Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Melepaskan Diri dari Raga Mira


__ADS_3

"Keluarga lo keliatan serius banget, Mir. Mereka bahas tentang lo kali," ucap Dewi mengintip dari sela pintu.


"Bintitan mata lo ntar, Dew." Zafran menarik Dewi supaya jadi anak baik di rumah orang.


Dewi akhirnya pasrah mengasuh Kayla main masak-masakan.


Zafran beruntung si Lutfi main game tidak perlu diawasi.


"Semoga hantunya gak ke sini lagi. Lo jalanin ritual atau apa sih sampe segini parah? Kan gue yang mereka incer dari pertama. Ngapa tiba-tiba pindah ke lo semua yang ngerasuk?"


Dewi yang duduk di lantai menabok kaki Zafran selagi duduk di atas kasur.


"Pertanyaan aneh lo itu gak perlu dijawab. Sekelas Jefri, keluarganya Mira sendiri sampe rapat di luar, ngapain lo nanya ke dia? Ya mana tau lah!"


Lutfi berada di dalam merasa lebih aman akhirnya buka suara. "Mira udah tau kenapa gak bilang Bang Jefri?"


"Tuh! Tau dia, Dew. Mana mungkin orang yang dirasuki gak tau sosoknya gimana, mau dia apa. Pasti tau!" debat Zafran.


Kayla balas, "Mira pasti takut, Fi."


"Bocil-bocil di sini gak ada yang manggil lo Kak, Mbak, atau Teteh gitu?" Zafran baru dengar anak kecil manggil yang lebih tua tanpa embel-embel.


Bukan hak Mira membeberkan semua yang dia ketahui pada mereka.


Perasaan Mira sekarang cukup lega melepas sosok itu dari energinya.


"Jefri sekarang di mana, Fan?"


Dewi mencari orang yang dipanggil "Fan" sama Mira.


"Bukan orang," sela Zafran menyadari Dewi berlagak bingung.


Zafran sendiri tidak bisa bergerak banyak gara-gara memangku Fani. Si Fani yang ajak main Kayla.


"Dia di kamarnya. Kamu mau aku ke sana?" ujar Fani menawarkan bantuan.


"Gak usah. Jefri pasti tertekan."


Panjang ceritanya. Sebelum nyawanya berbahaya Mira tak tahu ini adalah perbuatan Jefri.


Keluarganya pasti menekan Jefri melepas jin qorin yang dia tahan bertahun-tahun dengan alasan tak diterima.


Cklek'


"Eh?"


Dewi menggeser tubuhnya dari belakang pintu yang dibuka dari luar oleh sepupu Mira.


"Kenapa?" tanya Mira.

__ADS_1


"Fani, lu ngapain?" sewot Juan melihat Fani ketawa-ketiwi di pangkuan orang. "Lu bukannya nolak malah dibiarin. Mau sakit?" lanjutnya menatap Zafran.


Fani merengut sebal. "Kamu laki-laki tapi pemarah!"


"Ya lu banyak orang malah bertingkah!" omelnya.


"Udah ... Kalian berdua bikin pusing temen gue. Kasian dia gak tau apa-apa."


Dewi mengangguk setuju. Cuma dia yang normal di antara mereka.


Juan masuk menutup pintu kamarnya. "Lu yang sering kesurupan di sekolah?"


Zafran hendak jawab, "Iya gu-- "


"Seneng dong ada yang gantiin?" potong Juan.


"Juan," tegur Mira. "Ngomong apaan sih."


Juan menunjuk luar rumah dengan dagunya. "Gak liat di depan banyak yang antre?"


"Ada pembagian sembako, Bang?" Lutfi yang masih polos bergegas ke luar tapi belum ada tiga detik masuk lagi ke kamar dengan raut tegang.


Juan sering tak mampu menahan kalimat sarkasme. Kali ini ada anak kecil yang menyimak.


"Kayla main di luar dulu sama Fani ya."


"Oke."


"Lutfi ke Papa aja, Bang." Lutfi enggan ada dalam obrolan mereka.


Juan mempersilakan.


Baru Juan memegang tangan Mira, dia sudah terisak pilu.


Zafran hampir bangun tapi baru sadar punggungnya mentok tembok.


"Mau sampai kapan terus di tubuhnya?"


Dewi memegang lengan Zafran mencari tumpuan.


Dari suara Juan yang serak dan bergetar sangat mengartikan situasi sekarang yang di luar nalar.


Sosok yang merasuki Mira masih ada di dekatnya dan Juan berusaha bicara intens.


"Mau sampai kapan, Yun.. " Juan yang sebelum masuk terlihat sangat tegar akhirnya meruntuhkan tangis juga.


Mira hanya menangis tak mengatakan apa pun.


"Yun, aku minta maaf gak bisa bantu kamu. Maaf kita berdua gak bisa ketemu malam itu... "

__ADS_1


Zafran akhirnya melihat hantu yang selama ini mengikuti Mira.


"Mereka saling kenal... " lirihnya baru mengerti.


"Siapa?" beo Dewi.


"Nanti."


"Berhenti sampai sini, Yun. Kasian Mira nanggung semua dendam kamu. Bukan salah kamu. Itu udah takdir Allah." Juan makin erat menggenggam tangan Mira.


"Jefri ... Jefri ... Hiks! Hiks.. "


"Jefri gak bermaksud ngurung kamu. Dia gak tega liat Mira sering dirasuki."


"Mira yang buat aku susah naik ke atas... "


Juan tercengang. Apa yang Mira lakukan pada Yuni hingga dia sulit pergi?


Cklek'


"Juan, lagi ngapain?" Datanglah Awan beserta Jefri.


"Aku gak bisa lepas dari tubuhnya, Juan. Dia yang menahan aku."


Seketika Juan terbata-bata. "A-Ap-Apa?"


Jefri mematung ditatap Yuni setelah empat tahun memutuskan melepas gadis itu dari ingatannya.


Yuni turun dari tempat tidur dan langsung memohon di bawah kaki Jefri. Dia mengusap-usap tangannya meminta maaf.


"Maafin aku, Jef. Maaf aku terus ada di sekitar Mira tanpa sepengetahuan kamu. Maaf aku bahayain Mira. Aku ... Aku gak tau dampaknya buat Mira sebahaya ini. Aku mau lepas dari Mira."


Jefri meneguhkan hati untuk kebaikan keluarganya walaupun Yuni pernah ada dalam hatinya. "Mira di mana sekarang? Jangan bawa dia."


Juan pula ikut memohon ke Yuni untuk tidak membawa jiwa Mira ikut bersamanya.


"Balikin Mira, Yun. Kamu pun anggap Mira adik kamu."


Mendadak tangis Yuni makin kencang. "Mereka bilang jangan, Mira. Kamu harus hidup! Aku minta maaf! Aku gak bisa gantiin hidup kamu! Kamu yang harus hidup!"


"Jef! Mira, Jef!" Awan kalang kabut di tengah-tengah mereka.


Zafran tak mengerti di kepalanya tergambar sesuatu yang tak lazim.


Jefri menyentuh punggung Mira sembari berkata, "Keluar dari badan Mira, Yun. Mira bisa pulang. Kamu bisa lepasin sekarang."


Tangisan Yuni perlahan-lahan mengecil dan hilang bersamaan tubuh Mira terkulai lemas.


Pras di tempat solat duduk sila menggulir tasbih mengagungkan nama Allah.

__ADS_1


"Alhamdulillah... "


__ADS_2