
Baca buku sejarah indonesia ditemani kopi hitam panas adalah perpaduan yang sangat pas di malam hari.
Sudah lama pria bernama Irlan memilih hidup sendiri meski banyak orang mau menjodohkannya dengan perempuan baik. Sejak SMA sifat kepemimpinan dan pendiriannya amat kuat.
Telapak tangan kanannya memegang pemantik api lawas terukir inisial MSP.
***
Januari, 2021
Irlan memakirkan motor di depan rumah seseorang. Di teras sudah ada penghuninya duduk sila di bangku rotan sambil mengisap rokok.
Tidak langsung menyapa seperti orang pada umumnya, Irlan langsung menginjakkan kaki di lantai lalu merebut rokok dari mulutnya.
"Lo belum sembuh." Ia buang puntung rokok ke tanah, baru melepas jaket dan duduk di sebelahnya.
Berteman di lingkaran baru mengubah hidupnya sangat banyak. Irlan yang nolep jadi sering berpergian. Biasanya harus ada keperluan mendesak atau sangat penting jika ingin ia datang. Beberapa kali terakhir ia rela mendatangi teman-temannya, meninggalkan waktu belajar, demi sekadar melihat kabar secara langsung dan bersenang-senang.
Irlan menoleh tepat di sebelahnya adalah Mirza. "Ada apa nyuruh gue ke sini?"
Mirza tersenyum menatap kepolosan Irlan yang menarik. Bukan apa, dia sangat penurut hingga datang sungguhan setelah ia bilang perlu.
"Lo tau gue nyuruh lo ke sini bukan karena ada yang mau dibahas soal Mira, tapi kali ini gue berbaik hati."
"Dia nyindir halus?" batin Irlan.
"Lo suka Mira?"
Pertanyaan blak-blakan dari Mirza jelas buat Irlan bengong. Mirza tahu persaingan ketat antara Irlan dan Zafran. Mereka berdua bukan lelaki yang pandai menyembunyikan perasaan.
"Siapa pun boleh deketin Mira. Jangan mentang-mentang ada gue, kalian merasa terhalang."
Irlan tersenyum lalu berdecih. "Lo gimana? Masih ada perasaan sama Mira?"
"Ada. Jelas ada."
Irlan bergeming mendengar jawaban sebanyak dua kali. Tidak ada yang tidak tahu mereka berakhir seperti ini. Masih ada rasa sayang tapi tidak bisa bersatu.
__ADS_1
"Lo berdua bisa balikan kenapa milih nyakitin diri sendiri?"
"Ini pengorbanan gue. Pilihan gue." Mirza berat hati menjelaskan. "Ketimbang nanti gue yang nyesel ninggalin dua kali."
Mirza menyodorkan koreknya pada Irlan. "Gue lebih percaya lo. Jagain Mira pas gue gak ada."
Irlan pegang pemberiannya. "Kondisi lo makin buruk?"
"Gue sehat. Lo liat sendiri gue ngerokok barusan."
"Rokoknya gak nyala," ucap Irlan datar. Ia ingat dan lihat dengan mata kepalanya ujung rokok masih utuh belum dibakar.
"Gak selamanya berakhir bahagia dan gak selamanya rahasia tertutup indah."
Irlan sempat perhatikan sorot mata Mirza mengarah ke pemantik itu.
***
Irlan terus mengingat pertemuan intens hari itu dan percakapan mereka. Diulang-ulang tetap janggal.
"Ini pengorbanan gue. Pilihan gue. Gak selamanya berakhir bahagia dan gak selamanya rahasia tertutup indah."
Terdapat lipatan kertas yang apabila dibuka berisi tulisan : "Kasus bunuh diri di atap sekolah".
Saking fokusnya berpikir Irlan baru menyadari ponselnya bergetar di atas meja. Ia langsung angkat begitu tertera nama Mira.
"Halo."
^^^"Lan, bisa ke sekolah sekarang?"^^^
"Ngapain?"
^^^"Kita semua di sini. Lewat pohon mangga, nanti ketemu Surya."^^^
"Lo seriusan suruh gue pergi di waktu orang tidur? Besok kita ada materi."
^^^"Dateng gak?"^^^
__ADS_1
"Oke gue ke situ." Irlan tak bisa menolak. Sudah pukul sembilan malam, ia harusnya segera tidur supaya menjaga waktu istirahat yang produktif.
Irlan mengantongi kertas di saku celananya kemudian bergerak masuk mengambil kunci motor, jaket, dompet, dan helm.
***
Surya duduk senderan di tembok. Satu kakinya ditekuk, satu kaki lagi selonjoran. Irlan pasti masih lama sampai, lebih baik dia menghabiskan waktu untuk berpikir.
"Kenapa mereka dikasih cobaan malah dicobain? Kenapa harus nyari sesuatu yang membahayakan sedangkan anteng jalani hidup kayak sekarang udah aman?"
Baru tiba di seberang saluran air, Irlan dengar Surya menggumam. Tidak peduli mau bicara apa lagi, Irlan mengangkat celananya sebelum lompat dan menandai di mana kakinya harus berpijak pohon.
"Pesan di kertas kemaren bikin gue nyesek. Siapa yang naroh di bawah gelasnya Dewi?" Surya masih simpan catatan yang ditemukan di meja ruang tunggu yakni butik Dewi.
"Bacain, Sur!" Irlan sudah berada di atas pohon.
Surya terlonjak. "Anjir!" Ia berdiri dan bicara pelan tapi berusaha keras biar Irlan dengar. "Lo naek apaan cepet banget?"
"Kapal selam."
"Ada jalurnya?"
Irlan melompat turun dengan mulus. "Kertas apa yang lo temuin. Coba baca."
Baru merogoh saku jaket Surya buang muka sambil buang napas berat.
"Gue rasa gak masuk akal, tapi dipikir-pikir sekarang gue jadi mikir gimana kalau ternyata beneran."
Irlan membuka kertas yang dilipat Surya asal-asalan dan membaca isinya dalam hati.
"Apa maksudnya?"
Surya jadi merasa bersalah belum beritahu yang lain. "Samperin mereka."
Irlan mengangguk masih diliputi kebingungan
***
__ADS_1
Tulisan di kertas ialah : "Jiwa yang tertahan tidak bisa pergi".