
Ingat Ratih, ibu Jefri yang ikut tinggal serumah dengan anak-anak.
Tengah malam beliau dengar senandung tembung jawa yang sangat terkenal tak lain tak bukan lingsir wengi.
Tanpa rasa takut sedikit pun Ratih keluar kamar dan mencari asal suara. Dari yang super jelas menjadi pelan ketika Ratih sampai di depan kamar keponakannya.
"Kok suaranya dari kamar Mira?"
Singkat cerita Ratih ingin lihat dan memastikan si Mira ini memang lagi bersenandung pakai bahasa jawa atau salah dengar.
Biasanya gerobak tongseng juga lewat jam-jam segini menyetel lagu-lagu jawa atau rekaman perwayangan.
Sering Ratih lihat, tentu dipastikan gerobak yang setiap hari lewat bukan gerobak gaib. Penjualnya berasal dari Kota Pekalongan, wajar seleranya lagu jawa lawas mirip-mirip sinden gitu.
Tok! Tok!
Ratih membuka pintu kamar Mira yang tidak dikunci. Anak ini kebiasaan lupa mengunci segala macam ruangan.
Mira sedang tidur lelap di atas kasurnya. Ratih baru sadar nyanyian lenyap. Ya hening saja, cuma ada suara AC di kamar Mira.
Ratih kemudian menutup pintu pelan supaya tidak menimbulkan bunyi, akan tetapi lama-lama kok ada suara orang nyanyi lagu yang sama seperti disambung gitu.
Perasaan Ratih sudah tidak enak. Dibuka setengah pintunya dan jalan cepat ke kamar Jefri yang berada tepat di samping kamar Mira.
"Jef. Jefri." Sambil diketuk lirih, Ratih harap anaknya belum tidur atau setidaknya mau bangun sebentar.
Cklek!
"Ken-- "
Belum selesai Jefri ngomong, Ratih sudah main serobot. "Ada yang gak beres sama Mira, Jef. Bunda takut."
"Bukan kerasukan kan, Bun?"
Jangan sampai hantu nenek kurang ajar di sekolah membuntuti mereka dan merasuki Mira lagi. Nenek itu suka sama Mira.
"Bunda gak tau... "
"Lah terus gak beres kenapa, Bunda? Jelasinnya jangan setengah-setengah, ini bukan beli telor di warung."
Ratih mengeplak badan Jefri. "Bercanda terus kamu ih!"
Jefri tertawa sebentar. "Ada apa, Bunda?" Dia ingin dengar.
"Bunda denger Mira nyanyi lagu jawa di kamarnya. Pas Bunda cek, Bunda buka pintu nyanyiannya ilang. Bunda tutup pintunya ada suara lagi. Jadi Bunda buka pintunya setengah."
"Aku gak denger apa-apa." Muka Jefri sebetulnya serius. Lihat bundanya panik gini jadi mau ketawa.
"Asli?"
"Iya... "
"Jangan ketawa kamu, Jef. Bunda takut tau."
"Bunda salah denger kali. Jangan overthinking dulu," kata Jefri berprasangka baik. "Kalau Bunda denger pasti aku udah cek duluan ke kamarnya Mira."
"Iya juga sih. Bener kamu gak denger apa-apa?" Debaran jantung Ratih mulai normal.
"Iya, bener."
Apa telinganya mulai sensitif dengar suara ini itu langsung takut, terbawa kisah mengerikan zamannya kecil.
"Ya udah Bunda mau tidur lagi kalau gak ada apa-apa."
"Tidur tinggal tidur," celetuk Jefri.
"Jangan durhaka kamu ya," peringat Ratih.
Gantian Jefri yang takut. "Astagfirullah bercanda, Bunda."
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit usai Ratih masuk kamar, Jefri di dalam kamar belum bisa tidur.
Sayup-sayup dari dinding sebelah terdengar suara senandung stabil.
"Hmm.. Hm... Hm... "
Bayangkan saja lagu lingsir wengi tanpa lirik bahasa jawa, cuma nadanya saja.
Jefri menempelkan telinganya ke dinding baru segera keluar memastikan itu bukanlah suara Mira.
"Bunda gak salah denger ini," lirih Jefri.
Jefri pegang gagang pintu yang terbuka setengah karena disengaja oleh Ratih dan dibuka langsung tanpa ragu.
Lampu tengah kamar sepupunya menyala. Penghuninya bahkan duduk di depan cermin rias sedang mewarnai kuku pakai kutek istilahnya.
Mira menengok cepat. "Ngagetin gue deh."
Jefri lihat jam dinding secara langsung Mira mengikuti pandangannya.
"Ngapain malam-malam di depan kaca kutekan bukannya tidur?" sembur Jefri mendekati Mira.
Mira spontan lihat kuku jari tangannya yang selesai dengan indah dikutek warna ungu muda.
"Bagus, gak?"
Alis Jefri bertaut heran. "Gak bagus," tangkasnya tak peduli. "Lo gak denger orang nyanyi tadi?" Dia memindai seluruh kamar Mira agar memperoleh dari siapa dan di mana asal suara itu.
"Siapa yang nyanyi tengah malam, Jef?" Mira merapikan kuteknya dan beranjak pindah ke kasur. Mau apa lagi selain tidur.
"Asalnya dari kamar lo."
Tumbenan Mira tenang begini. Biasanya Jefri bilang ada suara ini atau ada hantu ini dia langsung ngaung-ngaung takut.
"Gue gak denger apa-apa. Halu kali lo," kata Mira.
"Lo mau gue jaga di sini gak?" Jefri menawarkan diri.
"Ih, lo kan punya kamar lebih gede dari gue. Jangan di sini, sana huss huss." Mira usir si Jefri.
