
Mira merinding di tengkuk lehernya. Bacaan doa buyar seketika karena erangan Zafran diikuti cakaran kasar meja.
Tawa mengerikan itu terdengar puas berhasil masuk tubuh Zafran.
Mira menutup kedua telinganya sangat kuat karena bisikan-bisikan aneh.
Mimpi buruk semacam ini dialami Mira pertanda dia dikerjai makhluk halus agar takut dan kalah.
Dengan latar tempat kelas dan hanya mereka berdua di dalam sana. Zafran dalam keadaan dirasuki oleh sosok hitam bertaring panjang sementara Mira tidak bisa ke mana-mana.
"Astagfirullah."
Mira menangis begitu Zafran teriak kepanasan dan tersedu-sedu pilu.
Mira mengumpulkan keberanian untuk berdiri dari bangkunya. Energi negatif dari sosok dalam raga Zafran memengaruhi suhu menjadi panas.
"Kamu mau apa dari dia?"
Sosok hitam besar itu tertawa menunjukkan empat taringnya yang menetes darah seperti habis memakan sesuatu.
Bahaya kalau Zafran dibiarkan, dia tidak bisa balik ke tubuhnya nanti.
Mau ditolong juga tak punya nyali lebih. Melindungi diri sendiri pun Mira ragu meski di alam mimpi.
Dia memberitahu Mira tapi tidak begitu kedengaran. Mira memerhatikan gerak mulut Zafran.
"Jef ... Ri ... "
Kaki Mira lemas sampai meja di belakang punggungnya terdorong.
Zafran tertawa jahat dengan kepala tertunduk.
Bisa dikatakan misi sosok jin tersebut berhasil membuat Mira ketakutan.
Zafran mendongak dan menunjuk ke arah pintu kelas diiringi bunyi "krek" tiap pergerakan tubuhnya, mirip suara tulang patah.
Sunggingan senyum Zafran tak berarti lagi bagi Mira. Jika jiwanya diambil, ya sudah ambil saja daripada Jefri yang dibawa sosok itu.
Jefri mungkin bisa hidup tanpanya, namun Mira tak bisa hidup tanpa Jefri.
Deg!
"Jef!"
Di ambang pintu Mira menatap Jefri berdiri dengan tatapan kosong dan sendu dikelilingi aura hitam seperti Zafran saat ini.
"Dia ... akan mati menjadi budakku. Ha! Ha! Ha!"
"Jangan. Jangan dia."
Mira menangis tersedu-sedu melihat Jefri tidak bisa bergerak mendekatinya. Ada rantai yang membelenggu kaki dan tangan pria itu.
"Ini mimpi. Cuma mimpi. Bangun, Mira!"
Mira menampar wajahnya supaya bangun dari mimpi buruk yang sangat mencekam ini.
Atmosfer berubah normal, tidak sepanas tadi. Isakan Mira mereda berbeda dengan Zafran yang menangis histeris.
Dari telinga kanannya Mira mendengar bisikan lembut dari orang yang kini hilang di pintu.
"Pulang, Ra." Begitu suara Jefri berbisik.
__ADS_1
Tubuh Mira seolah-olah ditarik ke belakang dan saat matanya terbuka dia sudah ada di klinik sekolah dengan rasa sakit hampir sekujur badan.
Terlihat raut khawatir dari Jefri yang menggenggam tangannya di samping kiri, ada Zafran membelakanginya di samping kanan, Dewi dan Irlan pula di dekatnya.
Mira ingat-ingat kenapa dia bisa terbaring di sini. Bukankah dia tertidur usai pulang sekolah? Kok tiba-tiba sudah ada di sekolah lagi.
Apa ini mimpi di dalam mimpi?
Ribuan pertanyaan memasuki pikirannya yang masih didominasi takut, sedih, sekarang dia bingung.
"Mira gak bisa balik sendiri."
Perasaan lega cukup menenangkan Mira. Tadi benar mimpi, sekarang bukan.
Kelopak mata Mira rasanya berat dibuka makanya dia disangka belum sadar.
"Serius, Jef. Terus gimana dong?" Dewi sangat khawatir kalau Jefri sudah bicara.
Dari kelas sampai klinik Jefri diam terus. Sekalinya ngomong buat orang ketar-ketir.
"Gue maafin lo, Ra. Balik gih ... Jangan betah di sana ah."
Zafran perhatikan Irlan ini tidak bisa ditebak. Di kelas dia berani, ketika di sini bersama mereka menemani Mira berubah cemas.
"Ada jalan pulangnya gak sih?" Dewi tanya ke Zafran.
"Ada denahnya malah."
"Hih! Gue geprek lo!" Orang serius dia sempat bergurau.
"Lo kalau balik gimana? Susah?" tanya Irlan.
"Gue ambil air minum dulu." Jefri melepas tangannya pelan-pelan dan bangun mengambil air dispenser dekat loket apotek.
