
Surya berjalan di sebelah Irlan sambil memegang ponsel.
"Coba telepon mereka," ucap Irlan.
"Oke."
Situasi sekolah siang hari sudah mencekam karena detik-detik Zafran kesurupan. Biang kesurupan ada di luar negeri sekarang, tapi mereka justru datang pas di waktu para jin berkeliaran. Malam hari.
Terlalu fokus mengetik nama Jefri di kolom pencarian kontak, Surya tidak perhatikan jalan sampai menabrak tiang.
Dugh!
Irlan geleng-geleng kepala. "Liat jalan juga."
"Hape gue lowbat!" Surya menggoyangkan handphone-nya berharap masih bisa buat telepon. "Yah modar. Padahal pagi tadi batere gue full."
Dibanding picingan mata Irlan, tangannya lebih gatal mau nampol Surya.
"Jauh banget, Sur. Pagi full, malem low lah!"
"Bajingan, mereka ke gedung mana sih gak keliatan?"
Irlan sempat berhenti dan melihat Surya, niatnya mau beritahu ide. Lupakan soal idenya, Surya pasti menolak berpencar.
"Hape gue di jok motor."
"Babi. Terus kita gelap-gelapan jalan cari para kutu kupret?"
"Berusaha aja. Lo gak berencana kabur kan kalau ada yang nampakin wujud?"
"Asal lo gak takut." Surya mengaitkan lengannya ke lengan Irlan.
"Gue ada pesan yang belum diterusin ke Jefri. Kalau hape gue nyala gak bakal susah cari mereka. Surya, lo tau dari siapa pesan kertas itu?"
"Gak sempet mikir. Lo kira siapa yang dateng ke butik naruh pesan horor gitu?"
"Selain kita."
"Selain kita?" Siapa lagi yang tahu hal mistis? Surya tidak punya kenalan indigo. Circle-nya lebih suka main game ketimbang main dengan hantu.
__ADS_1
"Apa kertasnya jalan sendiri?"
"Kebalik otak lo."
Irlan meminta kertas itu lagi untuk ditelaah. "Coba gue liat sekali lagi."
Entah untuk apa dua kali baca, Surya berikan saja.
"Lah ke sana ke arah kelas lo, bege. Tempat keramat itu." Bisa tidak putar balik saja? Pulang sekalian gak jadi cari Mira dan kawan-kawan. Mereka punya Juan, Jefri, dan Awan. Surya tidak punya siapa-siapa.
Yang ada jika ditampakkan wujud kunti atau genderuwo mereka terbirit-birit tidak sempat baca doa.
"Ini kayak tulisan Putri. Gue pernah liat karya ilmiah di mading, udah lama sih, tapi masih sama."
"Ah yakin ...?" Nadanya meledek.
"Terserah."
"Ingatan lo cukup bagus."
"Jiwa yang tertahan gak bisa pergi. Di otak gue gak ada kecurigaan jiwa siapa yang dimaksud."
"Menurut lo kenapa si Mirza ngumpetin kertas tulisannya kasus bunuh diri di atap sekolah selain ada kejanggalan? Masalahnya yang kita tau dari kasus itu ya murni kesurupan, sebelum tau si Roni sialan itu pimpinan sekte."
"Hah, siapa?"
"Johan, Hadi, Indri."
"Woi! Kenapa disebut semua!" Surya mau teriak takut didengar satpam di depan. Dia menutup mulut Irlan yang ceplas-ceplos.
"Menurut gue kematian Mirza gak beres. Juan bahkan masuk sekolah ini demi cari info. Gimana? Lo masih kuat naik ke rooftop?"
"Sekarang?"
"Kali aja mereka di atas."
"Gue merinding anjir. Kita gak bisa nunggu di bawah?"
"Gue gak tenang cuma nunggu."
__ADS_1
Di sebelah tangga naik ada toilet guru. Dari dalam sana muncul seorang perempuan yang tidak disangka Irlan dan Surya. Pas dia menyorot senter handphone, mereka menjerit bersama. Irlan takut ketahuan segera membungkukkan kepala Surya, Mira, dan Dewi.
"Diem. Jangan berisik!"
Dewi menoyor Surya. "Goblok ngagetin aja!"
"Muka lo serem goblok!"
"Lo tiba-tiba di sini, gelap lagi! Senter hape lo mana?!" omel Dewi.
"Hape gue sama dia lowbat."
Mira menyerahkan ponselnya. "Bawa."
Surya tersenyum disponsori. "Makasih."
"Jefri, Juan, sama Awan ke mana?" tanya Irlan masih berjongkok di dekat tangga.
"Jefri bilang energi di rooftop berbenturan, jadi mereka cek ke sana. Gue kebelet pipis, minta anterin Dewi deh."
"Rooftop?" Irlan langsung teringat tulisan di kertas.
"Ayo samperin mereka." Surya mau berdiri tapi telinganya mendadak sakit dan berdenging disusul mereka bertiga. "Kuping gue kenapa nih!"
Irlan melihat lorong kanan dan kirinya perlahan tertutup kabut hitam.
"Gue takut. Mending ke rooftop juga deh .." Dewi menarik-narik baju Surya.
Mira mengangguk. "Ayo."
Mereka berempat sepakat bangun untuk naik ke lantai teratas. Tetapi suara-suara lirih muncul bergantian mengguncang hati mereka.
"Tolong kita ..."
"Gue gak bisa ke mana-mana .."
"Mira, keluarin gue dari sini."
Mira tahu suara mereka. "Yang panggil nama gue barusan Johan."
__ADS_1
"Heh?"
Suara Johan, Hadi, dan Indri kembali mendatangi mereka sama-sama meminta pertolongan. Bukankah mereka telah disemayamkan dengan layak? Mengapa mereka baru memberi tanda setelah waktu berlalu begitu lama? Apa yang sebenarnya mereka alami?