Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Mereka Tetap Bersama


__ADS_3

"Hahahahaha!"


Gelak tawa Surya menggelegar satu ruangan. Dewi langsung menyumpal mulutnya dengan onde-onde. Kebetulan Juan menyuguhkan jajanan pasar atas kedatangan mereka.


Surya mengunyah onde-onde yang terlanjur masuk. "Yaw-elwah, Dew. Enak tapi."


Dewi menghela napas merasa sudah berakhir. "Mereka udah pergi."


"Lega banget." Surya mencomot kue pukis dan donat coklat juga.


Jefri tidak habis pikir Surya bisa makan sesudah menertawakannya. Kini tatapan mematikannya tak mempan lagi.


"Apa?" sahut Surya sambil mengunyah.


"Denger lo ngaku nangis di depan Mira mohon-mohon biar gak pergi, gue ngakak tapi terharu di saat bersamaan, Jef."


"Jangan dibahas lagi gue bilang," kecam Jefri menahan malu dua kali lipat.


Juan sudah berkata lebih baik jangan cerita apa-apa kepada Surya. Dia tidak pernah kasih solusi tapi soal menertawakan nomor satu.


"Gue harap mereka bahagia." Dewi menggalau seorang diri di saat teman-temannya biasa saja.


Jefri berkata, "Kenapa lo sedih gitu? Dia gak jadi pergi."


Sebetulnya memang Mira mengubah keputusan pas Rudi jemput ke rumah. Mereka bertiga bicara baik-baik dan Rudi membebaskan keputusan Mira, sama halnya dengan Hana.


"Gue bersyukur soal itu, tapi menurut lo dia bisa hidup jauh dari emaknya?"


Juan menganggap enteng pertanyaan Dewi. "Dari dulu Mira lebih lengket sama Jefri. Jefri udah kayak bapaknya."


Jefri memicing serius. "Lo empat tahun lebih tua dari gue. Terus sebutan buat lo yang pantes apa? Kakek?"


"Jangan terlalu serius," dalih Juan.


Surya menepuk bahu Dewi sebab ketegangan mereka berdua masih sama. "Lo berdua kudu akur sekarang. Lo dititipin sama emak bapaknya, kan disuruh jagain Mira."


Juan mengangguk dan balik menyindir. "Yoi. Yang nahan harus bertanggungjawab."


Dalam hati Jefri menggerutu. Dasar bermuka dua. "Setidaknya gue jujur di depan orangnya langsung."


Muka Juan pura-pura tidak mengerti maksudnya.


"Lo yang pertama curhat gak mau Mira ikut mereka," balas Jefri tersenyum sungging.


"Ngeri bet sodaraan sama Jefri, njir." Kalau gini sih mending Surya bangga jadi anak tunggal meski gak kaya-kaya amat. Ketimbang tiap hari terima kalimat-kalimat sindiran. "Sudah, sudah. Jangan rebutan aku."


"Najis!" Pacarnya sendiri bahkan langsung menampol badan Surya. "Terus sekarang Mira mana? Awan gak ada juga."


"Mereka lagi nge-date," tandas Jefri.


"Ngapain?" Bukankah Mira gamon dari Mirza dan Awan belum pacaran sama Putri? Benak Dewi mau bilang begitu tapi takut kena semprot sepupu-sepupunya.


"Ngapain lagi. Awan pasti ngerayain Mira yang gak jadi minggat," jawab Surya sudah ketebak tujuan Awan.


Bocah tengil itu pasti bersenang-senang keluar bersama Mira tanpa aturan-aturan dari Jefri dan Juan. Mereka berdua saja tidak mengajak yang lain. Seenggaknya Awan sekarang sudah bisa menjaga Mira dan Mira mampu membatasi diri.


**


Dua jam yang lalu ...


Brakk!


Bunyi bagasi belakang mobil ditutup. Rudi berbalik, Hana tengah berpamitan dengan keluarga kecilnya.


Hana memeluk Mira, mengelus rambutnya dengan lembut. "Jaga kesehatan ... Jangan sakit. Makan yang teratur. Belajar yang giat."

__ADS_1


Mira menganggukkan kepala. "Mama juga."


