
Awan bermain bola basket sendirian di lapangan menunggu Jefri dan Mira ada kelas tambahan.
Dari ruang guru keluar Pak Adit menenteng netbook terlihat oleh Awan selagi men-drible bola.
**
Kelas 11B langsung senyap begitu Pak Adit masuk dan mulai menyampaikan materi lanjutan pagi tadi.
"Awas ya lo kesurupan lagi! Gue tinggalin di sini sendirian!" ancam Dewi.
"Dengerin," tambah Mira.
Zafran berhenti cengengesan ditatap tajam mereka.
Seperti murid pada umumnya. Mereka yang pandai bisa memecahkan soal sulit sekali pun, sedangkan murid yang biasa-biasa saja ya agak lama mengisi jawaban. Ada pula yang tidak mau ambil pusing tinggal mencontek, selesai.
Pak Adit beranjak ke luar kelas.
"Mau ke mana, Pak?" Hadi iseng tanya.
"Ke toilet sebentar."
Mereka yang berhenti menulis sejenak meneruskan lagi kegiatan belajar.
Selang setengah jam berlalu Pak Adit tidak kunjung kembali ke kelas padahal jam tambahan mereka segera berakhir.
"Gak balik-balik Pak Adit. Lagi BAB kali ya?" Siswi yang duduk di belakang Irlan melontarkan dugaannya, nama dia Sifa.
"BAB sambil nonton film gak sih," celetukan Dewi disoraki teman-teman lelakinya.
"Lo pikir semua cowo begitu, Dew?"
"Surya BAB sambil anu?"
Irlan menyela. "Eh itu si Jefri abis dari kamar mandi!"
Siswi yang duduk dekat jendela langsung berdiri dan membuka kaca. "Jefri!"
Jefri berhenti padahal tidak kenal siapa yang memanggil dia.
Muka Mira kesal tiap ada cewek yang cari perhatian berusaha mendekati sepupunya.
Siswi yang buka jendela bertanya, "Abis dari kamar mandi?"
"Iya."
"Papasan sama Pak Adit, nggak?"
Dewi berjalan ke Alin.
"Gue cuma lima menit di sana."
"Ngapain?"
"Menurut lo ngapain lagi Jefri ke kamar mandi, hah?" sahut Dewi menghentikan temannya yang numpang cuci mata doang.
Jefri tersenyum ada yang membantu. "Duluan."
Alin melambaikan tangan ke Jefri, tak lama kemudian duduk kasar. "Galak banget sih lo. Pacar lo si Surya, bukan Jefri!"
"Jefri temen gue."
"Ya terus?"
"Lo siapanya dia?"
Diam seribu bahasa Alin ditanya hubungan dengan Jefri.
Irlan berniat ke depan pintu cari angin luar. Belum lama jongkok di sana dia mendapat telepon dari Pak Adit.
Irlan bangkit berniat ke kursi karena dia kira Pak Adit menuju kelas.
"Halo, Irlan."
Irlan khawatir menjawab, "Ya, Pak. Lima belas menit lagi udah mau pulang, kenapa belum balik ke kelas habis dari toilet?"
__ADS_1
**
Di bawah mereka Awan duduk di tengah lapangan sambil minum susu kotak, menertawakan prediksi yang akan terjadi.
**
Pak Adit kedengaran terkejut. "Toilet? Saya baru kasih tau kamu. Setelah jam sekolah selesai saya buru-buru pulang karena ada kepentingan. Pas di rumah baru keinget jadwal jam tambahan sore tapi listrik mati, sinyal ilang."
Prak!
"Irlan? Kenapa kamu bilang saya abis dari toilet? Irlan? Halo?"
Irlan menjatuhkan ponsel dari telinganya.
Pak Adit heran panggilan berlangsung tapi Irlan tidak menjawab.
Panggilan telepon berakhir.
"Heh, lo kenapa banting hape mahal, njrit?" Gani memungut dari lantai dan mau memasukkan ke saku celananya.
"Woi, harom!" tegas Zafran merebut ponsel dan meletakkan di meja Irlan.
"Pak Adit bilang apa? Dipulangin sekarang?" Dewi bahagia jika terjadi.
"Bukan."
"Muka lo gak seneng amat. Dikasih PR lagi kita?"
"Jangan diam seribu bahasa. Ngomong dong.. " Alin penasaran dari tempat duduknya.
"Pak Adit gak berangkat," sendu Irlan terduduk lemah ke lantai.
"Pulang gitu maksudnya?" Zafran belum paham.
"Gak berangkat!" Irlan berteriak. "Tau arti gak berangkat?! Artinya sama sekali gak masuk ke kelas!"
"Hah?!"
"Anjir!"
"Terus yang masuk tadi siapa?" Irlan mau nangis tapi malu dilihat teman-teman.
Mira tidak di antara kerumunan mereka, dia duduk berpikir.
"Ada apa kok ramai?" Pak Adit kembali dari toilet.
Irlan buru-buru berdiri walaupun sempat kejedot meja.
