Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Peluang Untuk Kembali 99%


__ADS_3

Keadaan semakin hening akibat saling menjaga jarak. Sudah seminggu Awan mengamati mereka bertiga. Sesudah bertengkar bukannya sadar malah tambah kekanakan.


Untuk seorang ekstrovert, ia mau banting semua piring supaya ada suara di rumah.


"Gue gak tahan lagi," lirih Awan seraya menundukkan kepala.


Kini mereka bertiga sedang makan siang.


Uhuk!


Raut kesalnya langsung berubah khawatir mendengar Jefri batuk. Awan gerak cepat ambil segelas air dan menyodorkan padanya.


"Lo sakit?"


Tatapan aneh Jefri saat menerima gelas dari Awan dilihat oleh Mira.


"Mendingan," singkat Jefri membenarkan lagi kurang enak badan.


"Beneran sakit?" Niat Awan basa-basi tadi. Ternyata betul dia sakit. "Liat noh, sodara sakit gak ada yang tau serumah. Kalau sakit harus lapor kita, Jef."


Mira menyendok nasi ke mulutnya.


Awan meneriaki Mira, "Lo masih bisa makan sekarang? Jefri sakit, liat mukanya sepucet adonan mendoan!" Dia menangkup wajah Jefri diperlihatkan ke Mira.


Mira meletakkan sendok lalu menatap kekonyolan mereka dengan respon datar.


"Lepas." Jefri menyingkirkan tangan Awan, mau lanjut makan. "Justru sakit perlu makan."


Awan mengangguk cepat diiringi rasa kasihan. "Makan yang banyak." Dia mendekatkan semua lauk ke piring Jefri.


"Udah gak nafsu makan liat muka lo," cetus Jefri bangun dari kursi.


"Gue khawatir!" teriak Awan.


Mira sengaja meletakkan sendok dengan kasar ke piring. "Khawatir lo berlebihan. Abisin semua makanan sendiri!"


Mira akui Awan pria yang memiliki kepedulian paling tinggi tapi berlebihan pun tidak bagus.


***


Mira menggerutu masuk kamar. Melewati lemari yang ada kacanya ia merasa lihat sesuatu tampak seperti bayangan.


Ia mundur pelan-pelan memastikan penglihatannya benar atau cuma perasaan saja.


"Sanjaya?"


Hari ini setelah dua tahun, Sanjaya menampakkan diri di depan Mira. Bentuknya masih sama, dia sosok yang persis seperti Jefri.

__ADS_1


"Lo ke mana aja baru muncul sekarang?" Yang ada di kepala Mira saat ini hanya senang Sanjaya kembali.


Selama berbaur dengan mereka Sanjaya dianggap sebaya. Entah mengapa aura misterius serta kewibawaannya sangat terasa memenuhi kamar, mirip pertemuan pertama kali.


"Saya datang karena Jefri memanggil. Sesuatu telah terjadi hingga saya harus datang menemui kamu dahulu."


"Di sana perang makanya lo gak balik?"


Bukan asal bertanya, Mira pernah diceritakan Sanjaya bahwa di alamnya pernah berseteru lantaran Sanjaya sering bolak-balik menyeberang ke alam manusia.


"Di sekolah kalian ... Ada yang tidak beres."


"Apa?" Sekolah lagi, apa lagi ini.


Mira berdiri di depan cermin yang ada di kamar, mendengarkan seluruh cerita dari Sanjaya.


Entah harus ke mana tujuan hidupnya, Mira ragu ia bisa melangkah jauh setelah ini.


"Lo baru bilang setelah dua tahun?"


Wajah Mira memelas. Ia kira setelah Mirza meninggal, usai sudah tragedi mematikan yang terjadi.


"Saya bisa datang karena Jefri. Terlepas dari Juan yang memanggil saya. Saya tidak tahu selama ini energi saya terkuras oleh Mirza. Begitu penjelasan Haryo."


"Gue belum paham. Gimana maksudnya?"


"Bukannya lo terhubung sama Jefri?"


