
Dentingan sendok makan menguasai aktivitas sebuah keluarga.
"Bunda udah kasih tau ayah kamu nanti ada piknik. Nunggu kiriman ya," ujar Ratih kepada Awan.
Awan fokus memakan daging dan cuma berdeham saja.
Mira melihatnya dari samping. "Lah, kata lo gak ikut. Gimana sih?"
Leher Awan menoleh perlahan melirik mereka satu per satu. "Masih belum tau ikut apa nggak."
"Jefri ikut?" tanya Hana.
"Terserah Mira."
Mira menghendikkan bahu ketika Hana dan Ratih memandang ke arahnya. Mengapa pula terserah dia? Harusnya dia yang bergantung pada mereka.
Kebiasaan buruk Mira banyak. Hanya keluarganya yang tahu. Salah satunya masalah buang gas, dia juara dengan suara paling keras.
Makanya kok bisa Mirza naksir Mira. Kadang mereka heran sendiri.
"Wan, pinjem novel horor."
"Lo keliling kebon biar langsung rasain sensasi," komen Awan lewat langsung padahal diajak bicara.
"Stop."
"Apa lagi?" Dia berhenti sedikit menoleh malas.
"Lo ..." Mira mendatanginya dengan gaya sok nantangin. "Ikut aja. Ntar gue yang nego sama Pak Adit biar lo ke Cipanas."
Awan tampak tidak minat membahas piknik sialan itu. "Emang bisa? Lo gak ada bakat nego-nego. Ke pasar juga gampang ditipu."
Mulutnya jahanam ternyata. "Heh. Gini-gini gue berpeluang jadi simpenannya Pak Adit!"
Mira jelas ditertawakan oleh Awan. Dia menunjuk-nunjuk Mira sambil memperingatinya. "Terserah. Intinya lo ... Jangan ikut."
Mira langsung segan. "Kenapa? Dewi ikut. Irlan ikut. Zafran juga."
"Lo baru nyampe sana nanti minta pulang. Akhirnya apa? Jefri yang jemput lo ke Cilacap, ke Banten."
__ADS_1
Sekitar kelas 3 SMP dan 1 SMA ada study tour yang mewajibkan seluruh siswa ikut. Tidak satu pun dari mereka bakal mengetahui masalah dalam bus maupun tempatnya.
Jefri yang memilih rebahan di rumah disuruh Mira jemput ke sana karena kesurupan massal.
Sejujurnyan Awan kasihan lihat Mira memelas minta ikut piknik. Dia juga tidak dilarang Hana dan Ratih tapi Awan yang menahan.
Awan lebih mengasihani Jefri. Kelas mereka berencana pergi ke Cipanas.
Jefri mau naik tangga ke gudang. "Minggir." Mereka menghalangi jalannya.
Awan dan Mira tidak memberinya jalan sama sekali, mereka malah tatap-tatapan seolah tidak ada orang lain di sana.
"Iya, gue gak ikut."
Selepas Awan menengok ke Jefri barulah Mira pergi menuju kamarnya.
Mengerti apa yang mereka ributkan Jefri tak banyak tanya. Dia memang acuh.
*
Mira mondar-mandir menggerutui sifat Awan yang suka mengekang ini itu.
Fani muncul di depannya. "Kamu sedang marah?"
"Lagi dagang. Dagang ayam, Fan."
Sudah tahu mimik mukanya merah padam marah. Masih tanya pula.
"Laki-laki di rumah ini sangat menjengkelkan. Aku juga muak sama sepertimu."
"Gagal liburan gue. Ahh, gimana dong? Mending gantinya gue diajak refreshing ke mana, kek. Awan sialan."
"Awan? Dia di depan kamar kamu tuh."
"Apa?"
Mulut Mira komat-kamit, tangannya menyambar gagang pintu dan membuka cepat.
Awan kaget pintu dibuka tiba-tiba, dia jatuh tersungkur.
__ADS_1
"Apa-apaan nguping depan kamar gue." Mira siap menjambak jika perlu.
Jefri tengah minum di lantai atas menyembur air lantaran Awan ketahuan menguping.
Awan berdiri sekuat tenaga. "Gue takut lo nangis gara-gara dilarang piknik. Nggak, ternyata."
Lelaki itu pikir Mira bocah ingusan? Konyol sekali.
"Tuh, mata lo mendung."
Mira menyeka sudut matanya. "Gak!" Dia mengelak.
"Gue gak bermaksud jahat atau gimana. Gue cuma takut- "
Mira sudah tahu kelanjutannya apa. "Takut gue nyusahin Jefri, kan? Iya tau. Keluar sana!" usirnya mendorong Awan keluar.
Awan menghela napas di depan pintu. "Belum selesai padahal."
Sementara di dalam Mira sangat kesal. "Gak usah dibilangin gue sadar diri. Berengsek si Awan. Bukan pertama kali gue nyusahin Jefri. Jefri gak pernah ngeluh. Lagian kita semua keluarga."
"Kasihan sekali kamu, Mira." Fani menghilang dan muncul di belakang Awan. "Dia salah paham tentang kamu. Tidak ada gunanya berdiri di situ. Pergi saja."
Awan jawab, "Kasih tau. Gue takutnya dia yang kena. Gue gak mau ngerasain takut lagi."
"Percuma bilang juga. Biarin dia mikir sendiri nanti juga nerima. Biasa Mira ngambek dulu," sahut Jefri sudah di lantai bawah.
Fani melihat mereka sedikit menyesal. Siapa yang tidak kenal mereka setelah berdampingan bertahun-tahun.
"Kalian para pria sangat sulit dimengerti dan suka bicara setengah-setengah. Apa sebab itu wanita menganggap kalian tidak peka? Astaga ..."
Awan menunduk seraya berbalik menghadap bocah tengil itu. "Main, gih."
"Benar! Kamu selalu mengusir aku. Iya aku pergi!" Fani mendelikkan matanya. "Pantas Mira menyebutmu berengsek," lirihnya. "Kata yang pantas untuknya."
"Berengsek?!" Mira kurang ajar.
"Dah!" Fani pergi secepat kilat.
Awan menggaruk kepala serba salah. "Akhh, gue jadi mikir lagi ikut apa gak."
__ADS_1
Jefri sepemikiran dengannya.