
Mira hampir menyembur air yang baru diminum saat mendengar cerita Awan. Gelak tawa tidak bisa ditahan.
"Haha. Kok bisa?"
Jefri mengaduk teh. "Bisa aja karena nolak diusir. Sering terjadi."
"Gue gak bisa lawan satu pun! Lo tau kan gue ahli bela diri?" Awan berdiri di kursi memeragakan jurus serangan dan menangkis.
Jefri kaget anak ini bertingkah. "Kata lo diserbu banyak. Sadar diri juga penting."
"Duduk, Wan." Memang kulkas seribu pintu, kata Mira mah ikut ketawa menanggapi cerita Awan. Jefri malah datar-datar saja.
Awan duduk lagi. "Ada satu masalah."
Leher Jefri mendongak mau tahu masalah apa. Awas saja jika tidak penting.
"Gue bingung cerita dari mana ke Zio sama Udin. Gue ajak mereka cari harta karun, tapi tadi kita dikejar setan."
Mira dengan entengnya jawab, "Dahlah, ngaku aja." Mereka bukan amatiran yang baru mengajak orang polos bertemu hantu.
Jefri mendesah. Benar kan tidak penting. "Ceritain sejujur-jujurnya. Kalau mereka milih mundur jangan dipaksa."
"Kayaknya mereka gak bakal mundur, pasti penasaran."
Udin dan Zio ibarat Dewi dan Surya. Takut dan penasaran jadi satu. Sebelum terjadi sesuatu, mereka akan terus ikut-ikutan.
"Gue gak bisa nolak," kata Awan.
"Dasar lo berdua." Entah harus berkata apa, Jefri menyerah. "Gue gak ikutan ya. Sekarang gue fokus kuliah."
"Ada Juan ini," balas Mira.
"Juan cari tempat persembunyian Roni. Dikira gampang ngelindungi bocah-bocah nyusahin kayak mereka?"
"Bukan nyusahin. Kita bertiga justru bikin bumbu komedi biar gak terlalu thriller."
"Serah lo dah, serah!"
Mereka mengumpat kala pintu dibuka tiba-tiba oleh Juan.
"Goblok siapa yang dateng!" Tangan Awan bergerak mencontohkan jurus.
"Kaget gue." Mira mengusap dada.
"Apa sih!" Jefri menyahuti Juan.
Juan berkata, "Sanjaya gak ada."
Jefri bangkit perlahan. Ia tidak mengerti atas dasar apa Juan bilang Sanjaya tidak ada.
"Kan emang dia gak selalu ada. Setan, kan?" ucap Awan.
"Kayaknya Sanjaya masih di belakang sekolah," lanjut Juan.
"Lo yakin?" Mira mulai menanggapi serius keluhannya.
"Gue otw ke sana. Jef, temenin gue."
__ADS_1
"Gue ikut." Awan bergegas mengikuti Jefri.
"Lo di rumah sama Mira."
"Gue gak mau nunggu di rumah. Kita berempat pergi semua." Mira mana mungkin tahan menunggu kabar mereka pergi ke tempat berbahaya.
Juan tak ingin lama-lama. "Okay. Semua ikut, buruan masuk mobil."
Mereka serentak menahan napas karena motor Surya berhenti di pekarangan rumah dan dia bawa Dewi. Dewi bawa rantang empat susun menghampiri mereka dengan raut bingung mempertanyakan ngapain berdiri di pintu semua.
"Mau ke mana rame-rame?"
Awan menghitung cicak di tembok. "Satu, dua, tiga, empat."
Mira melihat ke atas. Tidak ada cicak satu pun.
"Masuk, masuk. Pamali berdiri di pintu." Surya mendorong mereka berempat supaya masuk.
"Kita mau ke sekolah. SMA." Mira membocorkan rencana mereka semua.
"Ngapain lagi?" Surya melongo.
"Gak ada gunanya jelasin sekarang. Ikut gak?" Jefri kasih tawaran mumpung butuh anggota.
"Gue gak," tolak Surya.