"Tidak. Kami mempunyai pusaran masing-masing, tetapi ..."


"Tapi apa? Kepala gue mau pecah denger penjelasan lo, Sanjaya!"


"Sepertinya kemampuan Jefri ikut melemah karena kondisinya tidak stabil." Sanjaya memilih opsi lain. "Saya harus tetap bersama kalian."


"Om Pras bilang lo harus balik, Sanjaya. Gimana ceritanya tetap di sini? Lo takut gue celaka atau- "


"Saya tidak mengkhawatirkan kamu." Sanjaya bersungguh-sungguh. "Energi Jefri harus kembali. Jika tidak, akan banyak entitas yang mendekati kamu berupaya menyerang dia. Kamu mau itu terjadi?"


"Karena gue penghubungnya?" Mira tarik napas panjang dan buang perlahan. "Gini, omongin sama Jefri sekarang. Gak deh, bawa Awan juga. Lo ngomong sama mereka."


"Saya tidak bisa- "


"Gue gak ngerti bahasa lo! Susah dipahami!"


Mengapa pula energi Jefri dibilang melemah?


Memang dia habis melakukan apa sampai kehabisan energi?

__ADS_1


Kegiatannya habis nongkrong cuma tidur-tiduran menyetel lagu galau di kamar atau ngopi di teras rumah.


"Rasa bersalahnya lebih mendominasi. Kamu belum bicara dengan Jefri hampir dua tahun."


Glegarr!


Mira bahkan dengar suara geluduk di siang bolong.


Waktu cepat berlalu. Mereka sadar mengasingkan diri. Mira hanya merespon Awan. Waktu mereka bahkan lebih sedikit.


Sanjaya memandang Mira bengong. "Mira, kamu seakan-akan menghilang dari dunia mereka. Jangan seperti itu. Kembalilah."


Mira tercengang. "Apa yang terjadi kalau energi Jefri melemah? Dia bakal mati kayak Mirza?" Raut mukanya panik.


"Siapa yang bakal mati, hah?"


Jefri diam-diam menguping pembicaraan mereka sebab Sanjaya mendatangi rumah.


"Lo ..." Jefri menatap tajam Sanjaya. "Doain gue mati. Lo disuruh balik sama Om Haryo, kan? Pulang lagi sana!"


Sanjaya mencari alasan harus tetap bertahan. "Saya ada urusan penting. Beri waktu tiga bulan untuk menyelesaikannya, saya berjanji langsung pulang."


"Tiga bulan?" Mira menghitung jari.


"Urusan apa?" tanya Jefri. "Lo juga. Jangan panggil dia ke sini lagi."


"Lah napa jadi gue yang salah? Dia yang datengin gue!" Mira sewot ke Jefri. "Ngomong gak jelas pula. Ngang-ngong gue gak paham bahasa lo!" Sewot juga ke Sanjaya.


Awan lagi cuci piring langsung melempar spons kuning yang lagi digunakan. "Ribut lagi, ribut lagi! Ah, kapan lo berdua akur?! Abis makan gue yang selalu cuci piring!"


"Mengapa menyalahkan saya? Saya memberi kamu informasi akurat!" teriak Sanjaya.


"Jangan teriak di depan Mira!" balas Jefri teriak.


"Ada orang mencurigakan di sekitar kalian. Apa tidak ada yang menyadari?" kata Sanjaya berubah serius.


"Lo yang lebih mencurigakan deketin Mira melulu," omel Jefri. Jika dia manusia pasti sudah baku hantam.


"Percaya padaku!" Sanjaya membentak mereka. "Lihat dari sudut pandangku."


Srett!


Segala sesuatu yang Sanjaya lihat di rumah Mirza sejak hari pertama datang hingga Mirza meninggal terekam bak video dalam kamera.


Mulai dari sana ... Jefri dan Mira curiga dengan seseorang.


Orang itu membuat tragedi dan berpura-pura menjadi pahlawan yang membantu mereka.

__ADS_1


Dia adalah ...


__ADS_2