"Dia mah gitu, Lan. Ditanya beneran jawab ngasal. Gak bisa diarepin dari ini anak, tanya Jefri deh mendingan kalau mau dapet jawaban lurus."
"Gue kan gak sepengalaman mereka di bidang perhantuan. Mira sama Jefri mungkin bisa ngontrol di sana sedangkan gue anak bawang."
"Anak jahanam!" ralat Dewi kebawa perasaan.
Jefri memberi gelas berisi air putih ke Dewi.
"Kalian berdua bisa balik ke kelas. Mira baik-baik aja."
"Buat gue?" Dewi bengong dikasih air.
Zafran celetuk, "Buat ngerukyah lo, Dew."
"Tai."
Irlan mengangguk paham. "Ya udah. Gue percaya Mira udah gapapa karena lo yang ngomong sendiri. Ayo, Jap."
Zafran melengang pergi tapi jahil ngeledekin Dewi. "Jangan bengong."
"Nyenyenye."
Jefri bisa merasakan Mira sudah kembali. "Kasih minum Mira begitu sadar. Gue keluar beli roti dulu, Dew."
"Okay."
Mira langsung membuka mata dan tangannya spontan tergerak menahan lengan Jefri.
__ADS_1
"Mira udah bangun, Jef."
Dewi justru gagal fokus dengan interaksi mereka. Bukan sekadar cerita lagi ini namanya, tapi ucapan Mira tak bisa hidup tanpa Jefri memang betul-betul nyata.
Tangan Jefri satunya memegang tangan Mira. "Cuma sebentar." Dia memberi pengertian.
"Ada gue, Mir." Dewi merasakan sesuatu menimpa Mira di alam bawah sadarnya. "Jefri gak bakal lama kok. Ya, kan?"
Jefri mendeham pelan.
Ya sudah Mira lepaskan Jefri pergi. Perasaan takutnya terbawa ketika sudah kembali.
"Bisa duduk gak?"
"Bisa."
"Dari awal gue ketemu lo di kelas emang kerasa aneh. Lo anteng banget, gila. Ditanya diem, dibercandain Zafran diem, ngeliat kita sinis, mana ngomongnya nakutin."
Mira mendengarkan Dewi sampai habis.
"Pas jamkos gue samperin Jefri gara-gara lo bertingkah aneh."
"Aneh gimana?" Mira ingin tahu.
"Meja lo tusuk-tusuk pake pulpen. Gak ada yang berani ngedeketin lo, pada keluar semua ketakutan. Lo berubah serem gitu, Mir. Mata lo merah, urat-urat muka lo nih pada nonjol gitu ih."
Alasan Mira bingung ada di sekolah padahal merasa baru pulang karena kerasukan. Astaga.
"Si Japran juga hampir kesurupan, riweh banget di kelas tadi. Mana Pak Roni gak masuk, izin."
"Gue gak nyakitin kalian, kan?"
"Gerakan lo cepet banget, Mir. Pas gue sama Jefri balik ke kelas lo udah cekek mereka ke tembok. Jefri langsung ngibrit narik lo dari belakang sampe nubruk meja. Tetiba lo lari ke arah gue sambil ketawa-ketawa serem bawa gunting. Agak parah sih... Kita sepakat buat, ya udah, lagian lo gak sadar."
"Maafin gue, Dewi... "
"Gapapa yang penting sekarang lo udah baik-baik aja. Lain kali kalau lo ngerasa ada yang aneh langsung cerita sama kita. Terakhir lo kerasanya gimana sama diri lo?" Dewi mencoba masuk ke dalam jiwa Mira agar bisa mencegah hal buruk lain.
"Terakhir seinget gue pulang sekolah langsung tidur. Tadi gue jadi bingung kok malah bangun di klinik bukan di rumah."
Dewi tak tahu rasanya jadi mereka, tapi cukup mengerti. "Minum deh. Gue gak abis pikir yang ngerasukin Zafran mau dia mati, yang ngerasukin lo mau lo mati. Mereka bilang gitu cuma buat nakut-nakutin orang, gak beneran, kan?"
"Mereka gak bisa bunuh manusia, Dew. Dalam kasus terberat ada, tapi orang juga gak akan percaya."
"Ah serius ada?"
Jefri datang bawa kresek putih dan lihat ada yang aneh dari Mira.
"Jangan deket Mira dulu, Dew."
Dewi berdiri langsung. "Ada apa lagi?"
Mira bilang, "Bisa ditahan kok."
"Tahan apa sih?" Dewi ngerasa oon sekarang.
Jefri melempar plastik ke atas nakas lalu memeluk Mira.
Dewi mundur gara-gara bulu kuduknya merinding. "Masuk lagi, Jef? Gak lucu ah, serem tau."
Kurang lihat apa yang Jefri lakukan, yang jelas Dewi lihat Mira menangis ketakutan sampai seragam Jefri lecek diremas Mira.
__ADS_1
Dewi mendekati Mira penuh hati-hati. Ditepuk-tepuk bahu Mira supaya tidak sedih lagi.