
Inilah yang disebut liburan tanpa tujuan. Bedanya mereka sampai di tempat tapi tidak ada yang memacu adrenalin. Sampai dua hari ini cuma jalan-jalan sekitar vila.
Mau ke luar jalur takut kesasar. Berderet pohon besar pula di sisi jalan.
"Mending gue pulang deh," desah Surya merentangkan tangan dan kaki di atas kasur. "Irlan ... Ketua kelas paling gak peka sedunia. Balik gak ajak gue."
Ah benar, Irlan dijemput pagi tadi karena kondisinya tidak fit. Dia punya riwayat anemia dan pernah kena tipes. Orang tuanya khawatir ada apa-apa, makanya dijemput lebih awal.
Surya iri. Tidak ada yang jemput dia.
"Pulang sono!" celetuk Awan.
"Mira kurang ajar. Gue kira mau kasih tau apaan. Gak taunya ..." Surya mengepalkan kedua tangan tapi matanya menyorot tajam Jefri.
Jefri yang tidak salah apa-apa memandang balik Surya dong. "Apa?" sahutnya mau dengar.
Sore tadi Surya diajak Dewi ke luar mengobrol sebentar. Mira ikut juga. Di situ Mira menyambar cerita ada hantu yang mirip sama dia di vila perempuan.
**
"Mirip lo, Sur! Jantung gue masih ada tapi mau copot. Wah, gue kira itu lo anjir. Pas gue liat lagi bukan."
Wajah datar Surya membungkam Mira.
"Cuma share informasi," lanjut Mira.
"Gak perlu cerita ke gue. Gak minat." Sekarang Surya menyesal sudah mau keluar mendengar pengalaman menyeramkan orang lain, padahal dia penakut.
Dewi menepuk paha Surya. "Hati-hati lo kena teror juga. Mira semalam sama Pak Ridwan heboh liat hantu juga."
"Serba hantu ya," kekeh Surya ngenes.
"Gak usah keluar jauh-jauh dari kamar dulu deh," saran Mira.
"Semalam hantunya mirip siapa?" Surya bertanya untuk mengakhiri obrolan konyol ini. Demi apa pun Surya sok berani agar harga dirinya tidak jatuh.
"Pak Ridwan," jawab Dewi. "Mira, terus gimana ceritanya belum selesai tadi ya. Lanjutin!"
"Heh? Pak Ridwan?" Surya bergeming. "Wajar ada yang iri sama muka gue, tapi Pak Ridwan, muka sangar sok kegantengan kek gitu ditiru juga?"
"Seakan-akan lo lebih keren dari dia," cibir Dewi. "Lo sama polisi bentukan Pak Ridwan menang dia lah!" Dewi membela pria lain.
"Woi!" Surya teriak cemburu. "Banding-bandingin pacar sama orang tua tuh gak imbang."
Dewi menutup mulut Surya. "Lo di sana bareng Pak Ridwan terus ada Pak Ridwan lagi. Gimana sih?"
Mira menjelaskan. "Di sebelah Pak Ridwan itu ada jin yang menyerupai dia, Dew. Kayak ngaca tapi beda alam, bisa bayangin?"
Dewi paham. Surya mengusap lengan yang mendadak merinding.
"Ih, bego lo gak langsung kabur!" sulut Dewi geregetan.
__ADS_1
"Lo pikir bisa lari di kondisi begitu?" Yang ada tulang kakinya lemas.
"Fun fact ternyata pas Pak Ridwan nengok ke sebelahnya ... Dia liat hantu itu! Gue kira dia gak liat. Karena apa? Pak Ridwan kan gak percaya sama begituan."
"Goblok!" Surya berubah pikiran cerita Mira jadi menarik. "Makan tuh setan. Sekarang percaya pasti."
"Mungkin liat muka gue kek orang bloon dia jadi percaya, makanya bisa liat."
"Biasanya kabur, Pak Ridwan enggak?" Dewi bertanya.
Mira menggeleng. "Katanya gak sebanding. Dia justru ngerasa mukanya ganteng liat langsung."
Spontan Surya mengusap muka frustasi dengarnya. "Gila. Itu kan setan, bukan kembarannya. Merasa ganteng lagi." Huek! Surya mual.
Jangan harap mereka yang merasa ganteng bakal kabur liat mukanya dijiplak hantu.
