Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Belum Melampaui Batas


__ADS_3

Dewi membasuh tangan di wastafel toilet sembari melihat wajah ke depan kaca.


Indri masuk dengan wajah sedikit kaget melihat Dewi di toilet dalam waktu yang sama.


Selagi Indri sekadar cuci tangan di wastafel dia curi-curi pandang ke Dewi.


Dewi menata rambut menunggu momen yang tepat untuk menasihati Indri.


"Tadi Jefri... "


"Jefri kenapa?" Dewi memotong pembicaraan.


Indri rada takut mengungkapkan permintaan maaf di hadapan Dewi untuk disampaikan pada Mira.


"Gue denger pembicaraan kalian. Sebetulnya gue gak berniat ngadu apa-apa, tapi malah keceplosan."


"Hah, keceplosan... " desah Dewi menatap Indri lekat. "Lo mau bikin mereka salah paham atau pendatang yang penasaran?"


"Gak dua-duanya."


"Kita gak tau ada hubungan apa antara lo sama Jefri," ucap Dewi menekan setiap kalimat.


Indri tampak gelisah berbicara dengan Dewi saat ini. Rasanya dia ingin pergi secepat kilat.


"Jangan mencoba masuk ke kehidupan mereka ... Urusan lo sama Jefri gak sama dengan urusan kita bertiga."


"Gue sama sekali gak mau masuk ke kehidupan mereka," tolak Indri. "Tapi gak ada yang percaya dan mau bantu gue selain Jefri. Makanya gue minta bantuan dan dia mau."


Dewi menautkan alisnya tidak mengerti hubungan apa yang mengaitkan mereka dengan dunia lain.


"Jangan menempatkan Jefri ke dalam bahaya. Dia bisa bantu lo, sementara lo gak bisa bantu dia."


Dewi memalingkan muka dan sengaja menerobos setengah tubuh Indri lantaran sangat kesal dengan tingkahnya.


*


Di kelas sangat rusuh akibat Zafran kerasukan roh waktu teman-teman makan siang.


Mira yang tidak siap mengatasi Zafran langsung bersembunyi di belakang Irlan dan mendesaknya maju menanyakan apa mau sosok itu.


"Udah gila lo nyuruh gue, hah?"


"Gue gak berani!"


"Apalagi gue! Sono panggil Jefri apa siapa kek!"

__ADS_1


"Kok lo malah nyuruh balik sih!"


Mereka berdebat, Zafran menggaruk tembok sampai lapisan pertama mengelupas.


Takut kukunya berdarah, Mira akhirnya maju sedikit demi sedikit dan menepuk punggung Zafran tapi mundur lagi.


Irlan lihat Surya di luar memasang wajah ngeri.


"Masuk sini bantuin gue! Malah nontonin doang!"


"Gue gak mau dimakan, Jap. Lo kan udah training lama!"


"Training apaan, njir!"


"Latihan bantu orang kesurupan!"


"Goblok!"


Mira bicara lembut. "Jangan garuk tembok, kasian temboknya pada ngelupas ntar bopeng.. "


Di saat Zafran memiringkan kepala menghadap Mira, mau dia tabok saking geramnya.


"Balik ah, Zaf! Serem banget ini, Irlan! Panggilin Jefri apa Awan, kek. Pak Roni sekalian."


Irlan mengangguk dan berlari ke luar kelas.


"Alhamdulillah lo dateng, Wan!"


Muka Mira pias bukan lega Awan datang.


"Mampus gue.. " lirihnya lemas.


Siapa pun tolong keluarkan Mira dari kelas yang dikepung dua manusia kerasukan.


"Mati kita, Lan. Dikepung dua syaiton."


"Hah?"


Benar begitu Awan mendongak menyeringai bak psikopat Irlan teriak masuk lagi berdiri di belakang Mira.


Zafran masih sibuk mengerang, mencakar-cakar tembok, dan ada Awan merangkak ke arah mereka.


Mira mana tahu doa-doa yang dirapalkan dalam hati berfungsi untuk mereka.


Mira curiga Awan sengaja dirasuki untuk menakutinya. Kalau Zafran memang sudah seperti pintu yang buka 24 jam.

__ADS_1


"Si Awan kemasukan maung?"


"Gue bakal bersyukur kalau betul maung."


"Emang apaan?"


"Cewek setengah badan."


"Idih!"


Mira mendorong Irlan. "Bawa Irlan nih, mbak."


"Kurang ajar lo, Mira!" Irlan beringsut mundur.


"Biar mereka pergi, Irlan. Ikut aja dulu."


"Ikut ... Lo kira gue mau mati sebelum waktu yang udah ditentukan? Ogah!"


"Ya sekarang waktunya."


"Kampret."


Awan sampai di bawah mereka masih dengan posisi merangkak. Tangan kirinya terulur menggapai kanan Mira.


Irlan berkata, "Mintanya lo, Mira. Ikut dia, gih."


"Minta duit kali.. "


"Jokes lo gak lucu, anjir."


Zafran sudah kembali ke raganya setelah kesasar mencari jalan pulang. Dia menampar wajah supaya membuktikan telah kembali sepenuhnya, bukan khayalan semata.


Zafran mendengar Mira dan Irlan ribut bahkan dari alam lain. Mereka sangat berisik.


Mira dengan mudah memberikan tangan kanannya.


Menyaksikan itu Zafran menaruh tangannya pula di atas punggung tangan Mira yang di bawahnya adalah tangan Awan.


Zafran kepanasan, Awan mengerang kesakitan, sedangkan Mira merasakan nyeri dada seperti kemarin-kemarin lagi.


Awan yang terperanjat melepas tangannya dan menjauh dari sinar biru yang terpancar dari dada letak jantung Mira berada.


Zafran pun bisa melihat, tapi Irlan tidak.


"Itu apaan, anjirr?" Awan bahkan belum mampu bangun, masih terduduk di lantai.

__ADS_1


Sinar apakah yang muncul dari tubuh Mira hingga hantu di sekitar mereka langsung lenyap bak debu, pikirnya.


Mira merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya, yaitu darah.


__ADS_2