"Kita berdua ikut." Dewi memaksa Surya.
"Gue bilang nggak, Dewi." Surya kapok berurusan lagi dengan setan-setan laknat di sekolah.
"Kita semua sahabat sehidup semati."
"Dih, lo sono mau sehidup semati sama mereka."
***
Juan sengaja memberhentikan mobil jauh dari sekolah. Ada satpam jaga malam di depan gerbang depan. Jalan satu-satunya ada di samping gedung C, nyebrang comberan manjat pohon mangga terus lompat turun dari tembok pembatas.
"Gue bisa loncatin got, tapi gak yakin bisa manjat pohon." Mira lihat-lihat pohonnya cukup tinggi dan dia pakai sandal jepit. Kakinya rawan luka kena batang pohon yang kasar.
Di bawah pohon Surya membungkuk buat mereka naik. Di atas pohon mangga ada Awan. Di balik tembok ada Jefri dan Juan bakal tangkap Mira dan Dewi.
"Naik, Mir." Surya siap pasang badan.
"Anjir gue ditemenin kunti di atas sini, lo gak mau buruan manjat?" Awan mengusap lehernya yang dibelai kunti.
"Iya, iya gue panjat sekarang. Maaf gue injek punggung lo ya, Sur."
"Jangan lama-lama." Surya menguatkan otot seluruh tubuh.
Awan menarik tangan Mira ke atas dan tidak lama dia berhasil berada di atas pohon mangga.
Mira bergidik hantu wanita bermuka hancur tepat di depan matanya. "Serem, Wan."
"Turun sekarang."
Mira pegangan batang pohon yang bercabang ke tembok lalu melongok ke bawah.
__ADS_1
"Loncat."
Jefri gampang banget suruh Mira loncat. Mira gemetaran turun tanpa pengaman.
"Gak bakal patah tulang, kan?"
"Gak."
Mira memejamkan mata kemudian loncat mempasrahkan hidupnya. Mereka berdua berhasil menahan tubuh Mira tidak nyungsep.
Surya melirik Dewi. "Berat nih anak."
Plak!
Dewi menabok punggungnya. "Ngomong lagi gue injek yang kenceng," ancamnya. "Are you ready?"
"Gak ready." Surya pegangan pohon kuat-kuat.
Dewi sengaja naik pakai tenaga biar Surya tahu rasa ngatain dia berat.
"Seberat dosa-dosa lo, Dew. Astagfirullahalazhim!"
"Bacot."
Awan gak bilang apa-apa, tapi Surya ada benarnya. Dewi sedikit berat ketika diangkat dibanding Mira. Lihat Surya jadi korban penabokan setiap hari dia tidak ingin memar.
Surya meluruskan punggungnya. "Buset. Abis ini pijet ah." Dia mengulurkan tangan sambil tersenyum ke Awan.
"Goblok, lo sama gue lebih berat lo."
"Tarik gue sekarang," ucap Surya lembut.
"Panjat sendiri!"
Awan langsung lompat ke tembok dan turun tanpa aba-aba.
"Lincah banget mirip kelabang," lirihnya berdoa sebelum action.
Surya panjat pohon. Di atas sana dia merasa ada yang meniup mukanya. Surya panik langsung lompat turun tanpa ada yang tahu. Jelas nyusruk ke tanah.
"Lo semua duluan dah. Kayaknya tulang gue patah gak bisa bangun." Surya harus diam di tempat beberapa saat.
"Tinggalin aja," kata Dewi.
"Iya. Sono pergi dah. Gue nyusul."
"Kita mau ke belakang. Nanti lo ke sana," ucap Jefri.
"Okay."
"Ada-ada aja lo. Nyusahin semua orang!" Dewi tambahi pukulan di bok*ng Surya. "Ayo pergi."
Mira tidak tega meninggalkan Surya sendirian. Bagaimana kalau dia tidak bisa bangun.
"Nanti gue suruh Irlan ke sini. Jangan ke mana-mana."
"Ide bagus. Panggil Irlan."
__ADS_1
"Iya."