Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Mirza Menolak Balikan


__ADS_3

Jefri membalik halaman novel horor yang viral di salah satu aplikasi.


Dia terganggu cahaya lampu yang sesekali terhalang sebab Mira mondar-mandir di depannya. "Lo mau ketemuan sama Mirza tunggu aja di depan ... Jangan ngehalangi lampu, mata gue sakit."


"Ada yang aneh."


Mira belum berhenti memikirkan ucapan kakek sore tadi.


"Bukan aneh sih. Gue tau itu bener ... tapi apa penyebabnya? Kenapa gak kasih tau sekalian?"


Awan melewati mereka sambil minum air dari botol.


"Kapan gue dikelilingi manusia berakal sehat," desisnya merasa gila.


Jefri menutup novelnya cukup keras sampai mereka berdua menoleh.


"Gue denger Zafran kesurupan lagi. Siapa yang masukin badannya? Jin gila sampai lo ngomong ngalor ngidul?"


"Jin bisa gila?" Mira polos.


Bhukk!


Air minum dalam mulut Awan tersembur.


"Itu cuma sebutan. Biasanya berdusta, omong kosong. Gak perlu dipikirin, bisa lo yang ikutan gila. Gue mau keluar ada kang gorengan, titip gak?"


"Gue gak peduli. Gue ada janji."


Mira menyambar tas selempangnya yang terhimpit badan Jefri di sofa lalu melangkah ke luar.


Mira Menunggu Mirza di teras sambil nonton berita atau drama yang menarik.


Awan memakai sandal selop berwarna hitam ke luar menghampiri penjual gorengan yang berhenti di jalan depan rumah.


Gadis itu tidak sangka Jefri membuntutinya.


"Ngapain? Kenapa?"


"Gue mau malakin gorengannya."


Mira mendecih. "Bisa-bisanya lo mau makan gratis doang. Kan lo yang banyak duit dari kita bertiga."


"Dari mana lo tau?"


"Bunda yang ngasih tau."


Jefri memasukkan tangannya ke saku jaket. "Justru gue perhatiin lo rada aneh."


"Maksudnya?"


Awan kembali melihat mereka adu pandang dan berdeham memecah keheningan.


Tangan pria itu memberi masing-masing satu bungkus berisi lima gorengan beragam ke Mira dan Jefri.


"Dia balik kayak dulu gak sih?" Jefri menatap Awan meminta jawaban.


Apa cuma perasaan dia Mira ada perubahan. Tidak, deh. Kelihatannya Awan cukup sadar.


"Emang beda sama yang sekarang?"


Mira mengangguk dan langsung menunjuk muka Jefri. "Lo yang dari dulu aneh."


Awan pindah ke sisi Jefri membisiki pria itu cukup keras. "Kalau dia balik gak bakalan mau keluar sama Mirza."


"Iya juga."


Sial, rasanya Mira mau tertawa kencang mendengar orang membicarakannya tepat di depan mata.


Suara motor Mirza tiba di halaman bahkan tidak digubris Mira. Dia masih sinis ke dua sepupunya.


"Apa lo?" tantang Mira sebelum berbalik menggandeng Mirza yang baru mau menyapa mereka.


"Gue mau- Eh?"


Kenapa dia menariknya?


"Mereka lagi mode gak waras. Skip sapa, kita langsung berangkat."


Mira sudah sangat siap melaju pergi sampai pasang pengait helm sendiri.


"Berangkat ke mana, kan belum diobrolin."


"Jalan dulu aja!" Mira sangat kesal.


Awan melambaikan tangan ke mereka meski dibalas jari tengah oleh Mira.


"Sialan, punya sepupu cewek sukanya nge-****."


"Masuk," titah Jefri. "Ada yang mau gue bahas."


"Tentang siapa lagi?" Awan mendengus sebal. "Lo selalu ngomong gak sampe selesai dan main pergi."


"Buruan!" teriak Jefri dari dalam.


**


Di atas motor Mirza tidak berani buka obrolan. Dari spion terbaca jelas ekspresi kesal Mira yang bisa meledak selagi mereka bersama.


Dulu saat SMP, Mirza tidak pernah membujuk, meminta maaf, apalagi menyesal dengan perbuatannya yang tanpa sadar menyinggung hati Mira.