Selepas peluk Mira, Hana dan Ratih berpelukan erat. "Mba, saya titip Mira di sini."


"Iya. Tenang aja. Mira udah aku anggap anak sendiri. Kamu di sana sehat selalu ya."


"Mba juga." Hana tak lupa memeluk lelaki yang seperti putra sekaligus kakak Mira. "Maaf kali ini ngerepotin kamu lagi, Jefri. Tolong bantu Mira seperti biasa."


Jefri hanya mengangguk paham.


"Mamaaa!" Awan memeluk Hana padahal belum melepas pelukannya pada Jefri. Jadilah mereka bertiga berpelukan.


Jefri sekilas lihat Rudi tapi segera buang muka ke arah lain.


"Nanti kirim alamat, secepatnya kita main ke sana."


"Kita bahkan gak tau kapan bisa libur panjang," imbuh Mira agar tidak memberi harapan palsu ke ibunya.


Tidak mau sendirian Ratih lantas ikut memeluk mereka bertiga. "Sedih banget deh."


"Bunda jangan lebay, Bun." Jefri acuh seperti biasa.


"Bunda gak lebay. Emang beneran sedih tau," ucap Ratih.


Dalam hati Jefri menjawab, ya jelas sedih. Siapa yang bantu mengurus rumah jika Hana tak ada? Mereka bertiga sangat bandel. Cuci piring saja pasti ada yang pecah, entah gelas atau piring.


Mira melirik Jefri. Pria itu terlihat gagah dari luar tapi menyapu serumah saja lama sekali seperti menyapu istana.


Awan mengamati mereka berdua adu pandang lama. Mampus, umpatnya dalam hati baru sadar jika peraturan di rumah mereka yang termuda harus mau disuruh. Tidak, peraturan itu seharusnya tidak ada. Tapi semalam baru disepakati. Sial sekali hidupnya.


Rudi tak ingin mengganggu waktu dan momen mereka berempat. Hana segera menarik diri dan melambaikan tangan.


Jefri memegang bahu Awan. "Di belakang banyak cucian piring abis nyuguhin Pak Rudi. Cuci yang bersih, dilap sampe kinclong, jangan ada yang bau amis apalagi bau sabun." Dia lantas masuk rumah sambil mengantongi tangan ke saku celananya.


"Bajingan, dia pikir gue babu. Okay gue lakuin sekarang juga!" Awan menggulung lengan panjang kaosnya sesiku dan bergerak masuk rumah.


Hana tersenyum pada Ratih sebelum masuk mobil. Ia hendak masuk juga namun berhenti sesaat ketika Mira mengatakan sesuatu.


"Gak pamit sama saya, Pak?" Butuh keberanian dalam diri Mira mengajukan pertanyaan pada Rudi yang mau masuk mobil padahal belum pamit secara langsung.


Ratih terus berjalan seolah memberi mereka ruang bicara. Mira yang menghampiri Rudi terlebih dahulu. Wajahnya yang mirip Ridwan sedikit memudahkan Mira untuk menerima kehadirannya.


Rudi bingung harus pamit bagaimana lagi. Dia sudah bilang di dalam rumah. Bola matanya bergerak lirik kanan dan kiri mencari kalimat "pamit" yang dimaksud.


"Tangan."


Rudi mengulurkan tangan kanannya sukarela meski tidak tahu tujuannya.


"Dibuka."


Telapak tangan Rudi lantas terbuka lebar menuruti perkataan Mira.


Mira memberi gelang yang diberikan ayahnya saat SD. Setelah lulus SD tidak pernah dipakai lagi karena kekecilan. Sebagai rasa hormatnya Mira menyimpan dengan baik hingga kini.


"Ayah saya, Om Alfian, yang kasih ini dulu. Simpan, Pak."


Rudi mengenyitkan alis belum paham.


"Saya udah jaga ayah saya selama ini. Sekarang Pak Rudi jaga mama. Bukan berarti saya gak ikut, saya gak tau apa-apa."


