
"Apa!" Dewi mau pingsan.
"Sialan!" Awan cepat naik dua tangga agar bisa menyusul mereka.
Jefri ke lantai tiga, kosong.
Matanya bergerak cepat ke tangga menuju atap. Ada bayangan sekilas berbelok segera dia ikut ke atas.
"Jefri!" Awan teriak dari lantai tiga.
"Rooftop, Wan!" balas Jefri dari lantai atas terus naik.
Brak!
Pintu ke atap dibuka kasar oleh Jefri.
"Mira!"
Pria itu segera menarik seragam yang dikenakan Indri dari belakang dan menyeretnya sangat kuat.
Jefri tidak menduga Mira menahan tangannya.
Bukan Mira yang dia kenal. Rupanya mereka berdua kerasukan oleh entitas berbeda.
"Sadar, Mir!"
Jefri melepaskan tangannya dari Indri dan berpindah menarik kerah lehernya tanpa ampun.
Mira menangkis Jefri dengan lengannya kemudian berdiri menghalangi dia.
Seringaian licik itu sangat memuakkan.
Batas kesabaran Jefri hampir lewat. Dia mendorong Mira ke samping walaupun tak tega tersungkur.
"Lo nantangin gue?" Jefri melepas kasar dasinya. "Keluar dari tubuh mereka. Sekarang!"
Awan menabrak pintu atap akibat kelelahan berlari.
"Awan! Baca doa, Wan!" gertak Jefri merasakan kedatangan Awan bisa membantunya melawan mereka.
Mira dan Indri berdampingan di hadapan Jefri sembari tertawa remeh. Kesadaran mereka telah sepenuhnya diambil alih.
Awan membaca ayat suci dengan khusyu.
Indri yang pertama menjerit keras kepanasan. Reaksi Mira tetap sama, dia seakan tak mempan apa pun.
Selagi angin kencang berputar di atas mereka dari telinga Awan sampai keluar darah segar saking besarnya energi mereka yang berbenturan.
Awan memberanikan maju. "Jefri." Dia menangis memegang bahu sepupunya. "Mira.. "
"Terus baca doa!" bentak Jefri.
Awan menarik napas panjang. Dia berlutut pasrah merangkak ke arah Indri lebih dulu. Mengulurkan tangan sejajar dengan bahunya ke arah jantung Indri.
__ADS_1
Doa yang Awan ucapkan membuat jeritan Indri makin kuat sampai dia sendiri menutup satu telinga.
Indri jatuh tak sadarkan diri.
"Kalian yakin bisa mengatasi hal ini?"
Pertanyaan dari Mira membuat keyakinan mereka melemah.
Dia sama sekali tidak meronta-ronta seperti Indri saat dibacakan doa.
"Kami hanya mempermainkan kalian.. " Mira menertawakan respon mereka saling pandang tak mengerti.
Doa yang dilafalkan keduanya mereda.
"Apa?"
"Kalian gagal. Kami berhasil."
Awan menatap Jefri meminta penjelasan. "Gimana maksudnya, Jef?"
Air mata Jefri berlinangan namun semampu dia ditahan agar tidak jatuh.
"Dia salah. Kita yang berhasil," terang Jefri.
Ekspresi Mira berubah panik bercampur kaget mendengar itu.
"Kalian telah gagal!"
Jefri maju perlahan memegang erat kedua lengan Mira.
Awan mengecek nadi dan napas Indri yang ternyata tak terdeteksi. Dia beringsut mundur sangat syok.
Jefri menaruh harapan kala memandang lekat Mira. "Indri pergi ke tempat yang baik. Mira pulang sekarang. Ya?"
Mira temukan asal suara Jefri dengan keputusasaannya hingga dapat kembali ke tubuh seutuhnya.
Bhukk! Uhukk!
Batuk darah Mira keluarkan sebagai reaksi penolakan energi mereka sebelum dia pingsan di dekapan Jefri.
Awan memberi kabar. "Indri meninggal, Jef."
Tangisan Jefri tumpah saat itu juga.
**
Sebelum bel berbunyi...
Indri menemui Jefri dan mengajak bertemu Mirza di gelanggang.
Ketiganya berbicara serius di tengah bangku penonton.
"Gak usah selamatin gue." Indri memutuskan untuk ikut takdirnya.
__ADS_1
"Seriusan?" Mirza kaget.
"Kita bisa usaha lagi."
Indri lelah. "Orang tua gue udah baikan. Masalahnya ada di gue sekarang. Gue jadi tumbal. Gue harus mati."
"Kalaupun lo mati gak seharusnya jadi tumbal."
"Lo denger sendiri kalau gue gak mati bakal ada orang lain yang gantiin," pungkas Indri.
"Lo gak tersinggung sama omongan gue, kan, mendadak pasrah gini?"
Mirza pernah bilang Indri tak akan selamat dan akan membahayakan orang lain jika melibatkan mereka dalam urusannya.
"Gue udah pikirin ini semalaman. Tuhan gak pernah tidur. Mungkin ini cara gue menjemput ajal." Indri sadar perihal umur tak ada yang tahu.
"Indri.. "
"Jefri. Ada banyak temen seangkatan kita yang meninggal misterius di sini. Bisa jadi karena pesugihan yang orang tua gue lakuin. Cukup sampai di sini aja, Jef. Gue gak mau ada lagi korban."
"Lo mulai ngerasa aneh sama diri lo sendiri?" tanya Mirza.
"Belakangan ini gue sering nge-blank. Mungkin banyak pikiran."
Jefri menghembuskan napas pergi sendiri tanpa pamit. Dia benci sekali mendengar orang pasrah dengan keadaan walaupun peluang keberhasilan hanya nol koma sekian persen.
"Jangan masukin hati. Jefri emang gitu kalau bahas hidup dan mati," ujar Mirza. "Kalau lo ngerasa blank lagi mending jangan masuk sekolah dulu. Lo bisa hubungi Jefri, Awan, atau gue biar bisa disamperin."
Indri sudah merasa bukan dia lagi yang bersemayam di tubuhnya. Ada hal lain yang tak bisa dijelaskan menyeluruh.
**
Mira yang seharusnya menjadi tumbal.
Akan tetapi penolakannya begitu kuat dibanding Indri yang melepaskan hidupnya dan menyerah begitu saja.
Sinar biru yang masuk ke sumsum tulang belakangnya mengalir ke jantung menyebabkan sesak dada di waktu tertentu.
Semakin terasa menyakitkan itu pertanda energi yang merasuki Indri ikut menyebar di dalam tubuhnya.
Kaki Awan masih lemas hendak turun tangga. Dia menunduk dalam, menangis terisak-isak.
"Kenapa Ya Allah... "
Jefri berada di belakang Awan mendengar lirihan anak itu.
"Apa yang terjadi dari dulu sampai sekarang bukan karena mereka kuat, Wan. Kita yang terlalu lemah hadapin mereka."
Jefri mengusap punggung Awan.
"Indri meninggal, Jef." Awan menangis sesegukan.
Kali ini Awan merasakan rasa bersalah yang amat dalam lagi atas kematian Indri sesudah almarhum pamannya.
__ADS_1
"Kita gak punya hak buat nentuin nasib orang. Bukan Indri yang pilih. Udah ketentuan Allah Indri pergi. Yang merasuki mereka cuma menggoyahkan iman kita, Wan."
"Gue gak kuat, Jef."