
"Mampus! Huaa! Tolongin gue! Jefri! Mira! Irlan!"
Zafra berlari secepat bocah dikejar anjing. Dari lantai dua turun ke lantai satu, masuk ke gedung C naik lagi ke lantai dua lalu turun.
Zafran terhuyung ke belakang gara-gara kerah belakangnya ditahan Awan yang berhenti di jalan habis dari perpustakaan.
"Heh, lo ngapain sih!"
Pria itu membalikkan badan dan langsung memeluk erat Awan.
"Gue gak sengaja ngeledekin kakek di depan, malah dikejar anying! Mana bawa golok! Gue takut, Wan.. "
"Gak malu diliatin cewek-cewek?" Awan berbisik.
Zafran menelisik sekitar sudah tidak ada sosok kakek berkat ada Awan.
"Oke sip!"
Awan melotot diberi dua jempol tangan oleh Zafran. "Sip apaan?" Dahinya berlipat tidak paham.
"Lo nyelametin gue."
Anehnya lagi Zafran pergi dengan lagak tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Itu membuat orang sekitar memasang raut heran sekaligus takut berdekatan.
Awan kena imbas. Namanya hampir bersih tidak perang sapu lagi dengan hantu. Sebentar lagi gosip tema "Zafran Gila" pasti memenuhi tiap kelas.
*
__ADS_1
Prahara Pak Adit belanjut hingga saat ini. Baik Zafran maupun Surya sengaja tidak memedulikannya lagi menjelaskan materi depan kelas.
Ada tugas tetap mereka kerjakan. Senyum, salam, sapa yang menjadi kebiasaan sejak dulu perlahan hilang.
Kalau saja guru itu tidak mulai duluan, hubungan segi tiga mereka pasti baik.
"Itu Zafran." Mira menunjuk ke arah pintu kelas setelah Zafran masuk penuh percaya diri.
Dewi natap atas dari bawah bocah tanpa malu itu. "Zafran!"
Teriakan Dewi membuat anak lain terperanjat kaget elus dada.
"Sorry, sorry." Dewi meminta maaf pakai muka baiknya.
Mira menopang dagu di atas tutup botol minum. Menunggu alasan Dewi mencari Zafran dan tampak ingin mencakarnya.
Kedua telapak tangan Zafran memukul meja sebelum mengoceh panjang lebar.
Yang diajak bicara menggumam, "Hm, gue liat."
Zafran menggebrak meja lagi. "Terus kenapa gak keluar tolongin gue? Napas gue mau abis lari ngehindari golok kakek sinting itu!" Bila dibayangkan raut takut pas lari tadi pasti memalukan.
"Gue harap napas lo abis betulan. Harga diri lo menipis, hah?" omel Dewi memajukan muka.
"Gue gak keluar karena seneng liat lo dikejar."
Jawaban Mira dianggap tak berperikemanusiaan oleh Zafran.
"Lo salah pergaulan. Surya ngikutin jejak Juan. Lo ngikutin jejak Dewi. Gak ada yang waras. Lo semua ... Lain kali harus gercep. Kalau gue kenapa-kenapa gimana?"
__ADS_1
"Bagus buat lo supaya makin pengalaman," celetuk Dewi tersenyum meledek.
"Bangsat lo, Dew."
"Jefri, Juan, terakhir Awan. Mereka bertiga banyak melewati kejadian dan akhirnya dinobatkan "Master of Jurig 2023" . Lo gak minat gabung?"
Lihat betapa Dewi menyanjung ketiga pria yang lebih tak berperasaan dari Zafran yang lebih awal datang.
"Tapi lo gak kenapa-kenapa tuh." Mira bahkan berdiri memastikan dia baik-baik saja.
Jantung Zafran tak aman begitu Mira mengecek wajahnya dari dekat.
"Lo cuma keringetan abis maraton. Aman."
Dewi menarik tangan Mira. "Ehh. Jangan deket-deket!"
Mira sudah menjauh detak jantungnya masih kencang dan cepat.
"Lo kan punya pacar. Gue aduin lo ntar!" ancam Dewi.
"Oh iya gue punya."
"Kegantengan gue kadang buat cewe lupa punya pacar," kata Zafran.
"Jangan sok kegantengan. Balik ke kursi lo sebelum gue sambit sepatu."
Irlan akhirnya turun tangan menghadapi jenis manusia merepotkan.
Dia dari tadi belajar sambil hela napas dengar Zafran protes banyak hal.
__ADS_1
"Lo gak lebih ganteng dari Irlan." Dewi memeletkan lidah.
"Anjim."