
Sebelum pergi mencari Jefri, Awan mengajak Gilang keluar. Dia mungkin masih syok.
"Lo mau tetep di sini?"
Gilang tahu maksud pertanyaannya. Sial dia mana mungkin menginap dalam bayang-bayang sosok nenek mengerikan di kelas terkutuk.
Di ambang pintu Awan meminta maaf atas perbuatan Jefri.
"Gue minta maaf atas nama Jefri." Dia menunduk tulus supaya nama baik Jefri tidak tercemar oleh rumor aneh.
Baru lima langkah Awan pergi, dia dipanggil Gilang.
"Oi!" Gilang malu menanyakan sesuatu. "Lo bisa pastiin gue aman selama turun? Gak bakal liat yang aneh-aneh, kan?"
"Aman." Jika mata batinnya masih terbuka walau sedikit, Gilang pasti bisa melihat Fani di sampingnya.
"Oke."
**
"Mira tidak terhubung dengan kamu saja. Saya mohon jangan membuat dia dalam bahaya."
"Gue gak merasa buat Mira dalam bahaya. Yang gue perlihatkan itu mereka."
"Di luar rencana kalian, bukan?"
"Lo ngaku pendamping gue. Lo harusnya tau alasan keputusan gue berubah."
Jefri dan Sanjaya terlibat adu mulut di atap sekolah.
Dari balik pintu Awan menguping pembicaraan mereka.
"Mereka sangat mirip. Aku akui," gumam Fani ikut bersembunyi di belakang Awan.
"Aku pikir Sanjaya palsu. Dia ternyata betul-betul satu jiwa dengan Jefri. Apa kalimat yang tepat? Ah, mereka sangat tenang namun berbahaya."
Sanjaya memiringkan kepala, dia menunjukkan senyum tidak suka atas perbuatan Jefri terhadap teman-temannya terlebih pada Mira.
"Mira mempercayaimu di atas segalanya."
"Jangan bawa Mira ke dalam masalah kita. Keberadaan lo sejak awal bukan kemauan siapa-siapa. Gue gak pernah panggil lo. Kenapa tiba-tiba ada dan buat keributan seolah mau dianggap pahlawan?"
"Saya dipanggil seseorang dari keluargamu."
Jefri menyunggingkan senyum. "Siapa?" Tidak satu pun dari keluarganya memanggil pendamping Jefri. Mereka bahkan terkejut mendengar ceritanya tentang Sanjaya. "Gue tau lo bukan makhluk jahat- "
"Jaga bicaramu."
*
__ADS_1
Awan membisiki Fani. "Pisahin gak? Mereka mulai memanas."
"Bagaimana caranya?"
"Lo hadang si Sanjaya. Gue bawa Jefri turun."
"Dia menakutkan!"
"Usaha dong!" paksa Awan. "Lo temen Mira, bukan?"
"Iya."
"Temen Mira jadi temen gue juga. Tunggu aba-aba dari gue, paham?"
"Paham."
*
"Saya membiasakan diri berada di sekitar kalian hanya untuk mengawasi satu manusia."
Dahi Jefri berkerut saat tahu Mira yang tengah dia awasi. Untuk apa? Ada keluarganya yang mampu mengatasi hal tersebut.
Sanjaya putuskan untuk mengaku. "Dugaanmu benar. Sebelum kamu, saya bertemu Juan."
"Juan?" Jefri tidak bisa berkata-kata.
"Dia mencari saya dan akan memanggil saya saat waktunya tepat. Tapi bukan kamu setelah Juan."
"Orang itu sekarat."
A-apa? Sekarat? Siapa maksudnya?
*
"Jadi, yang pertama ketemu Sanjaya itu Juan tapi orang lain yang manggil dia buat ngawasin Mira. Siapa yang manggil? Siapa yang sekarat? Bangsat, gue pusing." Awan memikirkan semua tersangka.
"Apa itu bangsat? Kalian sering mengucapkan itu."
"Ohh, bangsat itu kata yang gak baik buat bocil kayak lo. Jangan ditiru."
"Begitu ..."
*
"Bisa biarin gue ngobrol sama dia?" Tatap Jefri lurus ke arah Sanjaya. Tanpa menengok ke samping kanan atau kiri dia bisa merasa ada orang yang menguping.
Alis Sanjaya menyatu heran ketika menangkap aura Awan dalam radarnya.
"Kita ketahuan, Awan!" pekik Fani panik. "Aku izin pergi. Dadah!"
__ADS_1
Awan teriak tanpa suara. "Anjrit! Fan! Fani!" Kurang ajar menghilang tidak ajak sekalian.
Awan keluar dari tempat persembunyian dan berusaha masuk ke ranah obrolan mereka. "Mohon tenang. Gue di sini bersedia dengerin apa pun tanpa ikut campur."
"Omong kosong," sela Sanjaya. "Saya tidak ingin ada dia di sini atau saya yang pergi dan kita bicarakan nanti."
Jefri mendelik. "Lo gak liat kita lagi ngobrol?"
Awan menelan ludah. Ada kalanya dia segan kalau Jefri berhadapan dengan musuh. Dia tidak mau diganggu untuk mencapai informasi dan kesepakatan.
"Gue samperin Mira dulu," pamitnya memilih pergi.
"Siapa? Kasih tau gue," pinta Jefri.
"Saya ingin memberitahu semuanya, tapi tidak diizinkan. Kalian mengenali orang itu. Hanya sampai sini pembicaraan kita."
Sanjaya belum dibolehkan mengurai apa pun tentang Mirza.
Jefri mengusap wajah kecewa dengan perlakuan semua orang.
Di atas sana, hanya dia.
Diamnya Jefri memikirkan kesulitan banyak orang. Dia tahu perbuatannya hari ini gila demi membuktikan keberadaan entitas gaib.
"Jefri."
"Apa?"
Fani berada di belakang pria itu.
"Maaf menyita waktumu- "
"Kenapa?"
"Mira menunggu kamu."
"Sebentar lagi gue turun."
"Katanya jangan terlalu lama. Aku pergi ..." Fani tidak yakin meninggalkan Jefri sendirian di tempat yang berenergi campuran. "Jefri tidak mungkin dirasuki dan lompat seperti teman-temannya, kan? Tidak. Dia tidak lemah."
Jefri mendelikkan mata. Hantu itu anggap dia apa. "Gue gak berpikiran sempit."
"Dia dengar?" lirihnya langsung tertawa mengelak. "Aku tidak bicara apa pun. Percayalah."
"Yang lain udah pulang?"
"Hm. Selain teman dekat kita, semua sudah pergi." Fani melunak, awalnya saja. "Jefri, kamu sulit dimengerti."
Jefri menyeringai. "Hantu gak tau apa-apa," sinisnya.
__ADS_1
"Hei! Aku bukan hantu!"