__ADS_1


Mirza sangat pencemburu. Dia tidak setuju Mira berteman dengan pria lain. Dia selalu salah paham dan menjadikan berkelahi sebagai alasan rasa sayang.


Kisah mereka terputus ketika perselisihan antar dua keluarga dimulai.


Ayah Mirza yang merupakan dukun sakti mandraguna menyihir kakek mereka.


Semua anak kakek menentang siapa pun berhubungan dengan Mirza dan ayahnya.


Mira tidak bisa memaksakan diri. Dia minta putus bukan alasan itu saja.


Betapa lelah dan muak harus menerima segala perangai buruk Mirza meski paling dasar hatinya ingin tetap bertahan.


Hubungan mereka telah berakhir.


Benar.


Kini adakah alasan Mirza harus mengikuti kemauan Mira?


Maksudnya, pria itu sudah tak ingin menyakiti Mira dua kali.


"Gue perhatiin mata lo berkaca-kaca sepanjang jalan."


Mirza menyangkal cuma kelilipan debu.


Di sinilah mereka berhenti, taman kota.


Mira menyentuh kelopak bunga sepatu yang menghiasi tepi taman selagi berjalan menuju pancuran.


"Pas lewat pertama kali cuma pohon doang. Sekarang ada bunga." Gadis itu tersenyum menikmati pemandangan indah nan sejuk terpampang depan mata.


Banyak lampu warna-warni di setiap pohon. Ada penjual di luar taman, mau beli apa saja mudah. Tidak begitu banyak orang dan kebanyakan berpasangan.


Mendapati Mirza berhenti dan menghadapnya, Mira keheranan.


"Lo udah inget semua kenapa dirahasiain?"


"Gimana lo ..." Dia tidak menyadari Mirza sepeka ini.


"Pertama kali lo dateng ke sini sama gue. Kita udah putus hari itu."


Astaga, Mira tidak sadar mulutnya keceplosan.


"Beruntung lo inget semua. Gue gak bisa akting jadi pacar lo seterusnya. Kita putus."


"Gue gak mau putus."


"Apa ingatan lo udah balik semua sampai overload gini."


Tak ingin putus, lelucon apakah itu.


Mira meraih tangan Mirza. "Gue mau kita pacaran aja."


"Kita putus karena ada masalah keluarga. Sekarang gak ada. Lo udah berubah drastis. Lo gak pemarah lagi, gak cemburuan."


"Mira ..."


"Gue tau Indri udah meninggal. Dari kemarin gue berusaha lupain kenangan itu. Sekarang- "


Ternyata dia sudah ingat cukup lama. Mirza telat menyadari.


Mira melanjutkan kata-katanya. "Gue mau balikan."


"Jangan gini, Mir. Tarik semua ucapan lo barusan. Gak ada potensi balikan antara kita."


"Kenapa gak ada?" Mira kehilangan arah sampai air matanya keluar tanpa diperintah.


Mirza menghela napas lihat gadis itu menangis tanpa kedip menatapnya lekat.


"Lo masih sayang gue, kan?" tanya Mira.


Pria itu kehilangan jawaban meski tahu satu kata yang harus terucap.


Seharusnya Mira tidak boleh begini.


Mirza kira dia telah melupakan semuanya dan menjalani hidup biasa saja.


Ajakan untuk menjalin kisah kembali sangat ... Sulit diterima.


Tak kunjung menjawab pertanyaan mudah darinya, Mira melepas tangan Mirza mendapat jawaban dari sorot matanya.


Benarkah dia sudah mengeluarkan Mira dari hatinya? Dari sudut pandang mana saja Mirza tampak tidak melupakan nama Mira sedetik saja. Bagaimana hal itu mungkin terjadi.


"Gue berubah buat diri sendiri. Bukan karena siapa pun."


"Kita sama sekali gak bisa balikan?"


"Hm."


"Besok? Minggu depan gue tanya lagi siapa tau berubah pikiran," rayunya mencari cara.


"Jawaban gue bakal tetap sama."


"Iya. Gue bisa paham jawaban terakhir lo itu kejujuran."


Mira menundukkan kepala melihat kakinya sendiri sambil berpikir mau pada siapa dia mencintai orang selain Mirza.


Mengapa pula dia berubah dan mengambil hatinya lagi.


"Lega bisa ngutarain semua ke lo hari ini. Tunggu di sini, Jefri bakal jemput."

