Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Singkat Cerita Ridwan dan Rudi


__ADS_3

Jefri mengetuk jari ke meja menyimak perkataan Om Pras.


"Lebih baik Mira gak tau, Om." Dia hampir menertawakan pembicaraan barusan. "Gak semua anak bisa terima orang baru. Dua puluh tahun Mira tau ayahnya Om Alfian. Tiba-tiba tau bukan Om Alfian ayah kandungnya, bayangin perasaan dia. Ditambah lagi banyak pikiran."


"Masalahnya, pesan Alfian sebelum meninggal kasih tau Mira siapa ayah kandungnya."


Awan tercengang kehabisan kata-kata. "Aduh, kalau gue denger langsung minggat."


"Siapa tadi namanya?" tanya Jefri lupa.


Pras memejamkan mata sejenak. "Rudianto."


"Bangsat. Pantesan pas awal liat Ridwan agak mirip Mira. Gila sih Ridwan punya kembaran, sesama polisi cuma beda pangkat, ternyata bokap kandung Mira. Mira ke mana belum balik, Jef?"


"Gue gak tau."


"Tumben banget."


"Bangsat, bangsat. Dua tahun kamu di Jakarta bahasanya makin amburadul!" omel Pras.


"Gaul, Pah."


"Gaul ngawur!"


Mulut Awan bungkam kena semprot bapak sendiri. "Maafin. Omong-omong, Mira keturunan mamanya bisa liat setan?"


Jefri melirik Pras. Pras menggaruk dagu. "Kurang tau ya. Papa belum pernah ketemu. Cuma tau namanya."


"Kekeluargaan kita dipertanyakan habis ini," celetuk Awan pergi dari perkumpulan obrolan konyol. "Gue mau cari Mira."


Jefri menyetop Awan karena Mira meneleponnya.


"Gue pulang besok. Hari ini mau nginep di Jakarta," ucap Mira.


"Gitu. Gue kebetulan mau ke Jakarta juga ngambil barang. Kita ketemu di rumah besok pagi."


"Oke."


"Sekarang lo di mana?"


"Rumah temen."


"Lo gak punya temen di sini."


"Lagi di jalan, Jef."


"Hati-hati. Jangan kemaleman di jalan, bahaya. Kabarin gue terus."


"Iya."


Sesudah bicara dengan Mira, Jefri baru bilang ke Awan. "Gue lupa dia sama siapa."


"Ngomongnya gimana?"


"Kayaknya dia lagi naik mobil."


"Taksi kali."

__ADS_1


"Gak mahal dari Bogor ke Jakarta naek taksi? Mira lebih sering pake kereta. Murah dan cepat."


"Dia yang punya duit, lo repot amat."


"Kalian berdua masuk kamar masing-masing. Papa mau tidur, jangan ada yang berisik. Kurangi main game! Yang satu cuti kuliah, yang satu sekolah daring. Haduhh."


Pras bangun menuju kamar. Awan berkata, "Bukan kita yang mau libur. Ya, kan?"


"Lo gak mau pindah sekolah di sini? Lebih deket sama Om Pras."


"Di sana gue bisa deket Putri," balas Awan. Dekat orang tua memang idaman. Dekat orang yang disukai sangat menantang.


"Inget lagi daring."


"Gak tau kapan masuk sekolah, gue mau menikmati waktu di rumah sambil berdoa masalah kita cepet selesai."


Mana mungkin, batin Jefri. Masalah hidup sudah seperti teman yang mengiringi kita setiap hari. Tidak ada yang tahu kapan masalah kita berakhir.


***


Tangan kanan Ridwan menyangga kepala sedangkan tangan kiri mengemudi mobil. Kaca mobil sebelah kiri yang dibuka setengah menyebabkan angin masuk dan perut kembung.


Mira mengesampingkan badannya merasakan terpaan angin dan pemandangan petang yang sedikit mencekam.


Ridwan ingat percakapan dengan kakaknya di Polres.


**


"Kasus di SMA itu ... segera tutup dengan dugaan bunuh diri."


Saat itu Ridwan bahkan hanya mematuhi Rudi tanpa memercayai kesaksian Jefri dan Mira kalau teman-teman mereka dirasuki sebelum terjun dari atap.


"Maaf sebelumnya, Pak. Kami belum mengkonfirmasi pernyataan saksi, kenapa kasus ini harus segera ditutup?"


Rudi duduk membungkuk bertumpu pada pahanya. "Apa cuma kasus itu yang kamu atasi? Ada banyak Iptu Ridwan. Dalam satu tahun bukan menjadi kasus misterius siswa bunuh diri."


Ridwan dibuat tertawa. "Saya menjadi polisi bukan untuk memecahkan misteri, Pak. Tapi untuk mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan."


"Lalu kamu mau menulis laporan saksi bahwa korban diduga kerasukan dan dikendalikan makhluk astral sebelum bunuh diri? Kamu yakin atasanmu di sana percaya? Gak ada hal spesial di kasus ini. Ada tumpukan berkas kasus yang kamu tangani, akhiri lebih cepat maka lebih baik. Saya bicara sebagai seorang kakak."


"Kalau begitu apa yang abang alami puluhan tahun lalu? Ridwan liat semuanya. Abang dipasung sama bapak di rumah karena sering kesurupan dan beberapa kali hampir bunuh diri."


"Itu- ."


"Setelah dewasa dan jadi polisi, abang bahkan gak mau dengar pernyataan mereka."