Jefri berdecak malas. Mira dipedulikan justru menyepelekan. "Awas lo teriak-teriak manggil gue. Gabakal dateng gue."
"Heleh."
Jefri akhirnya keluar dari sana dan masuk kamar untuk tidur.
Dari dalam selimut Mira membuka mata dan duduk menghadap jendela di sisi kirinya.
Seraya tersenyum biasa Mira bicara, "Barusan? Itu Jefri."
Di luar jendela terdapat sosok pria tampan sangat pucat memakai hoody bertudung hitam.
Tawa ringan Mira menandakan bahwa mereka bukan sekadar lihat sekilas.
"Kamu gak bisa masuk gara-gara Jefri?" tanyanya sedikit heran setelah pria di luar bilang tak bisa masuk terhalang semacam dinding tebal.
"Kamu lebih ganteng dari Jefri."
"Kalau mau masuk aja, tapi aku gak bisa nolong kamu ya. Kita ngobrol doang."
***
Mira melamun dan itu sangat mengganggu pemandangan teman dekatnya.
"Jep, sepupu lo gak kerasukan lagi, kan?" Surya bisa mati berdiri setiap hari disuguhi Zafran atau Mira balapan teriak, berkelakuan aneh hampir celakai orang.
Di satu meja ada Surya, Jefri, dan Zafran berseberangan dengan Dewi, Mira, serta Irlan.
Zafran melihat Mira dan menjawab, "Tinggal kasih bakso juga doyan."
__ADS_1
"Anjir," sahut Dewi.
"Nama bakso mercon tapi gak ada merconnya ya." Surya ngajak ribut.
Irlan tak tahan diam lebih lama. "Gak gitu konsepnya, Suryo."
"Maksudnya mercon ini tuh karena isi bakso adalah cabe, jadi mulut lo berasa meleduk kepedesan. Mercon kan petasan, petasan meleduk, betul?" Zafran bodoh juga malah diladeni.
"Gak juga, Jap. Mercon disiram aer gak bakal meleduk," pungkas Surya.
Zafran izin ke Dewi. "Bisa gak sih gue kubur ini orang hidup-hidup, Dew?" Intonasinya emosi sedikit naik.
"Masalahnya ntar malah lo yang dikubur duluan, Zafran." Dewi menggeleng, itu bukan cara tepat mengurus Surya.
"Udah inget?" Jefri mengalihkan perhatian mereka.
Mira mengusap wajahnya frustasi dan lihat kuku-kukunya sendiri. "Ini ya?"
"Gue gak liat siapa-siapa di rumah, bahkan di sekolah. Coba gue mau tau wujud yang nungguin lo dari jauh," cetus Jefri mengaduk-aduk isi mangkuk tanpa menatap Mira sedikit pun setelah keluar klinik.
"Siapa sih?" bisik Dewi ke Mira.
Mira minta maaf pada mereka. "Sorry ya semuanya."
"Kenapa minta maaf lagi?" tanya Dewi.
"Kejadian hari ini kayaknya gara-gara hantu yang gue ajak ngobrol di rumah." Mira baru separuh menerangkan.
"Hah? Gimana, gimana?" beo Surya buntu.
Jefri menarik napas. "Mira kasih izin hantunya ngobrol, tapi ternyata dimanfaatin buat balas dendam." Dia sudah merasakan ada yang aneh, tapi tidak tahu apa sebabnya.
Mira menundukkan kepala bersalah. "Maaf ngerepotin kalian. Dewi, maaf mau nyelakain lo. Maaf buat Zafran sama Irlan yang gue cekek."
Mereka tidak tega juga menutup pintu maaf. Lagipula Mira tak berniat jahat tapi sedang dimanfaatkan oleh hantu tampan sialan.
"Tapi dia dendam sama siapa? Kan gak ada yang kenal dia, kecuali Mira. Mereka baru ketemuan juga kok udah mau balas dendam segala?" Zafran melirik satu per satu dari mereka.
"Mana sih setannya? Gue emosi banget anjrit." Dewi marah. "Seganteng apa sih? Jaehyun, Taeyong NCT? Chanyeol EXO? Ganteng-ganteng sialan itu mah."
"Gak seganteng mereka," kata Jefri.
"Gak seberapa dong. " Napas Dewi naik turun bak roaller coaster.
"Maksud lo?" Surya bersuara setelah Dewi membandingkan ketiga penyanyi korea dengan hantu tanpa memasukkan namanya.
Jefri mendongak tiba-tiba. "Sampai kapan gue harus jadi wadah lo?" Lirikan matanya tajam ke arah Mira.
Mira kaget Jefri bertanya begitu.
"Gue juga gak tau apa-apa, Jef. Dia muncul dari mana gue gak tau. Gue kira dia hantu penasaran biasa."
"Gak usah percaya omongan mereka. Ngapain lo susah-susah dengerin cerita mereka yang gak ada abisnya. Mir, lo itu manusia dan dia udah mati. Percuma gue ngelindungin lo kalau lo ngizinin mereka mendekat."
"Sabar, Jep." Surya rasa Jefri marah banget.
Zafran memegang bahu Jefri tanpa bilang apa-apa, takut salah.
Dewi hendak memegang tangan Mira yang menyatu gemetar dimarahi Jefri, tapi dia menarik tangannya ke sisi lain.
Dalam atmosfer yang sulit dikendalikan, Mira mendengar suara parau pria berhoody hitam dari belakang kepalanya.
"Kamu mau ikut denganku atau dia yang secara paksa kubawa pergi?"
"Kenapa, Mir?" Irlan menyentuh tangan gadis itu karena tepat di sampingnya.
Seketika Irlan membuat mereka semua terlonjak dengan teriakannya.
"GOBLOG! MIRA, DI-DIA S-SI-SIAPA?"
__ADS_1