Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Mengira Telah Usai


__ADS_3

"Ngapa lo berdua?" Zafran bertanya tiba di depan pintu kamar mandi.


Mau dibuka tidak bisa. Zafran telah duga mereka terkunci dari dalam karena kunci pintu ganda.


Dewi mendesak Zafran. "Bukain pintunya woi! Buruan!"


Dok! Dok! Dok!


Dari dalam Dewi dan Mira berlomba memukul pintu.


"Berisik banget, anjrit! Sabar!"


"Ada hantu?" tanya Jefri.


"Pasti itu. Denger mereka berisik kek speaker sekolah!"


"Jangan banyak omong lo, Zaf! Pintu apaan kuncinya susah gini!"


"Ya lo tinggal puter terus tarik gagangnya, Dewi!" Zafran kesal.


Jefri mengetuk pintu dua kali. "Kalian tenang dulu, buka kuncinya sekali lagi coba."


"Baca doa!"


"Di dalem kamar mandi mana boleh!" tukas Dewi.


"Iya juga."


"Gue coba, Dew." Mira mencoba melakukan sesuai perkataan Zafran.


Klek! Pintu terbuka.


"Bisa!"


Pandangan Dewi teralihkan ke belakang tepat leher sosok nenek memanjang keluar dari cermin.


"Whoaaa!" Dewi menyerobot keluar usai menjerit penuh kengerian.


Jefri bergeser lantaran ditabrak Dewi yang ngibrit ke luar.


Mira didorong oleh energi negatif tetapi beruntung tubuhnya ditangkap Zafran sehingga tidak bablas menabrak dinding.


Jefri sedikit tidak rela Mira terlalu dekat Zafran.

__ADS_1


Lantas yang Jefri lakukan selanjutnya adalah menutup pintunya lagi agar tidak keluar mengganggu mereka.


"Woi, Mir. Gapapa lo?"


Mira tahunya jatuh ke arah Jefri. "Eh?" Dia langsung berdiri mendapat tatapan tak enak dari sepupunya. "Makasih."


Jefri geleng-geleng kepala. "Ditawarin Zafran biar ditemenin tadi gak mau."


"Ada orang tuanya malu lah gue! Kalau lo kan udah biasa nungguin gue tiap ke toilet," balas Mira. "Dewi mana?"


"Kabur," celetuk Zafran.


"Coba lo berdua masuk," tutur Jefri.


Zafran kaget. "Ngapain?"


"Gila lo? Gue dimakan nenek tadi gimana?" cetus Mira.


"Energi kalian gak jauh beda. Siapa yang kena target duluan gue mau tau," kekeh Jefri.


"Kurang ajar." Bisa-bisanya dia mau mengorbankan keluarganya. "Lo aja masuk sana."


Disebut masuk perangkap, apa maksudnya. Memang mereka dua ekor tikus?


"Gapapa, Tan. Kekunci dari dalam makanya kita panik."


"Kirain kenapa.. " Gina bisa duduk tenang akhirnya setelah ditahan-tahan Irlan dan Surya.


Zafran, Jefri, dan Mira telah kembali bersama mereka usai sepakat merahasiakan sosok nenek di dalam toilet tadi demi kenyamanan Hardi dan Gina.


"Toilet memang kunci ganda. Maaf kalian jadi panik." Hardi lupa memberitahu sebelumnya.


Semua menyelesaikan makan sebelum pulang terlalu malam. Tidak baik juga, motor dititipkan di sekolah sehingga Pak Kim akan mengantar mereka dari jarak yang terdekat hingga putar lawan arah.


Surya ingin tahu apa yang mereka alami di toilet sampai tak berdaya begini.


"Lo berdua heboh kek kebakaran jenggot di rumah orang."


Pak Kim telah mengetahui kondisi Zafran semenjak pindah sekolah hingga dia yang sering kesurupan. Jadi mereka tidak begitu main rahasia-rahasiaan.


"Cerita dong. Cerita sama abang.. "


"Tutup mulut lo sebelum gue sambit," ketus Dewi.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, Sur. Kita kekunci dari dalam makanya panik," alibi Mira mengikuti Dewi.


Jefri spontan tertawa atas pengakuan peristiwa gempar yang menimpa mereka digadang "sekadar" terkunci pintu.


"Dewi jadi kena sinyal dari gue. Apa mending kita gak usah berduaan dulu, Dew?"


Dewi mengelak berani. "Santai aja. Seserem-seremnya setan gak lebih serem dari Surya."


"Lo anggep gue apa."


"Bukan karena kalian deket terus Dewi kena sinyal dari lo. Tapi emang hantunya mau ganggu lo berdua sekalian biar gak nanggung," ujar Jefri.


"Yang paling penting mereka gapapa. Orang tuanya Zafran juga gak curiga," kata Irlan.


Zafran sangat sadar peran sandiwara mereka amat berguna. "Bener sih, kalian nyelametin gue dari rumah sakit jiwa."


"Besok sekolah, belajar lagi." Dewi mengeluh penat.


"Abis makan kekenyangan berangkat sekolah besok ngeluh juga," timpal Surya.


Bukan pertama kali Mira terjebak situasi mirip seperti tadi, tapi masih saja panik dan takut sampai tidak bisa berpikir jernih mencari cara untuk keluar.


Dia selalu memanggil Jefri dan mengandalkannya.


Apa Jefri tidak lelah?


"Jef."


"Kenapa?"


"Capek gak?"


"Nggak."


Lain menurut Jefri. Dia mengira Mira bertanya kegiatan hari ini melelahkan tidak.


"Mira, gue gak bakal didatengin nenek itu lagi, kan?" Dewi cemas cermin rumahnya ada hantu juga.


"Gak kali."


"Jawaban lo meragukan ah."


Surya jawab, "Nenek? Ya elah, kalau dateng tinggal salim terus pamit."

__ADS_1


__ADS_2