefri.


Jefri mengajarkan Fani cara menahan emosi, menarik napas panjang kemudian dihembuskan perlahan.


"Tolong jaga Mira terus, Fan."


"Huh!"


Jefri masuk ke kamar inap Mira. Bukan hanya dia dan Awan yang bolak-balik menjaga gadis itu.


Hana dan Ratih selalu berada di sana. Menunggu kabar baik dokter atau Mira membuka mata.


Teman-teman yang lain terkadang ikut menginap bergiliran.


Pemakaman Indri sudah dilakukan malam hari setelah dinyatakan meninggal dunia oleh petugas medis. Beserta orang tuanya, mereka menyesal telah melakukan ritual perjanjian dengan jin tanpa tahu bayaran yang mereka mau adalah nyawa anaknya.


Insiden tak terduga ini banyak membuat perubahan.


Beberapa murid memutuskan untuk pindah akan tetapi lebih banyak yang bertahan dikarenakan pengajar berpengalaman dan terakreditasi tinggi.


Jefri yang semula renggang dengan Mirza memulai untuk berbaikan.


Seluruh keluarga berterima kasih pada Mirza. Sebaik mungkin dia menghalangi pisau bermantra menusuk Mira.


Kini Mirza dalam masa pemulihan meski memakai kursi roda. Akibat penusukan di perutnya yang cukup dalam dia tidak memenuhi kualifikasi olimpiade renang.


Mirza sama sekali tidak menyesal dengan apa yang dilakukan hari itu hingga detik ini. Dokter berkata mantan kekasih Mira bisa cepat pulih sebab seorang atlet.


Kabar buruk yang sampai ke keluarga di Bogor tak menampik kerenggangan antara Jefri dan Awan dengan Juan.


Pada dasarnya Juan memang mudah marah dan sukar memaafkan.


Om Haryo kesulitan menangani putra sulungnya. Hari kedua Mira dirawat Juan membuat keributan di dalam.


Juan mencekik leher Jefri, menggampar Awan, serta mengancam mereka jika dalam waktu dekat Mira tetap begini.


Ada waktu mereka sekeluarga berunding tentang Ratih dan Hana supaya pindah lagi ke Bogor.


*

__ADS_1


Selama hampir satu pekan Mirza tidak menyentuh buku pelajaran. Dia mendapat cuti sakit dan pemulihan dari rumah sakit hampir satu bulan.


Satu-satunya yang dia genggam sejak bangun adalah tangan Mira.


Pisau bermantra itu telah menyerap sebagian kemampuan Mirza. Seharusnya tidak begitu sakit, tapi karena ada kekuatan magis lukanya dua kali lipat nyeri.


"Lo harus pulang juga, Mirza."


Hana pula heran melihat Mirza terus di sisi putrinya. "Iya, nak. Gak perlu menyesali apa-apa. Kamu udah melindungi Mira. Sebentar lagi Mira bangun kok."


Ratih lebih membiarkan Mirza. Mungkin masih tersisa rasa bersalah dalam hatinya. Baginya sangat wajar.


Jefri mendekatkan dirinya ke Mirza. "Fani bilang Mira baik-baik aja. Dia mulai inget semuanya."


"Gue tau."


Lebih tepatnya Mirza juga membantu Mira menemukan jati diri di sana.


Mirza terkejut tangan Mira yang dia genggam bergerak.


"Kenapa?" Jefri ikut kaget.


Ratih dan Hana saling menoleh.


Mirza melihat seksama jari-jari Mira sungguh bergerak atau hanya perasaan saja.


Jefri melihat jari manis kanan Mira bergerak sekali.


"Bunda! Jari Mira bergerak, Bun!" Jefri sangat girang.


"Bukan perasaan gue doang, kan?" tanya Mirza.


"Hm. Gue liat."


"Alhamdulillah, Ya Allah! Mira mulai sadar, Mba!" Hana terharu memeluk Ratih.


Ratih mengusap punggung adik iparnya meneteskan air mata. "Doa kamu gak sia-sia, Han. Allah mendengar doa kamu."


"Iya, Mba."


*


Dokter menjelaskan Mira melewati masa kritis cukup cepat kali ini.


Semuanya lega mendengar kabar baik yang ditunggu-tunggu.


Jefri saking bahagia memberi kabar ke grup sehingga sore hari kamar inap Mira hampir penuh.


Zafran bersyukur tidak lama lagi Mira bangun.


"Bisa gak tangan lo lepas dari tangan si Mira?" Dia tidak nyaman melihat pemandangan itu.


Padahal yang lain baik-baik saja. Mereka tahu Mirza banyak membantu.


"His! Biasa aja dong!" tegur Dewi mencubit pinggangnya.


"Aduh!"


Mirza menatap datar Zafran. "Gue juga mau lepas, tapi.. "


"Mira yang megang tangannya," sambar Jefri.


"Asli? Itu namanya jodoh!" pekik Dewi.


"Siapa yang jodoh?" sahut Hana dari belakang mereka.


Dewi gelagapan.


"Dewi sama Surya dong... " Irlan cepat beralibi.


Hana tersenyum. "Ohh, kalian emang cocok."


"Jaga omongan di sini ada emaknya Mira sama Jefri, anjir!" cetus Awan.


"Matanya Mira gerak woi!" Surya memajukan tubuhnya penasaran.


Mereka menanti Mira membuka mata.

__ADS_1


"Miraaa! Akhirnya... "


__ADS_2