Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Fu*k You


__ADS_3

Merenungkan reaksi apa yang harus ditampilkan setelah mendengar keterangan dari Hana dan Ratih, Mira tidak berubah posisi sama sekali sejak duduk di sofa. Punggungnya bersandar, tangannya menyilang di perut menatap Ridwan dan Rudi untuk menemukan perbedaan mereka.


Beberapa menit mencari perbedaan, Mira hanya dapat satu. Pangkat mereka. Itu sudah diperkenalkan di awal pertemuan. Intinya, mereka berdua persis hampir tak ada perbedaan.


"Mama bermaksud kasih tau kamu setelah ayah meninggal, tapi banyak insiden setelah kamu pindah sekolah. Maaf kamu baru tau sekarang."


Membayangkan orang yang duduk di depan Hana adalah ayah biologisnya membuat hati kecil Mira tertawa dan menangis bersamaan.


"Bapak Rudi yang terhormat, apa gak ada sepatah dua patah kata yang mau Anda sampaikan?"


Selama Rudi diam, Mira ingat sesuatu yang dulu membuat dia kesal setengah mati.


"Pak Ridwan, dia yang dulu nutup kasus Hadi sama Indri ya?" Intonasi Mira naik sedikit sambil menunjuk Rudi.


Ridwan melihat kakaknya. Sudah pernah dikatakan jika Mira tahu, maka rumit lah cara mempersingkat faktanya.


"Tentang kasus mereka, saya percaya kesaksian kamu."


Ridwan menghembuskan napas gusar mendengar suara Rudi bergetar. "Saksi utama ketiga kasus, Jefri. Saya udah nerusin keterangan kamu, saat itu atasan gak mau terlalu lama ngusut kasus."


"Siapa? Dia atasan Pak Ridwan, kan?"


"Iya. Saya agak keras kepala waktu itu. Ternyata lebih baik ditutup segera. Saran itu disetujui rekan satu tim," ucap Ridwan.


"Pantesan gue cuma bisa ngundang setan gak bisa ngusirnya," gumam Mira sadar bahwa kemampuannya sejak dulu tak ada kemajuan karena keturunan.


"Saya gak memaksa kamu menerima saya. Kita bertemu sudah cukup," ucap Rudi.


"Terus sekarang gimana?" tanya Mira pada ibunya. "Semua orang udah pada tau Bapak Rudi ini ayah kandung Mira. Mama mau apa habis ini? Kepikiran tinggal sama dia?"


Rudi mengelak. "Kamu pasti gak nyaman. Kita berdua bisa akrab pelan-pelan."


Ratih setuju. "Betul, Mira. Bukan cuma kamu, banyak penolakan dari keluarga di Bogor. Sampai semua jelas, baru nanti kita pertimbangkan hal itu."


"Kenapa bukan Pak Rudi yang menikahi mama?"


Pertanyaan skakmat dari Mira membingungkan semua orang. Ridwan tak pernah tahu alasan Rudi. Hana mungkin tahu.


"Mama yang gak kasih tau Pak Rudi. Kami baru bertemu lagi setelah Ridwan memperkenalkan Rudi ke mama," terang Hana.


"Mira kira cuma di novel tentang lelaki yang menikahi perempuan walaupun tau anak yang dikandung bukan anak kandungnya. Ternyata di dunia nyata masih ada."


Kalimat Mirza mengatakan seorang ayah pasti melindungi putrinya bermakna dalam bagi Mira.


"Gak lama Pak Rudi pergi. Ayah kamu, Alfian datang dan melamar mama. Mama udah jelasin saat itu mengandung kamu dan beliau gak keberatan menerima mama. Setelah kamu lahir, potensi kamu terlihat. Ayahmu janji menutup mata batin kamu sampai dewasa, tapi tetap terbuka karena kamu memanggil mereka di sungai dekat rumah. Waktu kamu tenggelam dan Juan nolong kamu, mulai dari situ kamu dianggap sebagai pintu dan dijaga semua orang."


"Saya meminta maaf karena secara tidak langsung menjadi penyebab kematian ayah kamu. Tanpa sepengetahuan kamu Hana, saya dan Alfian mengatur pertemuan."

__ADS_1


Hana sudah dengar dari Ridwan dan mengerti kesulitan yang dialami Rudi. Kematian Alfian mengubah hidupnya. Rudi tak berani masuk rumah mereka sekadar melayat karena takut diusir para saudara Alfian. Hanya Pras yang memahami kondisinya.


"Bukan salah abang. Kecelakaan itu murni karena rem blong. Timsus ambil kasus mereka," bela Ridwan.


"Kami gak menyalahkan siapa pun. Memang sudah takdir," ucap Ratih.


Pembelaan Ridwan sangat mengganggu Mira. Benar bahwa rem blong menjadi penyebab kecelakaan Alfian. Andai mereka tak ada janji kecelakaan bisa dihindari. Bisa di hari lain mereka mengatur jadwal bertemu. Dari tujuh hari dalam satu minggu, kenapa di hari itu?


