
Kedua kali Mira mengecap lidah disaksikan hantu saat mengemas pakaian.
"Mira. Kamu tidak merasa aneh?"
Posisi Fani tepat di seberang Mira tengah duduk sila menangkup pipi.
Dia tewas tahun 1950, oleh karena itu menggunakan bahasa baku.
"Aku merasa kamu berbeda kembali dari sana."
"Kata Awan, kamu sering kerasukan. Apa hantu di sana jahat-jahat?"
"Emang si Awan mulutnya blangsak banget," lirih Mira.
"Apa itu blangsak? Kamu bicara kasar ya?" tanya Fani.
"Bukan kasar. Emang itu bahasa orang sana, Fani." Mira membodohi hantu bodoh di depannya. Kebiasaan anak kecil suka nanya giliran dijawab malah nanya lagi.
"Masa sih?"
"Iya!"
"Kamu baik-baik saja tidak ada aku, kan?"
"Huh, baik-baik banget." Mira sangat percaya diri.
Fani memonyongkan bibir. "Wajahmu mengatakan sebaliknya."
Mira menyangkal. "Gak tuh."
Selesai mengemas pakaian Mira meletakkan koper di dekat pintu.
Mereka hendak keluar namun kepala Kayla muncul dari luar.
"Ngagetin aja!" Mira usap-usap dadanya.
Fani tertawa menunjuk-nunjuk Mira. "Kamu masih penakut."
Enak sekali dia bicara sementara dia yang amat menakutkan dari penghuni di rumah ini.
"Mau diusir?" sarkasnya sedang tidak baik.
"Tidak boleh mengusir hantu."
"Kata siapa? Boleh, harus banget kalau sejenis kamu begini."
"Kamu penakut tapi jahat, Mira."
Mira membungkuk bertanya ada gerangan apa Kayla ke kamarnya.
"Kenapa, La?" Tangannya menarik pelan tangan mungil Kayla agar masuk.
"Dia mau bawa Mira."
Meski berbisik Mira masih dengar. Mungkin Fani ikut menguping.
"Siapa yang mau membawa manusia penakut seperti Mira?" Fani serius bertanya walaupun kedengaran mengejek.
"Kenapa mereka gak bisa liat dia, Mira?"
Jawaban yang hendak dikeluarkan Mira tertahan sampai kerongkongan.
__ADS_1
"Ayo panggil Papa biar usir dia dari sekitar Mira."
Mira kaget tangannya ditarik Kayla. Dia dituntun ke lantai bawah bertemu Om Pras, Om Haryo, Awan, Juan, dan Lutfi.
Om Haryo adalah adik dari istri Om Pras. Beliau memiliki dua anak lelaki yaitu Juan 21 tahun dan Lutfi 15 tahun.
Istri Om Pras namanya Winda, adiknya bernama Indah. Setiap akhir pekan Om Haryo memang membawa anak-anaknya ke rumah Bogor. Rumah aslinya di Bekasi daerah Tambun.
Mira tidak tahu harus apa di hadapan mereka berlima usai diseret bocah empat tahun. Tangannya meremas ujung baju, keringat dingin mulai mengalir.
"Ngapain? Udah selesai beberes?" tukas Awan. Siapa lagi yang sensi ada Mira selain dia.
Om Pras lagi-lagi mencubit anaknya. "Jangan gitu."
"Canda, Pah."
Juan yang semula bermain game dan menyumbat telinga pakai earphone langsung dilepas melihat kedatangan Mira.
Lutfi tidak banyak mengobrol dengan Mira lantaran sering dibuat menangis oleh Fani.
"Mira," sapa Om Haryo.
Mira balas, "Iya, Om Haryo."
"Kenapa, Mir?" tanya Om Pras jelas tidak tahu alasan dia turun padahal sudah disuruh istirahat sampai Jefri datang.
"Kayla datang ke kamar lalu membawa Mira ke sini," jelas Fani.
Fani sudah mirip manusia di antara mereka karena bisa lihat Fani semua.
"Iya, kenapa?" tanya Om Pras lagi.
Mira mengangkat bahu tidak tahu. Dia pun enggan menjawab apa yang tidak mau dia katakan pada mereka.
"Bang, si Mira gak beres, Bang."
"Gak beres gimana maksud lu?" Juan heran.
Mereka tambah bingung karena yang membawa dan yang dibawa tidak kunjung menjelaskan.
Begitu sampai di depan ayahnya, Kayla bungkam seribu bahasa. Dia cuma berdiri memandangi Mira dan ayahnya bergantian kemudian saat sampai tatap mata dengan Awan yang sepertinya paham.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu bilang Mira mau dibawa oleh sebab itu kamu membawa manusia penakut ini ke ayahmu," terang Fani.
