
Zafran menyerobot masuk ke tengah antara Dewi dan Surya. "Jangan bilang siapa-siapa."
"Ape nih! Rahasia ape?" Surya menarik tangan Zafran.
"Rahasia gue!" Zafran langsung mingkem setelah membentak Surya.
Surya kicep. "Sa-santai dong."
Dewi melambaikan tangan ke arah Mira yang mencari mereka. "Tergantung sikap lo ke gue."
Zafran berbalik demi kesehatan jantungnya. Sebelum ini dia baik-baik saja. "Ah anjir rahasia besar gue malah ketauan Dewi. Eh, Sur!"
Surya bingung ditahan Zafran. "Apa lagi?"
"Dengerin."
"Apaan sih, anjing." Surya tertegun telapak tangan kanannya diarahkan ke dada kiri Zafran.
"Dengerin detak jantung gue."
Mimik Zafran yang serius membuat Surya mual. "Gue tau lo gila, tapi tetep gak nyangka segila ini." Tangannya yang masih dipegang dia gunakan menampar pelan pipi Zafran. "Biar lo sadar."
"Sakitt." Zafran menghampiri teman-temannya tapi tidak duduk di bangku yang sejajar bersama Mira, Dewi, dan Jefri.
Kepala Surya menengadah seraya mengeluh. "Mohon doanya buat Zafran teman-teman. Otaknya ... Mungkin abis kepentok."
"Maksudnya gila?" Awan menatap Zafran dari atas sampai dada.
"Fakta sih." Dewi setuju.
"Tempat duduk lo di situ. Kenapa pindah? Mereka kesempitan." Mira mempertanyakan alasannya Zafran.
Dewi mengangkat bahu pura-pura tak peduli.
"Terserah dia aja ... Lagi sakit otaknya." Surya berdiri menawarkan diri mencatat pesanan makan dan minum mereka.
"Gue ikut. Mau jajan lain," ujar Dewi.
"Dew, kaki lo masih pincang. Gue aja. Lo mau beli apa?"
__ADS_1
"Sakit dikit," dalihnya.
"Sstt! Gue yang beli. Tanpa penolakan!"
Dewi menyerah. "I-iya udah deh. Sur, temenin Mira ke warung Bu Tati beli susu kotak ditaruh plastik dikasih es batu."
Surya mendeham keras melihat tatapan beda Zafran ke Mira. Ah pasti salah! Tidak mungkin! Dia menolak mentah seandainya Zafran suka Mira. Spek tukang kesurupan masa iya bisa lolos dari pawang ceweknya.
Ada dua tuh.
"Ngeliatin apa lo?" sahut Awan merasa aneh.
Mereka sontak menoleh bersamaan.
"Ada setan di sini?" Mira menghalangi matanya pakai tangan.
"Ada kali." Dewi tidak lihat apa-apa.
"Liatin Mira?" lanjut Awan.
Mira mendongak. "Gue? Ngapain?"
Dewi terkikik dalam hati melihat langsung ekspresi kocak Zafran. Dia tertangkap basah tapi sok keren cari alasan.
Mereka menyebut pesanan lalu Surya ke warung pertama sesudah itu mengantar Mira.
Dari belakang Surya ada anak lelaki yang memanggil nama Mira dan bersiul iseng.
"Lo yang namanya Mira? Bisa liat setan ya?"
Dahi Mira berkerut tidak kenal mereka.
Surya tanya Mira. "Kenal gak?"
Mira tentu menggeleng. Baru lihat malah.
"Jangan peduliin mereka," bisiknya. Dalam sekejap raut muka julidnya berubah ramah. "Tau dari mana lo, bro?" Surya akan mengatasi buaya-buaya ini dengan caranya.
Temannya menimbrung. "Banyak yang bilang. Lo siapanya? Sepupunya yang jago liat setan juga? Siapa tuh namanya gue lupa!"
__ADS_1
"Jefri, cok!"
"Iya, lo Jefri?"
Mereka debat hingga akhirnya...
"Gue Jefri."
Surya mendelik kaget Jefri sudah hadir ketutupan badan mereka.
Mira membayar es susu punya Dewi. Dia ikut kaget Jefri di situ.
Dua anak yang sok akrab itu membelah seolah mau tahu sosok Jefri yang digadang-gadang memiliki kemampuan spiritual tinggi.
Jefri memberi isyarat Mira pergi dari sana mengabaikan mereka.
"Apa yang mau lo tau dari gue? Mumpung gue berdiri di depan kalian."
"Belagu amat lo!"
"Mana setannya? Boong kali!"
Surya menyentak mereka. "Matamu!"
"Gapapa," kata Jefri.
Surya memberi mereka peringatan. "Lo mau liat setan? Gue kemarin diliatin setan beneran, dancok! Itu pun sekali seumur hidup! Lo berdua jangan cari masalah sama dia atau punya trauma mendalam kayak gue."
"Rumornya asli?"
"Eh?" Surya teringat membocorkan kejadian asli. "Iya ya." Bodoh!
Saat itu Jefri tahu bahwa Surya memang bodoh.
"Pergi sana! Jangan temuin kita lagi kecuali mau masuk rumah sakit jiwa."
Mereka pergi sesuai intruksi Surya. Pria itu cengar-cengir ditatap tajam Jefri.
"Jangan marah, Jep."
__ADS_1