Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Perkara Orang Lain Antara Mereka


__ADS_3

Di halaman parkir motor siswa mereka bertemu di sana sebelum pulang ke tempat tinggal masing-masing.


Kepala Jefri menunduk sembari geleng-geleng heran atas perbuatan dua lelaki yang meresahkan banyak orang.


Di depan Jefri ada Mira, Zafran, dan Awan. Di belakangnya Surya, Dewi, dan Irlan menunggu.


"Mir, lo dapat kekuatan supranatural dari mana?" tanya Awan penasaran.


Mira menghela napas malas. "Gue gak punya kekuatan supranatural. Apaan coba? Kecuali gue ada perjanjian sama iblis kayak kasus di Bogor berpuluh tahun lalu."


"Terus sinar biru tadi yang muncul dari badan lo itu apa?" jawab Awan tetap mempertanyakan asal usul kekuatan magis milik Mira.


Mira melepas tisu dari hidungnya yang berdarah. "Gue gak punya kekuatan apa-apa. Jef! Jelasin ke mereka."


Jefri berkacak pinggang mengomeli Awan. "Lo ngapain tiba-tiba ikut kesurupan? Mau Mira kenapa-kenapa?"


Awan mengusap daun telinganya. "Mira gak takut, kan?"


Mira hampir menyikut mulut sepupunya. Kesal banget dia diisengi sana-sini.


"Sakit dada yang tempo hari lo keluhin ada hubungannya sama hari ini?" Zafran mencoba memecahkan misteri.


Mira rasa tidak ada hubungan antar keduanya. "Lebih mungkin gue dikasih kekuatan untuk musnahin manusia kayak lo berdua."


"Jangan diulangi. Kalian emang iseng gak ada niat buat sakitin Mira, tapi kalian lebih gak tau niat mereka," ucap Jefri.


Mira sangat ingin memiliki hati penyabar seperti Jefri. Baginya, Awan dan Zafran adalah spesies manusia yang harus dihindari demi kedamaian hidup.


Awan memandang Mira dan Zafran bergantian penuh arti.


"Sebutan apa yang cocok buat lo berdua?" Dia seolah merenungkan sesuatu.


"Pulang, Wan." Jefri menyuruh Awan.


Awan tetap lanjut bicara, "Zafran pintu yang buka dua puluh empat jam, Mira perantara nyeberang jembatan, Jefri jembatannya."


Mira tak begitu mempersoalkan omong kosong Awan yang rumit masuk otak.


"Terus lo apa?" sahut Mira.

__ADS_1


"Gue sebagai tali pegangan jembatannya, biar yang nyeberang gak jatuh."


"Dia sombong ... Membanggakan perannya," gumam Zafran tak suka dengan ekspresi wajah Awan.


"Siapa yang mau nyeberang kalau harus pegangan sama lo?" tukas Mira.


Awan memandang ketiga orang di belakang Jefri. "Mereka."


"Sumpah gue gedek banget denger suara lo, Awan."


Mira mengajak Jefri pulang, sebelum itu dia berpamitan dengan Dewi.


"Kesurupan bikin otak lo geser?" tanya Zafran pada Awan.


"Gak ngaruh. Energi gue cepet balik kok," jawabnya sombong lagi.


"Omongan lo barusan ... Jembatan, pintu, tali pegangan, apalah itu ... Coba lo ngelamar jadi prajurit alam ghaib biar lebih berguna."


Mereka yang mendengar lantas tertawa.


"Jangan lupa besok ke rumah gue," ingat Zafran.


"Tungguin gue!" Irlan mengejar Zafran. Dia pun sudah ditunggu.


"Udah selesai?"


Dewi berniat menggandeng Mira ke depan menunggu Surya dan Jefri mengambik motor.


"Udah ngapain?" Mira melirik malas Jefri.


Terbuat dari apa hati pria itu bisa sangat lembut. Tidak cocok dengan image dari luar.


"Gue ambil motor, Dew." Surya menuju ke motornya.


"Dewi, jangan terlalu keras ke Indri."


Dewi tidak kaget lagi Jefri memberi teguran. Pengadu tetaplah pengadu.


"Lo paham maksud gue, kan?"

__ADS_1


"Emang Dewi apain Indri?" Mira agak kesal tidak tahu apa-apa.


Dewi tak ingin memperpanjang masalah dengan orang yang menurut dia kurang penting.


"Lo sering bantu orang kayak sekarang masalah hantu?" tanya Mira pada Jefri langsung.


Melihat Jefri buang muka Mira yakin benar.


"Gue bilangin Om Pras ya kalau lo berurusan lagi sama dia," ancamnya.


Peringatan Mira bisa dikatakan lampu merah untuk Jefri.


"Gue udah minta izin ke Bunda."


"Bunda?" Manik Mira berkaca-kaca.


Dewi melongok lihat muka Mira. "Yah, mendung mata anak orang."


"Ayo, Dew! Kita tunggu di sana!" ajak Mira malas adu mulut menyebut nama yang tidak disukainya dari awal.


Dewi nurut ditarik Mira. "Seberapa gak suka lo sama Indri?"


"Seratus persen!"


"Gak suka banget dong?" goda Dewi.


"Emang lo suka dia?"


"Ya gak juga sih.. "


"Terserah dia mau nolongin Indri apa nggak. Dari awal gue ketemu perasaan udah gak enak sama auranya."


"Dark, ya?"


"Hm."


"Sinar biru apaan sih yang disebut tadi? Lo ada kekuatan magis kayak di drama fantasi, bisa lawan hantu?"


Tunggu. Jika dihubungkan dengan waktu setelah membentur energi tak diketahui di sekolah bersamaan Jefri tiba-tiba kenal Indri.

__ADS_1


Benar tidak?


__ADS_2