"Kita di zaman yang berbeda, Ridwan. Kesimpulannya ..."


Belum menyelesaikan ucapan, Ridwan memotong dengan membawa nama Mira.


"Beruntung Mira gak menuruni sifat ayahnya yang keras kepala dan perfeksionis."


Rudi memberi tatapan tajam mengkilat nama anaknya disebut dalam perdebatan ini. "Walaupun kasus ini ada nama Mira di dalam jangan beralasan untuk terus penyelidikan. Gak ada gunanya, Ridwan. Cuma kita berdua yang tau kebenarannya. Dalam laporan kasus, polisi butuh bukti fisik, bukan cuma keterangan. Mereka juga gak protes dengan hasil akhir kasus pertama."


"Ini gak sejalan dengan hati kita, bang."


"Atau kamu bawa perasaan di sini?" sindir Rudi.

__ADS_1


"Sampai kapan kita harus sembunyi? Dia harus tau abang ayah kandungnya."


"Ada waktunya. Nanti."


Ridwan berlalu dari ruangan Rudi karena bisa mengamuk jika terus berdebat. Watak mereka sangat bertabrakan. Keras kepala dan tak mau kalah.


Rudi sangat tertekan dengan kasus yang ditangani adiknya. Atasan memberi perintah melakukan penyidikan dengan benar. Orang tua murid dan kalangan sekitar terganggu dengan penyelidikan di sekolah. Selesai tidak selesai harus diputuskan.


Putusan tersebut ialah mereka diduga bunuh diri sebab depresi. Fakta kedua murid yang meninggal sama-sama pernah konsultasi ke psikiater dan terdapat berkas pendukung dari ahli yang menangani. Hal ini semakin memudahkan Ridwan ketimbang menyusuri pernyataan nyeleneh dari Jefri.


Di kasus pertama Jefri mengatakan Johan bunuh diri. Di kasus kedua pun sama. Mengapa Mira justru nyeleneh menyambungkan ke hal mistis?


Meskipun adiknya gigih dalam mengerjakan suatu kasus, kelemahan pria itu adalah mudah goyah karena emosional.


Berulang kali Ridwan hampir dipindahkan ke tim lain karena membahayakan diri sendiri selagi penyelidikan. Penangkapan tersangka pembunuhan dua bulan lalu bahkan hampir membunuhnya andai rekan tim tidak menembak kaki pelaku. Berbagai sikap buruk yang ditunjukkan Ridwan, Rudi sering menerima keluhan dari atasan.


Ridwan tetaplah adiknya. Rudi selalu membela dan meminta maaf pada mereka dengan alibi Ridwan hanya ingin menyelesaikan sesuatu dengan proses yang jelas. Masalahnya adalah, petinggi mendesak dan memberi waktu tiap tim. Jika terlalu lama penyelidikan, mereka mempertanyakan kinerja tim.


Bekerja di kepolisian tidak seindah yang dibayangkan. Mengemban tanggung jawab berat dari penanganan kasus seringkali bertaruh nyawa.


Alih-alih menghadapi sesama manusia yang secara kasat mata terlihat dan bisa ditangani. Bagaimana jika Ridwan berhadapan entitas gaib. Bukankah lebih berbahaya? Ridwan hanya peka, tidak bisa melawan. Lalu siapa yang akan membantunya menyelidiki entitas tersebut? Jelas tidak ada, dia akan sendirian karena rekan timnya pasti menyangka Ridwan gila dan percaya takhayul.


**


Ridwan memberhentikan mobil. Mereka tiba di Jakarta sekitar pukul delapan malam. Mira membuka pintu mobil dan turun menunggu Iptu Ridwan.


Ada mobil lain yang terparkir di sebelah mobil Ridwan.


"Kamu tunggu di sini sebentar."


"Ini rumah kakek saya."


Mira menuju teras dan melihat sandal karet hitam di rak. Pintu terbuka setengah, dari sela-sela Mira lihat ibunya, Ratih, dan pria yang membelakangi pintu tengah mengobrol serius di ruang tamu.


Siapa yang malam-malam datang ke rumah?. "Saya tau apa yang terjadi. Tunggu aja di sini, biar saya yang masuk."


"Apa yang kamu tau?"


Mira menyodorkan buku diari milik Mirza. "Ayah kandung saya, bapak, kan?"


Ridwan menerima tanpa membukanya. Dia terlalu kaget sampai kehilangan kata-kata. Ayah kandung Mira adalah dirinya? Omong kosong konyol apa yang didengar barusan.


Kedatangan Mira tanpa memberitahu sebelumnya mengejutkan Ratih dan Hana.


"Mira?" gumam Hana.


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Ratih.


Mira terus berjalan untuk melihat pria berseragam yang duduk menjadi pusat mereka.


Sebelum Mira mematung, Ridwan menyerobot masuk terengah-engah untuk mengatakan, "Saya bukan ayah kamu."


Masih bingung dan tak percaya. Mira bilang, "Pak Ridwan, dia mirip sama bapak."


Bukannya menjawab langsung, Hana dan Ratih menundukkan kepala. Di detik itu juga Rudi merangkai kalimat di kepalanya untuk memberi penjelasan.


Setelah menarik napas panjang, Rudi memperkenalkan diri. "Saya Rudianto, Kapolres Jakarta Barat."

__ADS_1


Fokus Mira teralihkan ke hantu Fani yang muncul duduk di kursi dekat Rudi.


"Hei, Mira. Kamu punya ayah baru."


__ADS_2