__ADS_1


"Lo nelantarin gue?" Berengsek sekali dia. Berani meninggalkannya setelah menghancurkan hati berkeping-keping.


Mira sesenggukan. Setelah ini dia akan menjadi gadis menyedihkan. Cinta ditolak, ditinggalkan di taman, dan meratap nasib.


"Gue gak mau lo nangis sepanjang jalan."


Mira memilih duduk di pinggir pancuran membelakangi Mirza.


Mirza sungguh pergi meninggalkannya.


Beberapa menit setelah meredakan tangis Mira berbicara sendiri menyalahkan Mirza.


"Kenapa gak tolak gue aja pas gue sadar di rumah sakit? Ngapain berubah jadi baik, perhatian, sering main ke Jakarta ngajak gue jalan? Gimana gak berharap coba."


Malang sekali kisah asmaranya harus berakhir pahit.


"Mirza berengsek. Lo nolak gue sekarang. Awas kalau lo yang minta balikan sebulan, dua bulan, atau setahun lagi bakal gue tolak!"


Ponsel Mira berdering dapat telepon dari Jefri.


Sepupunya yang paling peduli sudah tiba di taman.


"Lo di mana?" tanya Jefri sambil jalan mencari batang hidung Mira.


"Deket air mancur," ujar Mira.


"Air mancur di mananya gue gak ngerti. Lurus, belok kanan atau kiri nih ada perempatan."


"Belok kiri lurus terus."


"Yakin? Banyak turunan tangga," kata Jefri.


"Jalan aja!"


"Iya."


Mira lihat Jefri pakai jaket coklat tua dan sandal jepit.


"Gue di sini nih!" Mira mengusap hidungnya yang berair pasca nangis.


"Mana?"


"Di sini."


"Lambaikan tangan coba biar keliatan. Banyak orang."


Mira melambaikan dua tangannya sekaligus sampai naik bangku biar kelihatan.


Jefri lihat beberapa mata aneh mengarah ke Mira. "Turun dari bangku. Gue liat lo."


Mira turun dari bangku kemudian Jefri melihat bajunya agak basah kena cipratan pancuran air.


"Baju lo basah itu yang belakang, ck."


"Untung lo bawa jaket cadangan." Mira rampas jaket yang ditenteng Jefri."


"Kenapa gak pulang sama Mirza? Malah Mirza telepon gue minta dateng ke sini jemput lo. Katanya takut lo marah sama dia, kalian berantem?"


Jefri harus segera mengeluarkan Mira dari taman. Semakin malam banyak sosok berniat jahat mengacaukan pikiran.


Tampak sekali Mira tengah bersedih. Apa yang terjadi pada mereka berdua Jefri belum tahu.


Sampai menemukan motor, Jefri bilang, "Mirza nungguin di sini tadi. Mukanya pucet pasi kek orang tipes. Lo berdua ribut kenapa?"


Mira tentu bertanya alasan Mirza di tempat parkir depan taman.


"Nunggu di sini? Di samping motor lo?"


"Mirza takut lo nekat pulang sendiri. Pintu masuk cuma satu, makanya dia nungguin di sini sampai gue dateng. Sifat kekanakan lo dari dulu gak pernah ilang ..."


Lagipula mereka meributkan masalah apa sampai tidak mau pulang bersama? Mereka bukan pasangan sungguhan dan jarang tukar pikiran. Heran, batin Jefri.


Amarah Mira sedikit padam mengetahui Mirza masih peduli padanya.


Fakta bahwa dia menunggu hingga Jefri datang ialah tak ingin terjadi sesuatu dan memproteksinya agar tidak diganggu hantu di sini.


"Bersyukur punya pacar yang pengertian."


Mira ingat penolakan itu lagi.


"Kita putus."


"Apa?" Jefri menahan tawa. "Kenapa?"


"Kok lo mau ketawa gitu sih!"


"Putus kenapa? Lo berdua gak terlibat kekerasan, perselingkuhan, dan lain-lain."


"Gue lebih beruntung punya saudara gak tau diri kayak lo."


"Sembarangan!"


"Gak usah banyak tanya makanya!"


Begitu Mira naik ke motor Jefri lantas bertanya terakhir kali. "Udah putus ngapain nunggu lo di sini, rajin amat."


"Mana gue tau!"


"Gue akui. Mirza banyak berubah sedangkan lo nggak."

__ADS_1


"****** lo, Jef."


__ADS_2