Mira sangat sedih harus berpisah dengan ibunya yang sejak kecil menemani, sekarang memilih pria lain untuk hidup bersama. Lantas siapa yang harus Mira percaya untuk menjaga Ratih selain Rudi. Tak ada orang lain, hanya Rudi yang berada di sisinya.


Rudi menggenggam benda emas di tangannya seraya tersenyum tulus. Putrinya tinggi dan tumbuh sangat cantik, tanpanya.


"Kamu mudah memahami orang lain, persis seperti Alfian."

__ADS_1


Mira menahan air mata ketika nama ayah yang sudah membesarkannya disebut. "Mungkin karena lama tinggal bareng jadi sifatnya ada yang turun ke saya," kekehnya berusaha tegar.


Hana dapat melihat dan mendengar pembicaraan mereka sampai tanpa sadar menangis mengingat Alfian dan perjuangannya dalam menjaga mereka mati-matian.


"Jaga mama ..." Bibir Mira bergetar menyampaikan pesan terakhir sebelum mereka pergi. "Saya tau bapak lebih banyak di kantor polisi. Begitu pulang hibur mama. Mama gampang bosen di rumah sendirian, seenggaknya kasih cemilan yang banyak."


Rudi manggut-manggut tersenyum haru melihat putrinya begitu menggemaskan dan khawatir dalam waktu bersamaan.


"Kamu tumbuh dengan baik. Saya harus berterima kasih ke Alfian. Ya Tuhan."


Rudi tak kuasa menahan air mata dan tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Mira. Mira tak menolak sama sekali. Mereka sebenarnya ingin lebih dekat namun seolah ada dinding tinggi yang membatasi, yaitu peran Alfian.


Mira baru mengetahui ikatan batin orang tua berdampak besar. Mereka bertiga menangis bukan karena perpisahan ini, namun sebab perubahan diri sendiri.


"Bisa gak habis dinas di Semarang pindah lagi ke Jakarta? Mira gak bisa lama-lama pisah sama mama."


Hana lantas turun dari mobil dan kembali memeluknya. "Mama gak nelantarin kamu, Mira. Kita pasti kembali. Dua tahun ya, kan?"


"Saat kamu kelulusan," kata Rudi.


"Lama banget."


Mereka berdua tertawa Mira mengeluh.


**


Jefri berdiri di jendela menghadap pemandangan mereka. Ya, setidaknya Mira tidak melupakan Alfian meskipun ayahnya meninggal akibat kecelakaan maut. Peran Rudi tak berpengaruh besar. Mira jelas memilih mereka yang telah lama mendampinginya.


"Lo seneng, kan?" bisik Awan.


Jefri kaget lah. "Gak usah kayak setan!"


"Lo seneng kan si Rudi pergi dan Mira tetep tinggal sama kita?" Awan dengar Jefri jawab dehaman berat. "Tapi gimana, Rudi bawa tante Hana."


Jefri menoleh mencoba mengartikan makna tersirat dari ucapan Awan.


Dari Awan mode serius berubah ke mode gila begitu Mira masuk menatap mereka sedang apa di jendela seperti pemotretan model majalah.


"Ngapain lo berdua?"


"Lo pasti gabut, kan? Ayo nge-date!"


"Sama siapa?" Mira capek.


"Gue."


"Yang bener aja lo." Mira bisa ikut gila pedekate sama dia. "Gak ah."


"Gue traktir apa aja!"


"Terima. Kapan lagi lo makan tanpa nanya sisa duit di dompet," sahut Jefri sekalian menyindir.


"Status kita sama-sama mahasiswa tapi dompet gak sama ya," tekan Mira. Kelebihan Awan tiap ngomong makanan tidak pernah bohong. "Bener, kan?"


"Iya dong."


"Ngajak Jefri?" tanya Mira.


"Mending tidur ketimbang ikut kegiatan unfaedah," timpal Jefri berbalik pergi menuju kamar.


"Oke gue siap-siap." Mira ngacir masuk kamar.


Jefri membatin, "Tumben. Biasanya butuh gue."


"Bukan maksud ngeledek nih, bang. Tapi yang jago perkara juring bukan lo doang. Banyak. Ada Juan. Ada gue juga."

__ADS_1


"Sialan."


__ADS_2