
"Jadi maksud lo Mira inget semua? Semuanya?"
Reaksi Awan barusan tak akan Jefri lupakan.
"Kaget?"
"Iya lah!" Jiwanya manusia utuh. Beda dengan Jefri sudah tercampur energi dunia lain makanya kurang merasakan emosi. "Kenapa dia pura-pura masih lupa? Mira gak keliatan murung."
"Harusnya begitu .."
"Otaknya tambah konslet kali," imbuh Awan asal ceplos. "Gue butuh waktu dua minggu buat bisa ketawa. Dia sembuh langsung nge-**** gue. Anjing banget."
Jefri tak luput menunjukkan isi pesan dari Dewi.
Awan membaca keluar suara.
'Jef, gue punya kabar baik'.
'Apa?'
'Mira udah gak amnesia. Dia inget kejadian itu gara-gara kepalanya kena bola pas jam olahraga- '
"Bentar ..." Awan tergelak membayangkan kepala Mira kena bola. "Hahaha!"
"Baca lagi," titah Jefri.
'Mira bilang dia berusaha buang kenangan buruk karena tau perasaan kita gimana. Dia gak bisa ngomong langsung ke lo, makanya gue sengaja kasih tau sekarang'.
"Lo mayan lama bales pesan dari orang yang balesnya cepet, Jef."
"Gue menyerap kata-katanya dulu baru bales," jawab Jefri.
Awan mendecih. "Itu alasan cewek gak ada yang betah chat lo."
Jefri menarik ponselnya. "Gue yang belum minat."
"Heleh."
Jefri berdecak. "Apa pun itu. Gue udah bilang duluan ke mama sama bunda. Gue baru bilang sekarang karena nunggu Mira pergi."
"Berarti lo sengaja nyuruh Mirza dateng ke Jakarta?"
"Dia gak keberatan," dalihnya.
"Sangat keterlaluan."
"Mulut lo kapan kadaluarsanya sih!"
"Anjir, emang bisa basi."
"Biar gak asal komenin orang."
"Napa emang? Tersinggung? Kita kan satu keluarga."
"Lo kalau bukan manusia, gue masukin ke botol."
"Anjir."
Semua di atas telah menunjukkan Jefri bukan idaman kalian. Dengan sesama pria saja setega itu.
"Mirza yang nanggung sebagian gak apa-apa, kan? Kayaknya kalau tau Mira inget hubungan mereka bakal putus."
"Urusan mereka."
__ADS_1
"Mirza gak bisa ngusir hantu lagi, bayangin perasaannya gimana. Gue jadi dia langsung bertapa di goa tujuh hari tujuh malam."
"Ngapain repot-repot bertapa?" Jefri menggeleng heran.
"Biar kemampuan gue kembali. Gue masih punya tanggungan. Si Mira, noh. Dia tanpa kita bakal sengsara kayak Zafran. Kesurupan rutin ibarat minum obat sehari dua kali."
"Sering atau nggak Zafran kesurupan bukan karena ada kita. Tergantung dia ibadahnya gimana, konsisten apa nggak."
Awan mengibaskan tangan tak peduli alasan Jefri. Dia kurang suka Zafran. Lebih bagus ganti topik.
"Bodo amat. Mama gimana pas tau?"
"Seneng lah."
"Di mana sekarang?"
Jefri mau menoyor anak itu tapi urung. "Baca grup keluarga. Berhenti nonton film horor. Hidup kita lebih ngeri."
Sekarang mereka bukan berdua di ruang tamu. Banyak sosok berdatangan dengan sengaja tertarik energi mereka.
Jefri menghembuskan napas lelah karena sesak rumah dipenuhi makhluk astral.
"Jentikkan jari, Jef." Biar mereka hilang sekejap mata.
"Lo pikir gue penyihir?" sahutnya malas.
"Mirip."
"Astagfirullah."
"Maka dari itu, lo- "
"Stop." Jefri menerima telepon dari Mirza.
"Siapa?" tanya Awan tanpa suara.
Awan ke dapur ambil cemilan buat nonton film nanti.
Seraya mengambil kunci motor dan menyambar jaket di cantolan pakaian Jefri bergegas ke luar pakai sandal. "Lo mau tunggu di sana?" Jadi tak enak hati merepotkan Mirza. "Oke. Jagain sebentar."
Setibanya di taman kota Jefri langsung lihat motor dengan pemiliknya berdiri gelisah.
Sembari jalan ke arah Mirza, dia menelaah apa yang terjadi antara mereka sampai memutuskan pulang terpisah.
