Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Pertahanan Jefri dan Fani Dapat Informasi


__ADS_3

Jefri membuka mata. Deg! Dia ada di sekolah. Sendirian di depan gerbang yang biasa dia lewati pagi dan sore hari.


Malam-malam ditelan kesunyian berkali lipat. Tanpa berniat mencari sesuatu di balik kematian Hadi justru melemparnya ke tempat kejadian lewat mimpi.


Jefri mengucap basmalah sebelum menarik pintu gerbang. Jikalau terdapat sesuatu yang buruk dia dalam lindungan Allah.


Bukan seperti bangunan sekolah biasa. Banyak tanaman merambat dan pohon besar di sekeliling menambah kesan angker seperti desas-desus.


Dalam satu langkah kakinya tanah dipijakannya berubah becek. Sangat jauh perbedaan dengan tampilan masa sekarang.


Dapat dipastikan semua yang terlihat tidak benar. Jin sedang mempermainkannya entah bagaimana tempat ini di alam sana, dia tidak ingin mengetahui.


Energi tumbal Jefri rasakan lebih kuat berpusar di atas sekolah.


"Ck. Gak seharusnya gue masuk lebih dalam."


Egonya berlawanan dengan keinginan. Jefri terus berjalan hingga berhenti di titik menyaksikan bola api melambung ke atas Hadi kemarin petang.


Terkaan sementara sosok penyamaran di balik bola api telah menghasut Hadi.


Padahal Jefri mendongak jelas melihat sosok pria bertanduk melingkar dengan tubuh penuh kobaran api.


Mereka bahkan adu pandang sampai Jefri bisa lihat pantulan bola matanya yang berwarna hitam ada api menyala.


"Siapa kamu telah merusak rumahku!"


Jefri terperanjat ada suara serak berat di telinga kirinya.


Pria itu menelisik sekitar tidak ada siapa pun.


Jefri mendongak ke atas lagi dan menahan napas melihat siapa yang berdiri di atap.


Dia adalah Mira.


Matanya berubah putih semua, urat-urat hitam di wajahnya menonjol, tekstur kulitnya bagaikan kaca retak yang terlihat aliran darah serta tatapan lurus kosong.


"Ke- kenapa... "


Belum siap akan kejadian selanjutnya. Mira menjatuhkan diri di depan Jefri hingga bunyi tulang-tulang retaknya pun terdengar sangat jelas.


**


"Hahh! Hahh!"


Jefri terbangun menyibak selimutnya. Dia berlari ke luar atas perintah hatinya ke kamar Mira.


Mira tentu masih terlelap menyamping di tempat tidur.


Jefri terbawa suasana dan perasaan kalut dalam ketakutan. Dia sampai menarik Mira ke pelukannya.


Mira sayup-sayup membuka mata. "Jefri?" Lirih dia belum sadar penuh.


Awan dari dapur mengambil jus jambu dan biskuit tengah lewat kamar Mira yang terbuka.


"Astaga. Kebiasaan gak ditutup pintu.. " Pria yang terlihat tidak begitu memedulikan rambut acak-acakan membelalak heran Jefri ada di dalam. "Wuish! Jefri?"


Jefri termenung di sebelah Mira. Mira duduk matanya terpejam masih mengantuk.


Awan masuk tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia mengecek Mira sebetulnya bangun atau tidur. Rupanya dia tidak sadar, akhirnya dibiarkan berbaring.


"Ngapain? Dia ngelindur?" lirih Awan.


Awan minum jus yang dibawanya.


Jefri beranjak pergi diikuti Awan di belakangnya. "Gue lagi gak enak badan."


"Gak enak badan atau perasaan?" Awan tutup pintu kamarnya Mira.


"Gak tau."

__ADS_1


"Lo kudu jauhin Indri, Jef."


"Kita udah bicarain hal itu."


"Indri bukan orang yang harus lo tangani sendirian. Belakangan ini toh dia baik-baik aja gak ada masalah."


"Sebelum terjadi sesuatu seenggaknya gue coba, Wan."


"Ini semua gara-gara si Zafran."


"Jangan salahin orang lain," tukas Jefri.


"Efek lo deket mereka, gue jadi gak pernah tidur nyenyak. Kayak sekarang nih gue kebangun tengah malem."


"Lo bangun karena laper, Awan.. "


"Gue cari makan supaya bisa tidur lagi, Jefri."


"Kalau lo belum terbuka juga terpaksa gue beberin ke dia."


"Lo ngancem gue?"


"Supaya lo berhenti ikut campur masalah orang."


"Indri butuh bantuan... "


"Gue gak nerima alesan. Bhay!"


Jefri menghembuskan napas berat usai Awan pergi. Menceritakan seluruhnya hanya akan membuat Mira khawatir.


