
"Hemm."
Surya memandang Jefri dari samping. Mau dipikir berapa kali teman sebangkunya sangat aneh.
Begitu banyak rahasia yang disimpan seperti berkas negara.
"Lo sekolah buat merhatiin pelajaran, Sur... "
Jefri menatap balik Surya. Surya menyangga kepalanya dengan tangan.
"Kenapa lo tertutup banget terutama soal Indri sama Mirja? Indri belum kelar lo ceritain, si Mirja muncul."
"Bukan kemauan gue juga mereka ada."
"Emang ini bocah kudu diapain biar gak ngeselin ye!" Surya tersenyum di balik hatinya menggerutu. "Setiap Dewi nanya hubungan lo sama Indri, gue makin yakin Mira gak kasih restu."
"Misal Dewi mati di depan lo, bisa gak lupain dia?"
Glek! Air liur Surya dipaksa turun ke tenggorokan.
"Ya- gi- gimana ya.. "
Jefri mengangguk sebelum menepuk bahu temannya. "Gue gak bermaksud doain yang buruk. Yang gue rasain sekarang gak lebih hidup tanpa perasaan. Gue belum bisa maafin diri sendiri. Gak tau sampai kapan gue hidup, gue cuma mau berbuat baik sesama manusia."
"Emang Mirja ada masalah apa sama keluarga lo? Sori nih gue kepo."
"Bukan Mirza. Tapi bapaknya ngirim sihir ke almarhum kakek. Bukan dugaan, Mirza sendiri yang mutusin talinya. Gak lama setelah kakek meninggal karena sakit, bapaknya Mirza meninggal karena sihirnya gagal harus tetap ada gantinya."
Sebetulnya mereka tidak bisa berdamai karena suatu keadaan yang memaksa tetap merenggang.
Meski Mirza telah mengikhlaskan kepergian almarhum bapak namun bayang-bayang kejahatan semasa hidupnya pada keluarga Jefri membuat dia tak bisa meneruskan hubungan bersama Mira.
"Gue bersyukur tali itu putus." Sesaat Jefri mengubah arah pandangnya ke papan tulis menjadi sedih dan murung. "Tapi manusia munafik gak akan punah sampai hari kiamat."
Surya tertohok atas kalimat yang Jefri berikan. Mungkin dia juga termasuk orang yang munafik tanpa sadar.
__ADS_1
Tersenyum berbuat baik di depan banyak manusia tapi masih ada iri dengki dalam hati.
Sulit melihat orang lain bahagia pada akhirnya kufur terhadap nikmat yang diberikan Tuhan setiap detik.
"Kali ini Indri."
*
Pertemuan pertama Jefri dengan Indri saat jam pergantian olahraga.
Jefri melihat ponsel tergeletak. Pas dinyalakan tertera nama Indri di wallpaper-nya.
Surya tahu Indri yang mana jadi dia antar Jefri menemui Indri yang ternyata masih di sekitar lapangan.
Besok malamnya Jefri dapat pesan dari Indri bahwa dia dapat nomornya dari Surya.
Indri juga bercerita orang tuanya terkena penyakit aneh yang digadang di luar nalar sakitnya manusia biasa.
Indri secara langsung meminta maaf bertanya karena dia mendengar desas-desus murid lalu lalang bahwa Jefri 'bisa' menakluki makhluk astral sejak pindah.
Jefri pada saat itu langsung penasaran dan menawarkan diri datang ke rumah untuk menjenguk orang tua Indri.
Betapa tercengangnya Jefri ketika melihat tangan dan kaki orang tua Indri diikat pakai tali tambang di kursi.
Muka mereka hitam bak gosong, keluar bahasa aneh dari mulut, juga ekspresi meremehkan begitu Jefri berdiri di ambang pintu bersama Indri.
"Gue gak tega ngiket mereka. Tapi kalau nggak takutnya mereka kabur dan nakutin tetangga."
Pantas gang perumahan menuju kemari sangat sepi.
"Lebih baik begini. Lo ngambil keputusan yang tepat. Udah dibawa ke dokter?" tanya Jefri.
Indri memberikan hasil psikis orang tuanya pada Jefri.
"Tiap ada dokter kejiwaan dateng ke rumah mereka langsung normal. Baik-baik aja. Pas pulang berubah total. Gue pernah dipukul pake gelas kaca, piring, lain-lain lah pokoknya. Jefri, gue gak sengaja datengin paranormal ... Beberapa hari kemudian meninggal."
__ADS_1
"Gue abis dari sini mati juga gitu?"
"Gu- gue gak ada niatan bikin lo mati."
"Hidup dan mati ada di tangan Tuhan." Jefri lanjut berkata, "Sebelum jadi gak karuan gini ada sesuatu yang aneh gak dari mereka? Kayak misal ... Bawa sajen? Banyak larangan ini itu?"
Indri teringat banyak hal. "Enam bulan lalu mereka di PHK dari perusahaan tapi gak lama kemudian punya banyak uang. Gue selalu tanya dapat dari mana, mereka bilang pinjaman bank. Gue pernah sih liat mereka ritual di belakang rumah... "
"Lo liat ritual mereka?" Jefri kaget.
"Gak sengaja gue kebangun tengah malam... "
"Seharusnya lo yang jadi tumbal, Indri."
*
Permasalahan makin riweh dari sana. Jefri sarankan entah bagaimana caranya orang tua Indri secepat mungkin dibawa ke rumah sakit jiwa atau ulama berpengalaman yang bisa meruqyah sebelum energi mereka disedot habis.
Bukan Indri yang dijadikan tumbal oleh mereka. Lantas, apakah kematian Johan dan Hadi terkait dengan ritual pesugihan itu?
"Gue jadi khawatir masih suka liat Mira sesek napas pas kita kumpul. Kenapa sih tuh anak? Udah lo periksain ke dokter belom? Paru-parunya bermasalah kali, Jep."
Pulpen Jefri berhenti bergerak.
Sebelum Hadi tewas, misteri sinar biru yang menabrak Mira belum terpecahkan sampai kini.
Aura yang terpancar dari orang tua Indri biru juga.
Mungkinkah...
"JEFRII!"
Teriakan dari luar mengagetkan semua kelas.
Apa yang terjadi?
__ADS_1