Tangan Jefri menepuk bahunya. "Lama?"
Wajah Mirza terangkat mengetahui Jefri datang. "Gak. Mira di dalem. Gue langsung pulang gapapa, kan?"
"Lo abis nangis?"
"Hah? Gue?"
Suara Mirza lebih berat dari biasanya. Wajah pria yang dulu garang terkenal posesif sekarang tampak jelas sedang sedih dan pucat.
"Gue ngehalau banyak energi. Agak capek," alibinya menyanggah.
Jefri tersenyum mengangguk saja. "Makasih."
Anggaplah alasannya benar jika bisa menjaga perasaan Mirza.
Selama Jefri masuk taman dia yakin mereka terlibat masalah. Secara Mirza tahu darinya bahwa Mira telah sembuh namun Mira tidak memberitahu lebih awal.
**
__ADS_1
Lelaki berhati tulus itu tentu emosional menyaksikan air mata perempuan jatuh karena dirinya.
Setelah memutuskan berbalik pergi Mirza menahan penyesalan yang kelak datang akibat menolak gadis yang masih mengisi hatinya.
Kepalan tangan selama menjauh membendung isak maupun tangis demi menguatkan diri sendiri.
Sesungguhnya Mirza hanya berpura-pura kuat padahal impian yang selama ini dikejar telah lebur bersamaan.
*
"Sampai lo berubah ... Gue pikirin lagi hubungan kita. Itu juga kalau kita ketemu nanti."
"Ke mana pun lo pergi, gue bakal cari. Atas nama ayah, gue minta maaf."
*
Percakapan terakhir kala putus pertama kali masih teringat.
Mereka menepati janji.
Mira ingin kisah mereka berlanjut dengan lembar dan tulisan baru.
Yang tidak bisa merasa bahagia adalah Mirza. Ia rasa semua bermula akibat kehadirannya.
Kakek Fuadi disihir ayahnya. Hampir tiga bulan keluarga mereka berjuang menyembuhkan dan menjalani hari-hari seperti biasa. Enam bulan lalu kakek meninggal lantaran penyakit komplikasi diduga efek santet dari sihir.
Kemudian kecelakaan yang menimpa ayahnya Mira bersangkutan dengan Mirza.
Mirza bertemu beliau di depan sekolah SMP dan melihat energi jahat.
Mirza mencari cara bicara dengan Mira. Ketika berhasil berteman Mira cerita ayahnya kerap menjadi orang lain di suatu waktu dan sering mengamuk tanpa alasan.
Tidak butuh waktu lama ayahnya mengalami kecelakaan mobil dalam keadaan kerasukan oleh jin yang masih dicari keberadaannya.
Tiga bulan sebelum itu ayah Jefri pun meninggal dengan cara persis.
Duka dalam keluarga mereka belum usai. Tatkala anggota yang lain sehat dan bahagia, penderitaan Mira dan Jefri diuji sesudah pindah ke sekolah baru.
Johan, Hadi, dan Indri. Ketiganya tewas karena ulah jin namun tercatat investigasi sebagai bunuh diri lantaran tiada bukti selain forensik dan didukung kesaksian Jefri serta murid lain.
Pada kematian Johan, mereka tidak begitu mengenal sosoknya seperti apa.
Begitu pula kasus Hadi. Jin itu rupanya mulai berani mendekati teman sekelas Mira dan menewaskannya.
Yang terparah ada di kasus ketiga. Semoga ini terakhir kali.
Faktanya bukan jin dari perjanjian orang tua Indri saja yang berkerumun menonton mereka mengalami kesengsaraan.
Mirza tertusuk pisau hingga energinya terserap mantra.
Dewi dirawat semalaman karena pingsan syok berat ditemani Surya.
Mira sempat koma dan sadar meski ingatan tragedi itu hilang sementara.
Awan menjadi pemurung dan mengisi waktu membersihkan energi negatif di sekolah sampai tenaganya terkuras habis.
Jefri mengurung beberapa arwah penasaran dan membuat pagar supaya menahan segala energi merasuk Zafran. Dia mungkin diincar karena lemah.
Awan dan Jefri lakukan hal itu demi membuktikan mereka cukup mampu melindungi Mira, tidak seperti yang Juan katakan.
Setiap malam baik Hana maupun Ratih menjadi saksi bisu tangisan pilu Jefri dan Awan dari kamarnya.
Mereka amat merasa bersalah.
__ADS_1
Anggap Mirza mau kembali pada Mira. Belum tentu dia bisa membuat nyaman dan bahagia.
Untuk apa?