Sekali lagi jika menyebut takdir, Mira tak bisa mengelak. "Impian Anda udah terkabul, ketemu saya dan ibu saya secara langsung berkat Pak Ridwan menangani kasus sekolah saya. Sekarang gimana?"


Ratih berkata, "Mama kamu berniat ikut Pak Rudi, Mira. Setelah semua masalah selesai."


"Apa ini yang kalian berdua mau?" Namun sudah tak ada gunanya memberontak. "Tapi itu hak kalian sebagai orang tua. PR bapak pasti banyak harus bujuk saya. Mungkin betul Pak Rudi belum diterima, tapi pintu mereka selalu terbuka untuk saya."


Ratih membaca perasaan Mira. Sepertinya sudah cukup mereka menjelaskan semua hari ini. Mira masih dalam pemulihan. Jefri sendiri mengatakan Mira masih sering nangis diam-diam. Pras dan Haryo terus mengawasinya di rumah. Saat inilah biasanya jin menggoda iman manusia yang sedang lemah.


Ratih mengajak Mira. "Mira, ikut Bunda ke kamar."


"Terlalu pengap, Bun. Kita ke teras aja."


"Ya udah."


**


Ratih mengusap bahu Mira. "Maaf bunda ikut menyembunyikan rahasia mereka. Kamu pasti syok banget."


Perasaan Mira akhir-akhir ini dipenuhi kesedihan. Tak dapat dipungkiri ia sering menangis. Dengan menangis ia bertahan.


"Bun, kalau Mira bukan sepupu Jefri dari kakek, kita bisa pacaran gak?"


"Apa?"


Mira menyenggol Ratih. Dia cuma menggodanya. "Bercanda, Bun."


Ratih tertawa. Seharusnya dia yang menghibur Mira sekarang. Anak gadisnya tetap ceria di balik kesedihan bertubi-tubi.


"Atau paling gak pacaran sama Juan biar setannya gak deket-deket," tawar Mira.


"Bunda bukan biro jodoh. Kamu pilih siapa, asal orangnya baik bunda dukung. Bunda mau ambil teh, tunggu ya."


Mira mengangguk. Setelah Ratih masuk, Mira memicing ke arah Fani. Dari dia muncul di sofa, mulutnya tidak berhenti bicara.


"Gue harus cepet pindah supaya lo gak ngikutin gue terus. Mulut lo bisa diem gak? Berisik ngebacod mulu. Dia bukan bokap baru, tapi emang bokap kandung gue. Lo masih kecil gak tau apa-apa."


Fani melirik pria yang tangannya berhenti pas ambil sandal di rak. "Itu ayahmu."


Mamp*s. Apa kalimatnya barusan terdengar kasar? Tidak, kan?

__ADS_1


"Saya tau kamu ngobrol sama siapa. Lanjutkan."


Ridwan di belakang bingung Rudi membungkuk tak kunjung berdiri. Diterobos malah Rudi hampir terjungkal jika Mira tak sigap memegangnya.


"Sabar dong, Pak!"


Ridwan kaget dimarahi. "Maaf."


"Saya gapapa." Rudi tersenyum canggung. Lantas segera berdiri memakai sandal. "Saya pamit pulang."


"Mama mana? Gak nganter ke luar?"


"Mereka bukan suami istri. Kamu juga pasti gak nyaman liat kakak saya dan ibumu begitu," sahut Ridwan.


"Dasar sok tau!"


"Jangan berantem." Rudi melerai mereka berdua. "Ayo pulang, Rid."


Mira terpaksa senyum melambaikan tangan pada Ridwan selagi pria itu berjalan menuju mobilnya. Rudi sama sekali tidak iri lihat Mira lebih dekat dengan adiknya ketimbang dirinya.


Senyum yang Ridwan lempar berubah tatapan sinis. Mira mengganti lambaian tangan menjadi jari tengah saja. Anak itu sedang mengumpat.


Mau Ridwan hampiri dan adukan pada Hana kelakuan putri semata wayangnya. Untunglah ada bapaknya di sini.


"Liat kelakuan anak abang!"


Rudi menggiring Ridwan masuk mobil. "Jangan ditanggapi serius. Pulang, pulang."


Mira tertawa puas melihat wajah merah padam Ridwan.


Ridwan yang tahu cara balas remaja 20 tahun langsung menunjukkan jari tengah dari dalam mobil, jangan lupakan senyum smirk-nya.


Rudi menggeleng heran kelakuan mereka tidak ada bedanya. "Jalan duluan, Rid."


"Dasar Ridwan polisi sialan," desis Mira belum melunturkan senyumnya karena masih ada Rudi.


Fani sedekap dada memerhatikan tatapan Rudi ke Mira. "Tidakkah keterlaluan menyebut adik ayahmu polisi sialan? Ridwan adalah pamanmu."


"Persetan mau dia paman gue." Mira mau teriak melepas beban. "Juan di rumah gak?"


"Tentu. Juan sangat tenang tempo hari padahal profesinya terancam. Juan tidak dapat pemasukan lagi."


"Perkara duit justru kudu minta ke Juan."


"Apa dia kaya?"


"Bapaknya sih yang kaya."

__ADS_1


__ADS_2