Kayla menatap temannya. "Kita dilarang memberitahu mereka, Fani."
Sebelum Mira pindah ke Jakarta, Kayla dan Fani memang sudah dekat. Jangan heran bahasa mereka sama.
"Lalu untuk apa kamu membawa Mira bertemu mereka kalau tidak dibolehkan memberitahu, hah?" Fani menatap kaget Mira. "Mira. Ada yang mengikuti kamu?" Dia baru sadar padahal yang pertama mengoceh.
"Siapa yang mau bawa Mira?" tanya Om Pras.
"Kenapa gak boleh bilang? Ada apa?" timpal Om Haryo.
"Bang, Bang. Serem, Bang." Lutfi menyembunyikan wajahnya di balik punggung Juan.
"Lu ngomong yang jelas. Jangan bikin orang tambah bingung!" tukas Juan.
"Cuma ada Fani di sini," kata Om Pras.
"Ada yang lain," kata Kayla dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Lutfi, lu liat yang mereka maksud?" Juan menepuk badan adiknya cukup keras.
Om Haryo mulai serius menanggapi yang awalnya dianggap candaan anak kecil. Beliau menghadap kedua anaknya, terutama Lutfi kemudian menanyakan apa yang dilihat anak bungsunya.
"Lutfi liat apa? Ngomong aja, ada Ayah di sini."
Kayla terisak-isak, lengannya mengusap mata yang berair.
Awan bergegas mengangkat tubuh Kayla dan memeluknya dalam pangkuan.
Mira kasihan lihat Kayla dan Lutfi ketakutan. Dia berdiri saja memandangi kebingungan mereka tanpa ingin duduk membicarakan semua baik-baik.
"Lo tau atau gak tau, Mir? Bilang sekarang deh ketimbang ntar kejadian sesuatu," ujar Awan halus.
Om Pras menekankan. "Kamu doanya yang baik, Wan."
"Biar dia ngomong, Pah. Membisu gitu kita mana tau. Kasian Kayla sama Lutfi jadi takut."
"Fani. Kamu gak liat sesuatu yang lain di sekitar Mira?" tanya Om Pras.
Fani bertanya kepada Mira dengan sorot tidak yakin, "Dia temanmu dari sana?"
"Siapa?" beo Juan.
Fani menarik-narik ujung lengan baju Mira. "Dia terlihat tidak baik. Kenapa bisa masuk rumah?"
Mira menangkis pelan Fani yang rupanya menjaga jarak dari sosok jauh di belakangnya. "Dia gak jahat, cuma usil."
Lutfi menggeleng. "Apanya. Dia nunjuk-nunjuk gue sama Kayla daritadi maksudnya apa? Kok kita doang yang bisa liat? Yang tua-tua udah ahlinya kenapa gak bisa?"
"Hmm." Para ayah yang di dekat Juan mendelik ke arahnya.
Mira memejamkan mata dan mencoba bertanya ke sosok yang dibicarakan mereka.
Fani bersembunyi di balik Om Pras dan Awan. "Tidak adakah hantu yang lebih bagus?" Kesal dia.
"Dia bilang pasti pergi. Kalian tenang?"
Mira santai sekali macam ketakutan saudara-saudaranya tidak menyentuh hatinya.
"Jangan mudah percaya dengan hantu menyeramkan, Mira. Dia pasti tidak pergi sebelum mendapat sesuatu," bisik Fani.
Juan mengeluarkan sebuah wadah persis milik Jefri dari saku celananya kemudian dibuka pelan-pelan.
Mira segera berbalik melihat sosok di belakangnya menjerit kesakitan.
"Jangan! Juan!"
Wadah di tangan Juan seketika jatuh ke lantai hingga pecah begitu Mira memerintahkan dia tidak mengusir hantu itu.
Mereka menatap Juan karena berniat mengunci arwah ke dalam wadah tadi.
Arwah itu mendadak terseret masuk ke raga Mira hingga tubuh Mira nyaris melayang.
Sontak Awan dan Om Haryo menahan tubuh Mira di sisi berbeda.
"Astagfirullah!" pekik Lutfi.
"Mau apa kamu ngikutin anak ini, hah?" gertak Om Haryo.
Hantu tersebut menertawakan keadaan yang dilihatnya menggunakan mata Mira. Melihat ketakutan mereka adalah sumber kebahagiaan jin yang merasuki tubuh manusia.
__ADS_1
Dengan mata putih semua Mira melihat mereka dari kanan ke kiri sembari tersenyum.
"Kita bertemu lagi di sini."