"Jefri malah lebih parah. Dia punya cerita hampir mirip. Di Bogor pas lagi ngaca, pantulannya lurus padahal lagi ngehadap kiri. Lo tau yang dia lakuin apa? Malah pose kek model."
"Jefri mah wajar, Mir."
"Maksudnya apa nih?" Surya melirik sinis Dewi.
"Dia emang ganteng, wajar pede. Ditambah banyak pengalaman perhantuan, jadi biasa aja."
Mira malah berpikiran aneh. Jefri jarang mengaku penampilannya menarik perhatian kaum hawa. Cuma waktu itu saja dia gaya-gayaan depan kaca.
**
"Terus mau gimane lagi, Sur. Nikmatin aja hidup lo di tengah perhutanan sambil ngehirup bau tanah basah," kata Zafran.
Jefri tidak jauh berbeda. Dia lebih sering main ponsel menelepon anggota keluarga yang lain. Kadang ke vila sebelah sekadar menanyakan kabar Mira. Balik tidur lagi.
"Harimau yang gue liat pas pertama sampe sini gak keliatan lagi. Numpang lewat doang kali ya." Zafran membahas harimau itu.
Awan dan Jefri sempat adu mata sebentar.
"Harimau ape lagi si, Jap. Astagfirullah ... Gak puas liat setan lo liat macan juga, hah?" pungkas Surya mengatur pernapasan supaya lebih sabar.
Dikelilingi mereka bertiga saja sudah seperti di lingkaran alam sebelah. Tiap hari ada cerita horor, pengalaman horor, setannya juga bukan kaleng-kaleng.
Awan mengangkat dagunya, Jefri menggeleng pelan.
Kepala Surya terangkat. "Kode ape tuh barusan."
Zafran menjeda permainan dan melihat mereka berdua sibuk gadget.
"Kura-kura dalam perahu lo berdua ya sekarang ... Paham gue. Jap, pas lo ngomong harimau mereka berdua liat-liatan aneh gitu terus ngode."
"Ngode apa sih?"
"Mana gue tau."
__ADS_1
Suara derap lari dari luar terdengar telinga mereka.
Surya cepat berdiri melihat Dewi tiba dengan napas terengah-engah.
"Woi kenapa lari-lari lo?" Surya khawatir lantas menghampirinya.
Dewi membuka pintu lebih lebar. "Mira mana? Gue kira di sini sama lo, Jef."
Kala nama Mira disebut bukan cuma Jefri yang bereaksi, Awan dan Zafran langsung menggeleng cepat.
"Udah cari?" tanya Jefri tenang.
Awan berdiri gelisah mendekati Dewi. "Nanti balik kali. Siapa tau lagi jalan-jalan."
Dewi panik sendiri, dia membantah seraya menunjukkan sobekan kertas yang ditinggal Mira di atas tempat tidurnya.
"Baca nih." Matanya berair banyak.
Surya memegang kedua lengan Dewi. "Eh jangan nangis, goblok. Kenapa sih? Apa isi suratnya?"
Jefri dan Zafran lantas bergerak ikut baca.
'Dew, gue liat Ayah. Nanti gue pulang'.
"Bukannya bokap Mira udah- " Meninggal? Lanjutnya dalam hati. Zafran melihat raut Jefri dan Awan sulit dipahami.
"Beneran liat kali, gapapa dong ..." Surya kurang mengerti hal seperti itu.
"Gila lo?! Mana ada orang meninggal muncul lagi!" bentak Dewi. "Jef, lo bilang jin menyerupai. Mira salah, kan? Bukan bokapnya, kan?"
Jefri angkat bicara. "Hm, gak mungkin."
"Tuh kan! Mira ke mana coba. Gue harus cari dia!"
"Mau cari ke mana. Lo juga gak tau!" omel Surya.
Zafran menepuk badan Awan. "Lo berdua diem doang di sini, gue yang gerak cari."
"Lo mau ke arah mata angin yang mana? Mira pergi ke selatan lo ke utara yang ada tambah nyusahin," pungkasnya.
"Terus? Lo bisa itu- Apa tuh namanya, nerawang?" tanya Zafran.
Awan menempeleng Zafran. "Gue bukan paranormal, anjir."
Zafran kan cuma tanya. "Terus gimana? Maksud gue santai banget lo berdua."
"Dew," sebut Jefri.
"Apa? Bilang," jawab Dewi.
"Tutup mata lo."
__ADS_1