Semoga Awan mau tunggu sampai masalah mereka kelar.


*


Kembali bersekolah dimulai dari hati gembira. Jam kosong setiap hari pasti ada.


Entah gurunya malas atau doa murid dikabulkan.


Sekarang Fani menonton para atlet renang di gelanggang sedang latihan.


Fani sangat gigih dalam hal apa pun.


Di satu sisi Mirza tidak berniat buruk ke keluarga Fuadi, hanya saja, ayahnya yang merupakan dukun terkenal mengirim sihir menyebabkan pecah belah antar saudara kala itu.


Intinya, Fani tidak menyukai Mirza sampai silsilah anak keturunannya kelak.


"Hai."


Fani menoleh merasa disapa. "Kamu... "


"Iya, aku Indri. Masih ingat?"


Indri ikut duduk di samping Fani.


"Mau apa?"


"Kenapa kamu selalu ngikutin dia? Apa karena mantan kekasihnya Mira?"


"Dia bukan orang baik."


"Bukan?"


"Ayahnya pernah melakukan sesuatu yang buruk pada keluarga Mira. Aku benci dia."


"Sesuatu yang buruk, seperti apa?" tanya Indri.


"Mengapa kamu bertanya padaku?"


"Aku penasaran," kikuknya menjawab.

__ADS_1


"Aku tidak punya hak memberitahu kamu. Kamu dekat dengan Jefri, tanya dia saja."


Jikalau bisa Indri sudah lakukan itu.


"Kamu sendiri tidak berani bertanya," tebak Fani seolah mengerti. "Memang sikap dia buruk." Kepalanya naik turun lalu memandang Indri lagi setelah dapat ide. "Aku bisa cerita kalau kamu kasih tahu aku hubungan kalian. Kamu dengan Jefri, kalian dekat karena apa?"


"Gak baik ghibah di belakang apalagi depan orangnya langsung."


"Astaga!" Fani teriak kaget.


Sama halnya dengan Indri tak menyangka Mirza sudah ada di depan mereka memakai handuk menutupi punggung sampai bahu.


"Nih anak kecil dari dulu masih ada gak bosen keliaran antara hitam dan putih?" ketus Mirza sudah tahu Fani menguntitnya.


"Lo siapa? Ngapain di sini? Ngobrol sama hantu lagi," sambungnya sinis.


"Aku bukan hantu!" tandas Fani.


Indri berdiri memberi alasan. "Gu- gue cuma kebetulan ngobrol, gak ada apa-apa."


Mirza berkacak pinggang. "Emang ini sekolah tempat anak indihom semua atau dasarnya terkutuk dari dulu."


"Maksudnya?"


"Lo gak akan selamat."


"Hm?"


Fani membisu.


"Gue bilang lo gak akan selamat. Terima aja nasib lo nanti."


Indri dan Mirza saling tatap intens.


"Tapi gue bukan Tuhan juga berhak bilang gitu." Dia sadar melakukan kesalahan. "Kalau lo kuat bisa bertahan lama mereka pasti kalah. Gak perlu libatin orang lain. Dia bakal kena imbasnya."


"Apa? Siapa yang kamu bicarakan, Mirza Jahat!"


Mirza menoyor bocah di bawahnya. "Jangan ngikutin gue lagi."


Fani menganga sembari mengusap jidat. "Huh! Aku tidak percaya kamu- "


Mirza mengatakan dengan tegas. "Gue gak akan apa-apain Mira!"


Fani buang muka tak peduli dan percaya dengan omongan lelaki itu.


"Mira!" Penyelamat datang. "Aku pamit duluan!" Fani hilang.


Mira menghampiri mereka sedikit bingung. "Kalian udah kenalan." Dia datang mengantar makanan dan minuman Mirza. "Gue kasian lo jauh-jauh ke sini buat tanding tapi bukan berarti bisa nyuruh gue seenaknya ya."


"Lo sukarela nurutin permintaan gue." Mirza tersenyum membuka minuman isotonik. "Mira. Lo tau gak dia.. "


"Gue!" potong Indri mencegah Mirza bicara. "Balik duluan ke kelas."


"Ngapa dia?" Mira keheranan.


Mirza mencoba memahami maksud Indri memotong ucapan dia.


"Dia bisa liat Fani," ujar Mirza.


"Oh emang. Dia cewek barunya Jefri. Gatau kapan kenal tiba-tiba dikenalin. Nyebelin banget."


"Pacar Jefri?"


"Jefri belum lupain Yuni mana mungkin macarin cewek lain," sewot Mira.


"Lo lebih posesif dari gue."


"Gak tuh."

__ADS_1


"Status gak mengubah perasaan. Lo masih ada di hati gue, Mira."


__ADS_2