"Lah itu Pak Adit.. " lirih Dewi kebingungan.
Di depan mereka sekarang berwujud Pak Adit sebelum masuk kelas dan sesudah dari toilet.
Mereka duduk sambil saling bertanya ke orang di sebelah untuk mengkonfirmasi Irlan.
Kata dia Pak Adit tidak masuk kelas dari awal, tapi orangnya masuk terus izin ke toilet dan balik lagi.
Dewi mendekatkan tubuhnya ke Mira berbisik, "Weh, itu Pak Adit betulan apa bukan?"
Zafran mencondongkan badan ikut bicara, "Kayak manusia, Dew. Kalau bukan mana bisa semua orang liat."
Dewi mengangguk perlahan dan meyakinkan hatinya bahwa Pak Adit yang ada di depan mata sekarang bukan palsu.
Tangan Irlan bergetar mengirim pesan ke grup tanpa guru supaya teman-temannya merespon tanpa membuat keributan.
Irlan cek dan pastikan nomor yang dia hubungi adalah nomor Pak Adit dan suaranya memang milik Pak Adit.
Bahkan Pak Adit mengirim pesan balik dan mempertanyakan apakah gerangan yang dia bicarakan di telepon tadi.
Irlan mengeposkan tangkapan layar berisi riwayat panggilan berdurasi dua puluh detik dan pesan yang dikirim Pak Adit ke grup.
Tidak butuh waktu lama mereka membuka pesan grup dan saling melihat Pak Adit yang sekarang duduk di kursi guru sedang fokus ke netbooknya seperti kebiasaan sehari-hari.
Zafran : "Coba lo tanya, Bapak manusia atau bukan?"
Gani : "Goblok. Serius ini, njir. Yang asli di depan kita atau palsu nih?"
__ADS_1
Dewi : "Ada ide lain biar gak suuzon? Gue bingung sumpah!"
"Mira, dia manusia apa bukan?" Dewi geregetan plus takut banget.
Masa iya seandainya hantu bisa dilihat dengan mata kepala.
Kalau pun manusia lantas buat apa Pak Adit di telepon bilang tidak datang ke kelas tambahan sementara dia masuk memberi tugas.
Pak Adit bukan tipe orang yang suka lelucon apalagi hantu-hantuan.
Menggunakan akal sehat, Pak Adit bisa saja mengerjai mereka gara-gara kamis lalu banyak yang bolos di mata pelajarannya.
Jika percaya hal mistis, terlebih ada Mira dan Zafran yang peka terhadap mereka pun tidak mengkonfirmasi wujud apakah Pak Adit di kelas sekarang.
"Lo bisa bedain sekarang dia manusia atau bukan?" tanya balik Mira.
"Lo nanya gue, gue nanya siapa? Liat dong... " kesal si Dewi punya teman kurang berguna.
Zafran : "Ada satu cara buat buktiin langsung."
Dewi : "Gimana?"
Zafran mengundang mereka dalam satu video call dengan Pak Adit.
Darr!
Pak Adit ada di dalam video call tapi sedang menyetir mobil.
Mereka mematikan video call bersamaan setelah memastikan kebenaran.
Dewi menarik-narik rok Mira. "Dia bukan manusia, Mira... "
Mereka mau kabur takut diapa-apain. Diam gelisah tak karuan.
Tiba-tiba Pak Adit tertawa dalam keheningan membuat mereka merinding seketika.
Gani berani bertanya, "Kenapa ketawa, Pak? Nonton upin-ipin ya?"
"Heh!" Alin memukul badan Gani.
Yang lain takut bisa-bisanya dia bercanda.
Brak!
Pak Adit menggebrak meja dan menatap mereka dari sisi kiri ke kanan kemudian kanan ke kiri lagi.
"Kalian sudah tau saya bukan manusia."
Jempol kanan Irlan berkali-kali menelepon nomor Pak Adit saking paniknya.
Zafran berdiri cepat di kursi dengan gaya cool. "Terus kenapa masih di sini? Sok-sok ngajarin kimia lagi. Tau Antoine Lavoisier gak?"
"Lo lagi nantangin dia, Zaf?" tanya Dewi.
"Pencipta kimia?" bongkar Gani.
"Kenapa lo jawab? Kan gue tanya dia, anjir."
"Oh, lo nanya dia... " Gani malah masuk dalam situasi runyam yang dibuat Zafran.
"Bapak tau Hardinata Raih Kusuma gak?" Ditantang lagi sama Zafran. Kali ini yakin tidak ada yang bisa jawab.
"Siapa dia?" tanya Pak Adit palsu.
"Bukan manusia betulan dia," gumam Zafran.
"Ngapa, Jap?" Gani kepo.
"Masa gak kenal bapak gue," cetus Zafran mengundang murka yang lain.
"Anjrit!"
Zafran langsung naik melompati dari satu meja ke meja lain sampai satu kakinya keluar jendela.
Melihat teman-temannya cuma diam di tempat Zafran langsung teriak.
__ADS_1
"KABUR, GOBLOK!"