Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Kepala Gelinding


__ADS_3

Sepuluh menit habis. Tidak ada yang bangkit duluan karena masih kelelahan.


Awan menoyor kepala Zafran lantaran tatapan matanya kosong ke tanah.


Jantung pria itu rasanya melompat ke bawah lagi enak melamun. "Anjrit."


Awan mengancam serius. "Gak gue tolongin lo kesurupan di sini, bangsat."


"Mulai lagi." Irlan menyumbat telinga dengan jari telunjuk.


Pak Adit mondar-mandir cari sinyal telepon. Sementara Iptu Ridwan berdiri meletakkan kedua tangan di pinggang melihat kejauhan barangkali ada cahaya dari rumah penduduk atau tanda mereka akan sampai.


"Gelap banget."


Satu-satunya penerangan alami yang mereka punya ialah cahaya bulan purnama di tengah hutan.


Senter ponsel milik Iptu Ridwan dan Pak Adit berlaku sampai baterai habis. Mungkin setelah itu ponsel anak-anak. Lalu jika mereka terus berputar, apa masih bisa bertahan?


Surya memilih merapat pada kawan prianya ketimbang merepotkan Dewi.


"Ini ada hubungannya sama mistis ya?"


Sebagian besar dari mereka langsung melihat Surya atas pertanyaan yang sebetulnya tidak butuh jawaban.


Awan mengambil sejumput tanah dan melemparnya ke dada Surya. "Lo mau liat semuanya yang ada di sini?"


Surya menolak. "Makasih."


Irlan melirik Mira sekilas dan bertanya pada Awan, "Mira gapapa?"


"Sekarang lo khawatirin diri sendiri aja dulu," sarkasnya.


Surya agak menjauh. "Awan makin malem tambah ganas, njir."


"Kita lanjut jalan lagi," tutur Iptu Ridwan.

__ADS_1


Pak Adit bertanya ke mereka. "Kalian gapapa lanjut sekarang?"


"Daripada gak balik," cetus Awan berdiri pertama.


Irlan, Zafran, dan Surya ikut bangun di belakang Awan.


Menyadari tidak ada yang berdiri di sampingnya Awan memelototi mereka.


"Konsepnya gimana ini?"


Zafran bilang, "Sebagai ahli perjurigan, kita persilahkan lo jalan di depan. Kita makmum, Wan."


Surya cengar-cengir. "Kita di depan yang ada kabur. Ngalah dulu sekarang, demi kita semua."


Dewi memegang lengan Mira. "Lo gak perlu takut. Kita semua bisa pulang gimana pun caranya."


Jefri menyuruh Mira bangkit.


Awan mendelikkan matanya ke Dewi. "Tau apa lo tentang dia."


Masih dipimpin Iptu Ridwan, mereka melangkah ke depan.


Dewi menggandeng tangan Mira. Sesekali dia melongok Mira sedang memejamkan mata.


Jefri tidak banyak omong. Dia tahu porsi bicara. Dewi pikir dia sedang membaca situasi agar bisa keluar dari masalah ini.


Sejujurnya Dewi lebih takut ada hantu muncul di depan mereka tanpa persiapan daripada tidak pulang.


Pluk!


Dari pohon depan jatuh sesuatu yang membuat mereka berhenti serentak.


Detak jantung satu sama lain dapat didengar saking heningnya sekitar.


"Apaan itu, anjing?" Surya maju selangkah demi selangkah.

__ADS_1


Iptu Ridwan menyorot senter ke tanah.


Zafran memeluk Irlan dan teriak tepat di telinganya. "BANGSAT, KEPALA SIAPA ITU WOI?!"


Mereka kecuali Awan dan Awan menjerit sekencang-kencangnya.


Irlan histeris. "HUAAA! SINGKIRIN DARI MATA GUE, JEFRII!"


Surya malah mau lari. "TOLONGG!"


Awan menarik kerah kemeja Surya. "Mau ke mana lo, hah?"


Iptu Ridwan meneguk air liur. "Gak kabur?"


Jefri maju merebut senter Iptu Ridwan. "Pinjem, Pak."


Jefri menyorot lurus ke depan. Kepala-kepala berwajah menyeringai bergelinding ke arah mereka sangat banyak.


Satu masih bisa tahan rasa takut. Kalau banyak begini ...


"Lari." Jefri menarik Mira berlari putar arah dibuntuti Iptu Ridwan.


Awan mengumpat sambil lari. "WOI, JEP! TUNGGUIN GUE! AH ANJING!"


Zafran memukuli badan Surya. "WHOAA! PALANYA KE KITA, SUR! KABUR, SUR!"


Surya menampar wajah Zafran. "YA LARI BEGO!"


Irlan kabur duluan mengejar Jefri.


Surya menarik tangan Dewi yang termenung di tempat. "LO MAU DISAMPERIN, HAH! KABUR SEKARANG!"


Dewi mengangguk gugup. "I-iya ..." Mereka lari bersama.


"Pak Adit! Lari!" jerit Dewi.

__ADS_1


__ADS_2